
Aldi menelpon Fani mengabarkan kalau Claries di bawa ke rumah sakit karena mau melahirkan. Aldi juga menghubungi Adrian yang baru saja pulang dari bulan madu.
Claries terlihat kesakitan, wajahnya pucat. Aldi mengusap dahi Claries yang berkeringat dingin.
"Sayang bagaimana apa sakit sekali?" Aldi sangat cemas dan gugup Di keadaan seperti ini ia ingin sekali merokok untuk menghilangkan rasa cemas dan takutnya.
Claries tersenyum dan menggenggam tangan Aldi. Ia mencoba menenangkan suaminya itu. Tak berapa lama Fani datang disusul Adrian dan Mitha.
"Bagaimana keadaan Claries?" Fani juga terlihat cemas. Ia segera menghampiri Aldi begitu keluar dari ruang perawatan.
"Istriku nampak kesakitan...." jawab Aldi.
Mitha yang mengetahui keadaan kakaknya segera meminta izin untuk melihat Claries.
"Kakak ipar..." Mitha mendekat dan mengusap wajah Claries yang berkeringat.
"Mitha...sakit sekali rasanya"
"Sabar kak, kau pasti kuat. Pikirkan kau akan berjumpa dengan bayimu yang kau kandung selama sembilan bulan"
"Iya...Mitha kau benar"
__ADS_1
"Sudah pembukaan berapa?"
"Enam Mitha"
"Sebentar lagi kak, berjuanglah" Mita mengusap punggung Claries. Mitha menyarankan Claries agar tidur miring ke kiri agar mempercepat pembukaan.
Semakin kesini Claries semakin kesakitan. Aldi tidak tega melihat istrinya. Begitu juga Fani ia bingung dan khawatir dengan Claries.
Dokter segera melihat kondisi Claries, Ia di bawa ke ruang persalinan Vip di lantai dua Medina Hospital. Aldi menemani di dalam dan memegangi tangan Claries.
Ia kembali menyaksikan perjuangan seorang wanita mengantarkan nyawa ke dunia. Claries mengejan sekuat tenaga dan berpegangan pada tangan Aldi dan mitha. Akhirnya terdengar tangis bayi mungil yang membuat semua merasa lega dan bahagia.
Aldi terharu dan meneteskan air matanya ketika dokter menyerahkan bayinya untuk ia dekap. Claries tersenyum penuh kebahagiaan.
"Sama-sama kak, aku juga pernah berada di posisimu, dan aku tahu rasanya" keduanya saling berpelukan.
Menjadi ibu adalah kebahagiaan tak terkira, begitulah yang di rasakan Claries. Fani memeluk Claries lalu memeluk Aldi dan mengucapkan selamat.
Ia menggendong keponakannya yang tampan itu. Aldi memberi nama pada putranya Dylan Ibrahim Zaman.
Semua terlihat bergembira terutama Claries dan Aldi. Mitha mengambil foto keluarga baru itu. Senyum mengembang di wajah Mitha dan adrian yang ikut merasakan kegembiraan menyambut anggota keluarga baru.
__ADS_1
Claries dan Aldi membawa pulang baby Dylan setelah dokter memberi izin. Aldi dan Claries mengurus baby Dylan tanpa bantuan neny atau perawat. Keduanya begadang karena Claries menyusui Dylan. Aldi selalu menjaga istri dan anaknya. Ia ikut terjaga di malam hari.
Keesokan paginya Rio berlari-lari kecil menuju kamar Dylan.
"Papa Rio boleh melihat baby Dylan?"
"Boleh Rio, baby Dylan kan adik Rio juga" Aldi menggendong Rio menuju tempat tidur Dylan. Sementara Claries terlihat tertidur diatas tempat tidur. Ia nampak lelah dan tertidur pulas.
"Papa baby Dylan mungil sekali, ia tampan dan lucu pa"
"Rio sayang sama Dylan?"
"Sayang sekali pa"
"Nanti Rio bantu papa ya jagain Dylan"
"Siap pa, oh ya pa nanti Rio juga punya adik dari mama Mitha dan dady Adrian ya?"
"Iya Rio, nanti Rio adiknya ada dua"
"Asyik jadi kalau bermain seru ya pa"
__ADS_1
Aldi menurunkan Rio dari gendongannya. Ia mendekati Claries dan mengecup pipi istrinya itu. Aldi sangat berterimakasih karena Claries telah melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat tampan utnuknya.