
Fani berdiri di bandara sejak lima belas menit yang lalu. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis yang di kenalinya. Tapi ia tidak melihat Tiara. Seharusnya Tiara sudah sampai di bandara setelah penerbangan dari Paris.
"Kak Fani...." Seorang gadis cantik tinggi semampai dengan pakaian yang terlihat modis menghampiri Fani, melambaikan tangan dan memanggil namanya.
Fani membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Tiara menghampiri dan memeluknya.
"Aku rindu padamu kak"
"Aku juga, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik"
Sementara di kejauhan Liona memandang kemesraan dua orang itu. Ia sengaja di minta Fani untuk menyetir mobilnya karena Fani sedikit mengantuk tadi.
Wanita itu cantik sekali dan kelihatan akrab dengan pak Fani. Apa mereka menjalin hubungan istimewa.
"Liona....." Fani memanggil-manggil Liona. Mencoba membuyarkan lamunan gadis itu.
"Oh iya maaf pak..."
Liona membukakan pintu mobil untuk Fani dan Tiara. Ia duduk di kursi kemudi dan dengan tenang menjalankan mobil milik Fani.
"Kakak siapa dia?" tanya Tiara.
"Oh ya dia Liona sebenarnya ia sekretarisku tapi ia sengaja kakak ajak untuk menjemputmu tadi karena kakak sedikit mengantuk"
__ADS_1
Liona sesekali memandang Fani dan Tiara yang terlihat saling bercerita di kursi belakang. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Liona yang ia sendiri tidak tahu rasa apa itu.
***
"Bagaimana Adrian apa aku sudah berhasil memperingatkan lawan bisnisku itu?" suara Aldi terdengar dingin dan datar saja. Ia berdiri di balkon kamarnya pagi itu. Aldi sedang menjalankan rutinitas pagi menghirup udara segar di balkon kamarnya sambil memandang taman yang asri di kebun samping rumah.
Tanaman itu di rawat oleh pak Han selama Claries pergi dan tinggal di apartemen. Biasanya Claries dan Mitha yang suka berkebun dan merawat berbagai tanaman itu.
Adrian berdiri di belakang agak jauh dari bosnya. Ia sudah lengkap dengan stelan jas kerjanya dan terlihat tampan sepagi itu.
" Saya sudah mengultimatum pemilik yayasan besar itu pak, namanya pak Indra Biantoro"
" Seperti apa hubungan mereka dengan istriku?"
"Keluarga Biantoro memang seperti orang tua bagi dokter Claries. Keluarga Biantoro ikut andil dalam membiayai sekolah dokter Claries selama ini"
"Benar pak "
"Apa kau dengar apa yang kakak beradik itu bicarakan?"
"Sekilas yang saya dengar, pak Fani Hendrawan meminta dokter Claries untuk pulang ke rumah bapak"
"Cukup kau boleh pergi"
"Baik pak"
__ADS_1
Adrian menuruni anak tangga menuju dapur. Ada Rio yang bersiap berangkat ke sekolah. Pak Han sedang menyiapkan bekal untuk Rio.
"Pagi om Adrian"
"Pagi Rio... anak hebat sudah mau berangkat sekolah ya?"
"Iya om, Rio mau diantar mama"
Adrian mengedarkan pandangannya mencari sosok Mitha.
"Om Adrian kapan kita jalan-jalan ke pantai lagi?"
"Nanti ya kalau Rio sudah libur sekolah kita pergi ke pantai"
"Asyikkk..."
Adrian mengusap kepala Rio dengan sayang. Ia sudah dekat dengan anak itu sejak masih bayi. Ia membantu Aldi mengurus keperluan Rio dan sesekali membantu mengasuh Rio jika Aldi membawanya ke kantor.
"Kau sudah sarapan?" Mitha mendekati Adrian dan mencubit pinggang Adrian. Pria itu meringis kesakitan.
"Hei apa yang kau lakukan ada Rio disini!"
"Aku hanya bertanya kau sudah sarapan sayang...maksudku Adrian?"
"Belum...hati-hati mengantar Rio" Kata Adrian setengan berbisik. Ia segera menjauh dari Mitha sebelum Aldi melihat mereka. Ia tidak enak dengan Aldi yang sekarang moodnya sedang jelek. Bisa saja hubungannya dengan Mitha akan menjadi pelampiasan kekesalan Aldi.
__ADS_1
Adrian melangkah ke dapur. Ia duduk dan menikmati sarapannya di sana sambil ia mengobrol dengan ayahnya.