CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 27 Berbagi Cinta 1


__ADS_3

Claries mendapat telepon dari suster yang merawat Liza. Ia bilang Liza mulai menggerakan jemarinya. Claries tertegun untuk sesaat ia tidak bisa berpikir jernih entah ia harus bahagia atau sedih. Karena bisa dipastikan ketika Liza sembuh semua tidak akan lagi sama.


Claries terlanjur memberikan cinta dan dirinya pada Aldi. Pria yang sekarang tertidur manis di sampingnya. Mata Claries mulai berkaca-kaca. Ia tidak siap denga kenyataan ini. Tapi ia juga tidak boleh egois karena Liza adalah istri pertama Aldi.


Claries tidak dapat memejamkan matanya semalaman. Ia memuaskan matanya menatap wajah tampan disampingnya.


Paginya Claries dan Aldi segera pulang ke rumah. Aldi terlihat bimbang, ia senang akhirnya Liza akan sembuh tapi ia juga tidak ingin kehilangan Claries.


Claries memeriksa kondisi Liza. Liza sudah bisa membuka mata dan tersenyum saat melihat Aldi.


Aldi mendekat dan menyentuh tangan Liza. Tapi matanya mengisyaratkan berbeda. Hatinya memikirkan Claries.


"Aku ingin bicara" kata Claries sambil menatap Aldi. Keduanya pergi ke ruang kerja Aldi.


"Sayang ...." Aldi memeluk Claries dengan erat. Lama Claries terdiam dalam pelukan Aldi tanpa bisa berkata-kata.


"Liza kemungkinan besar akan mulai kembali pulih dalam benerapa minggu. Ia akan rutin untuk terapi bicara dan berjalan. Demi kebaikannya jangan membebani pikirannya dengan hal-hal berat. Termasuk pernikahan kita"


Aldi menatap mata coklat Claries. Ada kesedihan disana dan Aldi juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Aku akan bicara tentang pernikahan kita pada Liza"


"Jiaka kau melakukan itu aku akan marah besar padamu dan tidak aka mau bertemu denganmu Aldi. Kau tahu selama ini aku berusaha merawatnya dengan baik. Berharap ia segera bangkit dan aku bisa terbebas dari tuduhan orang-orang tentang membuatnya sengaja koma"


"Clair! aku tidak ingin lagi mendengarmu bicara masalah itu"


"Kenapa? Oh ya apa kau punya keberanian mengakui pernikahan kita di depan Liza sementara pengakuan itu bahkan bisa langsung membunuhnya dibanding pisau yang melukainya dan membuatnya koma"


"Clair ...sayang..." Aldi tak gentar ia ingin mempertahankan Claries. tapi ia tahu Claries tidak sekedar mengancam. Jika dirinya mengakui pernikahannya dengan Claries dihadapan Liza pasti Claries akan meninggalkannya.


"Lalu apa mau mu?"


Aldi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Baiklah jika itu maumu. Aku menurutimu karena aku tidak ingin kehilangan kau dokter"


Claries keluar dari ruang kerja Aldi dan berjalan menuju kamarnya. Hatinya hancur, dikamarnya ia menangis.


***

__ADS_1


Liona dan keluarganya menjamu Fani makan malam sederhana dengan meja lesehan dan menu makanan tradisional yang dimasak ibu Liona.


"Ibu memasak banyak sekali?" Liona menatap jajaran makanan di meja makan lesehan di ruang tengah rumah sederhananya.


"Tentu saja, pak Fani ayo di coba semua makanannya. Ibu sengaja memasak banyak untuk atasan Liona yang baik hatinya"


"Ibu panggil saya Fani saja"


"Ibu nggak berani, bagaimana kalau nak Fani saja"


"Setuju"


Semua terlihat bahagia duduk bersila mengitari meja makan dari kayu yang penuh masakan ibu Liona. Ibu tak hentinya mengambilkan lauk ke piring Fani. Khusus untuk Fani ibu menyiapkan sendok dan garpu karena pasti Fani terbiasa makan dengan benda itu.


Fani melepas jasnya, mengendorkan dasi dan menggulung lengan kemejanya hingga sesiku. Fani menikmati makan malam dan bersendau gurau dengan keluarga Liona. Diam-diam ia merindukan keluarganya. Merindukan papa, mamanya dan Claries adiknya yang sekarang sudah sibuk dengan urusannya. Dulu mereka selalu makan bersama.


Liona memperhatikan raut wajah Fani yang berubah. Sepanjang makan malam Liona lebih banyak memeperhatikan Fani yang bercengkrama dengan anggota keluarganya. Ia tidak menyangka bosnya yang selama ini dingin bisa terlihat hangat ketika berkumpul dengan orang asing yang baru ditemui seperti keluarganya.


Selesai makan malam Liona ingin tetap mengemudikan mobil Fani. Tapi Fani menolak dan meminta kunci mobil.

__ADS_1


"Istirahatlah dan nikmati waktu dengan keluargamu. Malam ini biar aku pulang sendiri" kata Fani lalu berpamitan dengan keluarga Liona.


__ADS_2