
Mitha menangis histeris mendapati Rio terluka parah. Rio di keroyok kakak kelasnya hingga babak belur. Aldi berlari sambil menggendong Rio dari sekolahnya menuju rumah sakit terdekat. Siang itu jalanan macet jadi mobil Aldi tidak mungkin bisa bergerak karena terjebak di tengah kemacetan.
Mitha menangis sambil pontang panting mengikuti Aldi. Kepala Rio berdarah karena dipukul dengan pecahan botol minuman soda.
"Suster! dokter tolong!" Aldi berteriak panik. sebelah tangannya menutup luka Rio agar darah tidak mengucur banyak.
Dokter Adelia selaku dokter spesialis anak yang sedang bertugas segera memeriksa kondisi Rio. Rio di larika ke IGD untuk penanganan lebih lanjut. Kebetulan rumah sakit itu adalah rumah sakit tempat Claries bekerja.
Claries berlari karena ia di beritahu jika ada kegaduhan di loby. Dan ternyata itu adalah suami dan adik iparnya. Claries menatap stelan kemeja putih dan jas Aldi yang berlumuran darah. Sementara Mita terlihat menangis di pelukan kakaknya.
"Sayang apa yang terjadi?" tanya Claries mendekati Aldi dan Mitha.
"Clair tolong Rio, dia terluka parah di bagian kepala" kata Aldi panik. Claries memeluk Aldi dan menenangkannya.
"Kita tunggu hasil pemeriksaan dari dokter, Rio sedang di tangani. Percayalah dokter Adelia adalah yang terbaik"
Aldi mengangguk sambil merangkul Mitha. Aldi meraih ponselnya dan menelpon Adrian. Adrian sedang di perjalanan dari luar kota. Adrian mewakili Aldi meeting bersama para koleganya di luar kota.
"Sayang kalian pulang dulu, biar aku disini menjaga Rio" kata Claries. Aldi menurut dia mengantar Mitha pulang ke rumahnya dan sekalian berganti pakaian. Pak Han dan Yaya membantu menenangkan Mitha. Sementara Aldi segera kembali ke rumah sakit setelah berganti baju.
Adrian yang baru sampai di rumah Aldi segera keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Dimana Mitha?" tanya Adrian pada Yaya.
"Mbak Mitha di taman belakang mas, sedang di temani pak Han"
Adrian sudah mendengar cerita perihal Rio dari Aldi melalui telpon. Aldi meminta Adrian melihat kondisi Mitha jangan sampai Mitha depresi karena kejadian itu.
Adrian berjalan pelan mendekat ke arah Mitha yang terduduk diam dan wajahnya pucat. Adrian memandang pak Han. Mitha menoleh begitu menyadari kedatangan Adrian. Ia segera berdiri dari duduknya dan memeluk Adrian dengan kuat. Kedua tangannya mencengkram jas Adrian.
"Adrian.......bagaimana ini?" Mitha kembali menangis bingung. Adrian menenangkan Mitha dan kembali mengajaknya duduk. Pak Han mengamati keduanya dari kejauhan.
"Tenanglah Mitha, Rio adalah anak yang hebat dan kuat aku yakin dia akan baik-baik saja"
"Benarkah?"
Mitha menatap Adrian dan bersandar di bahu pria itu. Adrian mengusap lembut rambut Mitha.
"Kau tahu dulu sewaktu aku masih di jalanan aku juga sering berkelahi dengan anak-anak jalanan lainnya. Mereka memukuliku dan aku baik-baik saja malah menjadi semakin kuat"
Mitha tersenyum, ia mengusap air matanya.
"Sekarang minum obat ini" Adrian memberikan dua butir obat yang di berikan oleh dokter Sari apabila Mitha sedang dalam kondisi panik. Mitha meminum obatnya, tak berapa lama ia tertidur bersandar di bahu Adrian.
__ADS_1
Adrian mengangkat tubuh Mitha dan akan membawanya menuju kamar. Pak Han berdiri di dekat pintu. Adrian memandang ayahnya sedikit kaku, tapi ia langsung membawa Mitha masuk ke kamar yang ada di lantai utama.
"Ayah aku akan ke rumah sakit melihat kondisi Rio"
"Adrian..." Pak Han mrmanggil putranya sebelum berjalan menjauh.
"Apa kau masih ingat janjimu pada pak Aldi?" maksud pak Han adalah janji Adrian untuk tidak jatuh cinta pada Mitha. Karena pak Han merasa putranya itu sudah mengingkari janjinya secara diam-diam.
Adrian terdiam sejenak, lalu menatap pak Han.
"Ayah jangan cemas, aku ingat janjiku pada pak Aldi"
***
"Cari tahu siapa dalang di balik perkelahian anak-anak ini. bereskan segera" kata Aldi dengan tegas.
"Baik pak" Adrian melangkah pergi untuk menyelesaikan masalah itu. Seperti biasa semua urusan harus beres di tangannya.
Adrian mendatangi anak-anak yang beranjak remaja itu. Ia melihat postur badan anak-anak itu yang lebih besar dari Rio.
"Apa kalian suka main bola?" tanya adrian sambil melemparkan bola sepak ke arah salah seorang anak itu.
__ADS_1
Mereka ketakutan melihat Adrian melepas jas dan menggulung lengan kemejanya. Mereka berlari tunggang langgang dan berpencar. Adrian tersenyum tapi sorot matanya tetap tajam.
"Cari tahu siapa orang tua mereka dan bawa kehadapanku sekarang juga!" katanya pelan tapi tegas. Anak buah Adrian segera berpencar untuk mencari tahu asal usul anak-anak yang mengeroyok Rio hingga babak belur.