CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Tuan Dylan


__ADS_3

Tidak perlu di ragukan lagi, ia jelas tampan dan rupawan. Dylan mewarisi ketampanan ayahnya dan campuran dari ibunya yang cantik. Ia juga memiliki segalanya termasuk harta yang di wariskan keluarga Ibrahim Zaman (kakeknya) padanya.


Sejak memegang tampu kepemimpinan Zaman Group, Dylan mengendalikan semua. Ia merubah semua peraturan yang ada di perusahaan termasuk di yayasan yang mengelola rumah sakit milik keluarganya yaitu Medina Hospital.


Dylan pria yang cerdas dan berpendirian kuat. Ia tidak mudah terhasut apa lagi tertipu. asisten pribadinya yang selalu setia adalah Ryuji.


Berbanding terbalik dengan Amora, ia di besarkan di sebuah panti asuhan. Amora sejak kecil harus bekerja keras mencari beasiswa hingga kuliahnya. Ia pontang-panting bekerja sejak usia muda untuk membiayai kehidupannya dan membantu adik-adik panti.


Saat ini Amora berhasil menjadi seorang dokter anak. Jika anak panti ada yang sakit Amora langsung sigap memeriksa mereka secara cuma-cuma.


Hari itu Dylan ditemani Ryuji mengadakan sidak ke Medina Hosoital. Semua dokter berkumpul di ruang meeting utama rumah sakit. Termasuk dokter Claries yaitu ibu Dylan sendiri.


"Ma ada bawahan mama yang tidak tertib dan berani sekali menemuiku di kantor" Dylan terlihat berbicara dengan dokter Claries.


"Siapa?" Dylan melirik ke arah dokter Amora yang terlihat menunduk. Amora tahu pria itu sedang memandangnya dengan sinis dan sudah pasti mengadukan pada dokter Claries tentang keributan yang ia buat kemarin pagi di kantor pusat Zaman Group.


Dylan pergi ke ruang kerja dokter Claries untuk mengetahui permasalahan apa yang terjadi di rumah sakit sejak peraturan baru ia terapkan disana.

__ADS_1


"Memang ada sedikit permasalahan untuk gaji staff medis junior disini. Sesuai peraturan mereka belum bisa menerima kenaikan gaji jika belum bekerja selama dua tahun disini dan Amora mengusulkan peraturan itu untuk di perbarui"


"Siapa Amora? kenapa dia tidak di pecat saja?!"


"Kita tidak bisa sembarangan main pecat saja Dylan, dokter Amora ia cerdas dan berkompeten"


"Baiklah akan ku pertimbangkan nanti, jika bisa memungkinkan di rubah akan aku rubah ma, tapi jika tidak bisa ya suruh saja dokter itu cari pekerjaan di rumah sakit lain"


Dokter Claries tersenyum, anak lelakinya memang mirip sekali dengan papanya. Bahkan Dylan cenderung lebih kaku dan keras wataknya di banding Aldi Ibrahim, ayahnya.


"Ryuji ..."


"Panggil dokter itu kemari, jangan sampai mama tahu. aku ingin lihat sejauh mana nyalinya"


"Baik tuan"


Dylan memasuki ruang meeting khusus di Medina Hosoital, tidak berapa lama Ryuji datang bersama dokter Amora.

__ADS_1


"Tuan Dylan memanggil saya?"


"Benar, apa tujuanmu?"


"Tujuan apa?"


"Jangan berpura-pura bodoh! jelaskan apa mau mu dengan singkat"


"Bukankah saya sudah menyampaikan semua kemarin pagi di kantor pusat? saya meminta kesejahteraan staff junior di rumah sakit ini"


"Jangan main-main denganku! atau aku bisa membuatmu tidak di terima bekerja di rumah sakit manapun dan kau juga tidak akan bisa membuka praktek sendiri"


"Tapi tuan...."


"Maaf dokter sebaiknya anda tidak membuat keributan lagi. Tuan muda memberikan peraturan berdasarkan data dan analisa. Jika ia mengambil keputusan demikian berarti ada alasan kuat di balik itu. Saya harap anda mengerti. Permisi" Ryuji berjalan cepat mengejar langkah tuannya yang sudah pergi duluan menuju mobil.


"Berani sekali gadis itu! cari tahu siapa dia. Aku ingin tahu detail tentang gadis bernama Amora itu"

__ADS_1


"Baik tuan"


__ADS_2