
Claries pulang ke rumah Aldi, ia duduk di taman karena lelah setelah menangani pasiennya. Claries menatap sepeda milik Rio, ia teringat anak itu belum mendapat donor darah. Golongan darahnya cukup langka yaitu AB sedangkan Aldi memiliki golongan darah O.
"Eh bu dokter sudah pulang" Yaya menyuguhkan segelas minuman dingin untuk Claries. "Terimakasih Yaya" Claries meneguk minuman di gelasnya sampai habis.
"Bu dokter bagaimana keadaan mas Rio?"
"Belum menemukan pendonor darah yang sesuai Ya"
"Aduh kasihan sekali mas Rio, sudah mamanya sakit dan papanya nggak jelas" Yaya langsung terlihat panik. Ia menatap Claries yang juga menyimak ucapannya tadi.
Aduh gimana ni kalau bu dokter nanya soal mas Rio.
"Ya maksud dari ucapan kamu tadi apa ya? bukannya Rio itu anak pak Aldi dan bu Liza?"
"Tapi saya juga sering dengar kalau Rio memanggil pak Aldi papa tapi memanggil bu Liza dengan sebutan tante"
"Jadi begini bu dokter tolong jangan bilang pak Aldi kalau saya cerita masalah ini ke bu dokter. Soalnya pak Aldi melarang kami cerita ke siapapun soal ini apa lagi ke mas Rio sendiri"
"Ada apa Ya?"
"Jadi mas Rio itu buka anak pak Aldi tapi anak dari adik perempuan pak Aldi yaitu mbak Mitha"
__ADS_1
"Apa? jadi Rio bukan anak pak Aldi? lalu dimana Mitha sekarang? mungkin dia bisa jadi pendonor darah untuk Rio"
"Mbak Mitha .....di rumah sakit jiwa bu"
Claries terkejut ia tidak tahu harus berkomentar apa.
"Jadi mbak Mitha dulu di perkosa sama seorang pria sampai hamil mas Rio. Lalu ia trauma berat dan mengalami gangguan jiwa. Pas akhirnya mbak Mitha lahiran, pak Aldi mengambil alih mas Rio sebagai anaknya"
Oh Tuhan, pria itu punya sisi baik yang aku tidak pernah menyangkanya. Pantas saja Rio memanggilnya papa tapi memanggil Liza tante. Ia bertanggung jawab atas anak dari adiknya.
"Jadi yang di kurung Aldi di kamar bawah itu adalah Mintha?"
"Benar bu dokter, sesekali pak Aldi membawa mbak Mitha pulang ke rumah tapi kalau kambuh dan tidak bisa mengatasi, mbak Mitha dikirim lagi ke rumah sakit jiwa"
"Bapak Ibrahim Zaman masih sehat dan sering kemari kalau ibu Medina sudah lama tiada"
"Medina? jadi nama rumah sakit itu diambil dari nama ibu pak Aldi?"
"Benar, bu dokter janji jangan bilang ke pak Aldi kalau saya cerita semua ini ke bu dokter"
"Tenang Yaya rahasia tetap aman. Terimakasih kamu sudah memberitahu saya"
__ADS_1
Sorenya Claries pergi ke rumah sakit mengantar makanan untuk Aldi sekaligus melihat kondisi Rio. Claries tiba di salah satu kamar VVIP tempat Rio di rawat. Aldi terlihat lelah dan tertidur di sofa. Kemejanya terlihat kusut karena sedari tadi pagi ia belum pulang meninggalkan rumah sakit. Ia terus menjaga dan berada di sisi Rio.
Claries meletakan makanan di atas meja dengan pelan karena takut membangunkan Aldi. Ia mendekat dan menatap wajah Aldi.
Pria yang kemarin dengan brutal menculiknya, menuduh dirinya yang bukan-bukan dan sangat Claries benci tapi sekarang pria itu menjelma bak malaikat di mata Claries. Ia salut dengan keteguhan Aldi merawat Rio dan menganggapnya seperti anak sendiri.
"Kenapa kau memandangiku?!" Claries terkejut dan panik karena Aldi ternyata tahu ia sedang mencuri pandang saat pria itu tertidur. Claries langsung duduk di kursi dekat ranjang Rio. Sementara Aldi terbangun dan melihat jam tangannya.
"Ada titipan makanan dari pak Han dan Yaya"
Aldi membuka tas berisi kotak makanan. Ia pergi ke kamar mandi membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Setelah itu Aldi makan tanpa memeperdulikan Claries.
Claries bertanya pada perawat tentang donor darah untuk Rio. Ternyata sudah dapat, ada orang yang bersedia mendonor setelah Aldi memasang mengumuman di media sosial.
"Papa?" Rio bersuara mencari keberadaan Aldi. Aldi bergegas meletakan makanannya dan medekati Rio.
"Iya nak papa disini"
Pemandangan yang membuat Claries benar-benar tersentuh dan melupakan jiwa bar-bar Aldi padanya selama ini.
Setelah dua hari di rawat Rio boleh pulang ke rumah. Claries membantu memantau kondisi Rio.
__ADS_1
Semakin hari di rumah itu, ia semakin merasa ada yang aneh dengan dirinya. Entah kenapa ia berdebar ketika melihat Aldi.
Apakah aku jatuh hati padanya?