
Dylan pergi makan malam bersama Winy di restoran tempat Winy bekerja sebagai kepala chef. Dylan sedikit bisa melonggarkan pikirannya. pekerjaannya membuat penat dan pusing hari itu. Setelah bicara dan menatap wajah Winy itu membuatnya bisa rileks kembali.
"Kau sedang ada masalah?" tanya Winy.
"Pekerjaan menumpuk" kata Dylan sembari meminum wine di gelasnya.
"Apa besok malam kau ada acara? aku akan pergi ke pesta ulang tahun temanku. Jika kau tidak keberatan kau bisa ikut bersamaku" Winy memandang Dylan yang sedang merapikan rambutnya dengan jemari. Terlihat sangat tampan dan bening wajah pria itu.
"Tentu saja kenapa aku keberatan, aku justru senang kau mengajakku"
Sialnya di restoran itu pula ada Jaden yang kebetulan sedang mengajak dokter Amora makan malam. Mereka membicarakan reuni sekolah yang akan di gelar lusa.
Amora sejak tadi memperhatikan Dylan yang tengah menikmati makan malam bersama Winy chef cantik nan elegan itu.
"Kau memandangi apa?" Jaden ikut memandang ke arah sudut ruangan yang ada meja Dylan dan Winy disana.
"Oh ada mereka rupanya, kau mau menyapa mereka?" Jaden sudah bersiap berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu, aku ingin disini saja"
"Ayolah tidak masalah, kita sapa mereka sebentar"
Jaden mengajak Amora berjalan menuju meja Dylan dan Winy. Saat itu Dylan terkejut karena mendapati kedua orang yang tidak di senanginya berada di tempat yang sama dengan dirinya dan Winy. Ia malas basa basi di saat sedang kelelahan seperti sekarang.
__ADS_1
Sial! untuk apa mereka menghampiri kami? apa tidak bisa Jaden dan gadis itu membiarkan aku tenang sebentar saja?!
"Hai kalian disini juga?" sapa Jaden dengan wajah ramah. Winy terlihat senang Jaden mendekatinya tapi ia langsung sedikit cemburu melihat Amora di samping pria yang di sukainya.
"Untuk apa kalian disini? mengikuti kami?!" kata Dylan malas.
"Oh santai saja kami disini juga makan malam membahas reuni sekolah yang akan di gelar lusa. Baiklah kami duluan kalian lanjutkan saja makan malamnya. Ayo Amora"
Jaden mengajak Amora pergi meninggalkan restoran. Sementara Winy menatap cemburu pada kedua orang itu dan Dylan memandang penuh kesal. Ia tahu Winy cemburu pada Amora.
"Kenapa? apa kau cemburu pada gadis kampung itu?" sindir Dylan.
"Kalau aku bilang benar aku cemburu apa kau keberatan?" goda Winy.
Sesampainya di rumah Dylan langsung menuju kamarnya, ia mandi lalu beristirahat. Hari yang cukup penat ditambah malam ini ia bertemu Jaden dan Amora. Kedua orang yang tidak ingin Dylan temui di dalam harinya.
***
Winy berbaring di atas tempat tidurnya dan mencoba menelpon Jaden. Ia memang masih sangat menyukai Jaden tapi ia juga tidak ingin kehilangan Dylan. Baginya Jaden itu pria dengan pemikiran dewasa dan tidak arogan sementara Dylan ia lebih cenderung kekanakan dan arogan.
Jaden mengantarkan Amora pulang ke rumahnya. Keduanya sempat berbicara sebentar sebelum Jaden pulang.
"Jadi kau bekerja di rumah sakit baru milik Dylan?"
__ADS_1
"Benar"
"Aku tidak yakin ia akan bersikap baik padamu"
"Tidak masalah aku sudah terbiasa dengan sikapnya"
"Apa kalian pernah berbicara satu sama lain?"
,"Tidak"
"Tapi kenapa ia bisa kesal sekali jika.bertemu denganmu?"
"Aku tidak tahu, mungkin baginya aku tidak menyenangkan dan mengganggu"
"Hahaha dia bodoh sekali jika berpikir seperti itu. Kau sangat menyenangkan Amora, kau baik dan seorang dokter muda. Aku salut sekali dengan mu"
"Terimakasih, kau berlebihan"
"Baiklah aku pulang dulu, persiapkan dirimu untuk pesta reuni nanti, bye..."
"Bye Jaden hati-hati di jalan"
Jaden pergi dengan mobilnya, sementara Amora masuk kedalam rumahnya. Ia berhasil.emmbeli rumah sederhana setelah bekerja di rumah sakit. Ia membeli rumah yang letaknya tidak jauh dari panti asuhan tempatnya tinggal dulu..
__ADS_1