
Claries sedang berada di rumah sakit. Ia tidak sengaja bertemu Dion saat Dion berkunjung ke Medina Hospital. Dion adalah anak dokter Luna yang usianya hanya terpaut dua tahun dari Claries.
Dion pria yang tampan ia mewarisi darah campuran dari sang ayah. Ia sudah menjadi seorang dokter spesialis bedah jantung sekarang.
"Clair..." sapa Dion.
"Hai dokter Dion kau disini?" Claries terlihat senang bertemu Dion.
"Kau ada waktu? bagaimana kalau kita makan siang di dekat sini"
"Baiklah, aku ingin berkunjung ke rumahmu tapi aku belum sempat"
"Haha ayo kita jalan" Dion merangkul bahu Claries. Keduanya memang akrab sejak kecil.
Claries dan Dion makan siang di rumah makan tak jauh dari rumah sakit. Dion terlihat banyak bercerita tentang pekerjaan sedang Claries mendengarkan sambil berbagi ilmu.
"Oh ya aku dengar dari kak Fani kau sudah pindah ke apartemen baru?"
"Ya sekarang aku di apartemenku sendiri" wajah Claries terlihat sedih.
"Bagaimana dengan Aldi? maaf bukan aku mau ikut campur tapi aku hanya peduli denganmu Clair. Tapi jika kau tidak berkenan bercerita tidak masalah"
"Ah tidak apa-apa kau teman baikku, Aldi masih di rumahnya dengan istri pertamanya. Dan istrinya sudah pulih dari koma"
"Apa ia meninggalkan mu?"
"Tidak, aku yang ingin pergi darinya"
"Maaf apa kalian akan berpisah?"
"Ku rasa begitu......"
Sementara Aldi terlihat gelisah di ruang kerjanya. Ia baru saja mendapat laporan dari Adrian jika Claries sedang makan siang dengan dokter Dion.
__ADS_1
"Kenapa pria muda itu bisa dekat dengan Claries?"
"Dokter Dion adalah anak dari dokter Luna sahabat baik orang tua dokter Claries pak"
"Seperti apa dia?" Aldi meminta ponsel Adrian yang menampakan foto Claries sedang makan siang bersama Dion.
Sial! dia cukup tampan. Muda dan dia juga seorang dokter!.
"Apa mereka berteman?"
"Saya rasa begitu pak"
"Bisakah ku dengar apa yang mereka bicarakan?"
"Maaf pak tidak bisa"
"Kenapa orangmu tidak merekam pembicaraan mereka?!"
"Maaf pak"
"Setiap jam pak?"
"Kenapa? apa kau tidak sanggup?"
"Sanggup pak"
"Bagus kau harus bisa ku andalkan Adrian. Saya akan memberimu gaji lebih bulan ini"
"Baik terimakasih pak"
Ponsel Adrian berbunyi nama My Rose tertera di layar ponselnya. kebetulan ponsel Adrian masih di pegang Aldi.
"My Rose?" tanya Aldi heran. Ia tidak menyangka jika Adrian memiliki kekasih. Adrian buru-buru meminta ponselnya dari tangan aldi. Aldi sempat menatap nomor ponsel si My Rose itu, ia seperti tidak asing dengan nomor itu.
__ADS_1
"Maaf pak saya izin mengangkat telpon dulu"
"Hmmm"
Adrian melangkah keluar ruangan Aldi dan kembali ke ruang kerjanya. Ia memastikan Aldi tidak sedang melihat atau menguping pembicaraannya dengan My Rose.
"Halo"
"Halo Adrian ini Mitha"
"Iya saya tahu bu Mitha ada apa?"
"Bisakah kau kemari? aku ingin bertemu denganmu"
"Baiklah bu Mitha nanti saya akan datang"
"Benar ya?...aku menunggumu Adrian. Bawakan aku makanan yang enak ya"
"Baiklah..."
Aldi muncul membuka pintu ruang kerja Adrian. Adrian buru-buru menutup telepon dan memasukan ponselnya kedalam saku jasnya.
"Sejak kapan kau punya kekasih?"
"Baru-baru saja pak"
"Bagus kalau begitu"
Setidaknya aku tidak akan khawatir lagi kau dan adikku saling menyukai.
"Oh ya jadwalkan besok untuk Rio bertemu ibunya"
"Baik pak saya akan mengantar Rio bertemu bu Mitha"
__ADS_1
Wajah Adrian terlihat cerah dan sumringah. Aldi mengira itu karena kekasih baru Adrian yang membuat asistennya itu berbunga-bunga.