CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 38 Tempat Baru & Teman Baru


__ADS_3

Claries tiba di bandara kota A. Ia menumpang taxi sampai ke alamat rumah yang sudah Fani belikan untuknya. Claries menatap pemandangan disana yang masih hijau dan asri. Kebun bunga matahari dan juga lahan pertanian yang ia lewati membuatnya merasa terhibur.


Claries membawa buku harian dokter Bianca. Dokter Bianca selalu mencatat dan menulis kegiatannya selama di Kota itu. Sekarang penghuni kota itu pasti generasi ke dua seperti Claries. Orang-orang yang dahulu di jumpai mamanya entah masih ada atau tidak.


Claries turun dari taxi dan membawa kopernya masuk kedalam rumah. Rumah yang kecil tapi sangat nyaman. Fani sengaja memilihkan rumah dengan halaman yang cukup luas agar Claries bisa berkebun di saat libur bekerja.


Claries melihat sepeda yang akan menjadi kendaraannya selama berangkat dan pulang kerja nanti. Jalan menuju rumah sakit itu sulit di lalui mobil karena masih berupa bebatuan dan tidak rata serta jalannya yang sempit. Sarana utama di sana adalah sepeda.


Claries memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar melihat rumah sakit tempatnya bekerja nanti. Ia menaiki sepedanya dengan hati-hati. Beberapa warga yang sedang berada di lahan pertanian mereka terlihat melambaikan tangan pada Claries. Penduduk di kota itu memang terkenal ramah.


Akhirnya Claries sampai di rumah sakit yang ia tuju. ia memandang ke sekeliling bangunan itu. Jika di kota besar mungkin itu lebih mirip puskesmas di banding rumah sakit. Jauh sekali jika di bandingkan dengan tempat kerjanya di Medina Hospital.


"Hai ..." sapa seorang pria dengan kemeja lengan panjang dan terlihat rapi.


"Hai..."

__ADS_1


"Kau baru disini?"


"Benar aku akan berkerja di rumah sakit ini mulai besok jadi aku melihat-lihat dulu jalan menuju kesini agar tidak kesasar"


"Oh bagus, aku dokter Firman senang bertemu dengan......."


"Claries..."


"Senang bertemu denganmu dokter Claries"


Claries tersenyum senang ia mendapat kenalan seorang dokter yang ramah.


"Sampai jumpa" balas Claries sambil memutar sepedanya dan mengayuhnya menjauh dari dokter Firman yang sepertinya baru akan pulang dari rumah sakit itu.


Malam itu Claries tidak bisa tidur, ia menatap ponselnya dan melihat tidak ada pesan atau telepon dari Aldi.

__ADS_1


Claries membuka buku harian dokter Bianca dan membacanya sampai ia kantuk dan tertidur.


***


Sementara di kediaman Aldi terlihat seperti biasa. Kegiatan di pagi hari para pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Pak Han yang memasak sarapan dan Yaya yang memulai bersih-bersih ruangan.


"Adrian turunkan foto itu dan simpan di gudang" Aldi meminta foto pernikahannya dengan Claries di singkirkan.


"Baik pak" Adrian langsung sigap menurunkan bingkai foto berukuran besar itu dan mengangkatnya ke gudang.


"Sebentar mas" Yaya muncul membawa kain berwarna abu-abu.


"Untuk apa kain itu Ya?"


"Untuk menutupi bingkai foto ini mas biar tidak kotor. Siapa tahu nanti di pajang lagi"

__ADS_1


Adrian tersenyum mendengar harapan Yaya itu. Ia sendiri juga berharap demikian. Kalu suatu saat ada kesempatan ia berharap Aldi dan Claries bisa memperbaiki hubungan mereka dan kembali saling mencintai.


Meski selama ini terlihat tidak akur dan sering bertengkar tapi Adrian tahu seberapa besar cinta bosnya pada dokter cantik itu. Begitu pula sebaliknya, Claries yang terlihat dingin dan kaku sebenarnya juga mencintai Aldi dan rela berkorban dengan mau di jadikan istri kedua oleh Aldi sampai menghancurkan kariernya sendiri.


__ADS_2