CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 26 Bahagia


__ADS_3

Claries terlihat sumringah, ia menikmati secangkir latte dan bolu kesukaannya. Ia teringat dokter Luna yang juga menyukai kue bolu. Ia berpiki akan berkunjung ke rumah dokter Luna lusa.


Di kebun belakang bunga-bunga tampak mekar indah. Tukang kebun sengaja merawatnya dengan baik. Yang menyukai bunga-bunga dan tanaman itu sebenarnya adalah Mitha. Sejak Mitha sakit Aldi menyuruh tukang kebun yang mengurus semua tanaman dan jangan sampai ada yang mati atau layu. Aldi berpikir ketika Mitha sembuh mungkin adiknya itu akan menanyakan kebunnya.


Claries tidak pernah menyangka Aldi yang arogan itu punya sisi lembut yang jarang orang ketahui.


***


Fani menikmati makan paginya sementara Liona supirnya sarapan di dapur bersama bi Wasti.


"Liona ini nanti bawa untuk ibu dan bapak kamu ya salam dari bibi" bi Wasti menyerahkan bingkisan berisi kue kering dan rendang kapau yang bi Wasti masak sendiri. Bi Wasti dulu sempat diajari Bianca cara membuat rendang kapau yang enak.


"Makasih banyak ya bi"


"Iya sama-sama"


"Oh ya bi, kalau bu dokter Bianca itu seperti apa bi orangnya?"


"Ibu Bianca orangnya sangat cantik seperti mbak Claries. Keibuan dan pintar memasak. Hatinya juga sangat baik terhadap pasiennya. Bibi sering di minta membungkuskan sekedar buah atau makanan untuk pasiennya"


"Ummm kalau dokter Gavin Hendrawan bi seperti apa?"


"Bapak tampilan fisiknya gagah dan tampan seperti mas Fani. Hidungnya mancung dan matanya kecoklatan. Bapak juga sangat baik dan sabar"


"Sudah besok lanjut lagi, mas Fani lima menit lagi selesai sarapan. Nanti kamu dicari" kata bi Wasti sambil mengamati jam yang terpasang di dinding dapur.


Liona bergegas menuju mobil, memastikan semua beres ketika bosnya akan menumpangi mobil itu.


"Kita langsung ke Zaman Group"


"Baik pak"


"Bagaimana kabar orang tuamu?"


"Eh sudah baikan pak, terimakasih banyak"


"Hmmm" Fani hanya bergumam karena ada telepon masuk. Ia meraih ponselnya dari saku jasnya.

__ADS_1


"Halo...Tiara kau akan pulang?"


Deg! .....Tiara? siapa itu. Liona tetap mencoba fokus mengemudi. Mulutnya tetap terkunci tapi batinnya berkecamuk dengan nama Tiara.


Fani sampai di ruang kerja presdir Zaman Group. Aldi duduk dengan tenang di kursi kerjanya mendengarkan Adrian yang melaporkan hasil kerja mereka kemarin. Setiap pagi Aldi akan bertanya tentang pekerjaan dan hasil kerja satu hari yang sudah di lalui. Sehingga jika terjadi kesalahan bisa segera di perbaiki.


"Pagi" sapa Fani.


Aldi mempersilahkan Fani duduk. Ia terlihat gembira pagi itu. Tidak seperti biasanya ketika bertemu Fani ia akan terlihat ketus.


"Sepertinya kau sedang bahagia?"


"Tentu saja kakak ipar aku bahagia karena berjumpa dengan adikmu"


"Apa Claries merubahmu untuk bisa tersenyum seperti sekarang ini?"


"Duduklah" Aldi tidak menjawab rasa penasaran Fani. Tapi Fani tahu Claries dan pria di depannya itu saling menyukai.


Selesai meeting Fani memberi pesan pribadi pada Aldi. "Jangan menyakiti Claries apapun yang terjadi. Sekalipun istri pertamamu sadarkan diri kau tetap harus bertanggungjawab atas adikku"


"Aku berjanji padamu" kata Aldi mantap.


"Ibu... bosku orang kaya tidak mungkin dia mau makan malam bersama keluarga kita dengan menu sederhana. Sudahlah lupakan saja tidak usah mengundangnya. Aku akan menyampaikan rasa terimakasih ibu dan ayah padanya"


Liona menutup ponselnya dan terkejut mendapati Fani berdiri di belakangnya.


"Ada apa?"


"Tidak ada pak"


Fani mengangguk dan masuk kedalam mobilnya.


"Oh ya kita mampir di toko oleh-oleh XX di depan"


"Baik pak"


Fani mengambil banyak makanan dan memasukannya ke dalam troli belanjaan. Liona mendorongnya dengan susah payah karena troli sudah penuh.

__ADS_1


"Ambil uang ini dan mengantrilah di kasir aku tunggu di mobil"


"Baik pak"


Selesai memborong oleh-oleh Fani mengajak Liona ke butik langganan Claries. Fani turun dari mobil dan mengenakan kacamata hitamnya.


"Ada berapa orang di rumahmu?"


"Lima orang pak"


"Pilihlah baju sesuai anggota keluargamu, aku tunggu di ruang tunggu butik"


"Hah?" Liona terkejut ia tidak tahu apa maksud pertanyaan dan perintah Fani barusan.


"Pak Fani silahkan ada yang bisa kami bantu?" manajer butik menyapa dengan ramah. Seolah ia sudah hafal pelanggan kelas kakapnya.


"Temani dia memilih baju sesuai seleranya"


Manajer langsung memandang Liona. Seolah berpikir betapa beruntungnya supir ini.


Setelah puas belanja di butik, Fani dan Liona kembali ke mobil. Bagasi mobil sudah sesak dengan kantung belanjaan.


"Bukankah rumahmu dekat dari sini?"


"Benar pak sekitar dua puluh menit"


"Kita kerumahmu sekarang"


"Apa?! tapi...tapi pak ..."


"Kenapa? bukankah ibumu mengundangku makan malam nanti?"


Ah rupanya dia dengar sewaktu aku bicara dengan ibu di telpon tadi.


***


Aldi menghampiri Claries di restoran mewah sekaligus mereka menginap untuk berbulan madu di hotel bintang lima milik Zaman Group.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain di kamar itu Liza mulai menggerakan jemarinya.


__ADS_2