
Aldi bergegas pulang selesai meeting. Ia mengendari sendiri mobilnya. Adrian sudah di rumah Aldi bersama Mitha dan Rio. Adrian meminta Yaya membuatkan minuman hangat untuk Mitha.
Mitha terlihat pucat dan gemetar. Traumanya saat mengalami pemerkosaan dulu muncul kembali. Adrian mengajaknya ke halaman belakang, duduk di bangku taman dan mencoba menenangkan Mitha. Pak Han membawakan Mitha segelas minuman herbal.
Pak Han diam-diam menatap kecemasan di wajah Adrian.
"Tenanglah bu Mitha, aku disni" kata Adrian lembut. Mita menggenggam tangan Adrian sambil gemetar. Adrian meraih gelas minuman dan memberikannya pada Mitha.
Mitha menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. "Adrian dia tidak akan mengikutiku dan Rio bukan? aku sangat takut"
"Kupastikan kalian berdua aman. Aku akan menjaga kalian" kata Adrian menenangkan. Pak Han berbalik dan berjalan kembali ke dapur. ia terdiam dan menganalisa pemandangan yang baru saja di lihatnya. Ucapan Adrian yang akan menjaga Mitha membuatnya paham perasaan putranya terhadap wanita itu.
"Pak Han dimana Mitha?" tanya Aldi yang baru saja tiba.
"Di halaman belakang pak, Adrian sedang menenangkannya"
Ada perubahan mimik wajah Aldi ketika mendengar perkataan pak Han. Ia terlihat kurang senang. Aldi segera menyusul ke halaman belakang. Ia mengamati Adrian yang sedang menenangkan Mitha.
"Mitha" suara Aldi mengejutkan Adrian dan ia segera berdiri dari duduknya dan mengambil jarak dengan Mitha.
"Kau tidak apa-apa? kenapa ini bisa terjadi?"
"Maaf kak, aku lalai menjaga Rio"
"Adrian berikan anak buahmu yang terbaik untuk mengawal Mitha dan Rio kemanapun mereka pergi"
"Baik pak"
"Kenapa bukan Adrian kak?"
"Kau jangan sembarangan Mitha! kau tahu siapa Adrian? dia asisten pribadiku. Dia yang memegang kendali untuk keamanan dan kelancaran perusahaan!"
__ADS_1
"Adrian aku ingin bicara dengan mu"
Adrian mengikuti langkah Aldi menuju ruang kerjanya di rumah.
"Pastikan jika Kevin tidak bisa lagi mendekati Rio. Buat perhitungan dengannya"
"Baik pak"
"Dan untuk Mitha besok buatkan dia jadwal konsultasi dengan dokter Sari. Aku tidak ingin masalah ini membuatnya kembali depresi"
Adrian mengangguk paham. Aldi berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruang kerjanya. Claries berdiri di depan pintu ruang kerja Aldi.
"Sayang ada apa ini?" tanya Claries cemas.
"Tidak ada. hanya masalah kecil, kau lupa sesuatu?" Aldi menatap wajah Claries.
Claries segera memberikan kecupan di bibir Aldi. Aldi membalas kecupan itu menjadi ******* di bibir Claries.
"Adrian besok malam ajak kekasihmu untuk makan malam bersama kami, aku mengundang mu"
"Makan malam pak?"
"Kenapa? apa kekasihmu itu tidak nyata?"
"Baik pak"
"Jangan terlambat pukul delapan tepat. Aku dan Claries akan menunggu kalian"
"Baik pak"
Aldi memeluk pinggang istrinya dan berjalan menuju kamarnya. Aldi melepas jas dan dasinya. Ia merebahkan diri di sofa dan seperti biasa ia menarik tubuh Claries untuk berbaring di atas tubuhnya.
__ADS_1
"Bagaiman hari ini?" tanya Aldi.
"Lancar sayang, oh ya tante Adelia mengundang kita makan malam jika kau ada waktu"
"Tentu saja, biar Adrian melihat jadwalku dulu"
Claries mencubit hidung mancung Aldi.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Hmmm"
"Bagaimana dengan Liza sekarang?"
Aldi memejamkan matanya, sebelah tanganya mengusap rambut ikal Claries.
"Entahlah yang jelas ia tidak mengganggumu lagi" kata Aldi.
"Apa dia juga tidak mengganggumu sayang?"
Aldi membuka matanya dan mencubit balik hidung Claries dengan gemas. Ia membalikan tubuh Claries dan menindihnya.
"Kau cemburu berat?" tanya Aldi menggoda.
"Tidak sama sekali!"
"Hey dokter kenapa kau gengsi mengakuinya? katakan kau cemburu dan kau sangat mencintaiku?"
"Perintah macam apa itu?! tidak mau!"
"Kalau begitu kau terima akibatnya" Aldi memulai aksinya di sofa.
__ADS_1
Kali ini Adrian tidak melihat kejadian itu karena ia sudah pulang ke apartemennya sekalian mengantarkan Mitha dan Rio pulang.