CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 45 Liburan


__ADS_3

Aldi dan Claries pergi berlibur ke negara Xx selama satu minggu. Adrian sudah mengurus semua dari tempat tinggal, kendaraan dan tempat wisata yang akan di kunjungi Aldi dan Claries.


Keduanya menginap di hotel mewah dengan view pegunungan. Dari jendela kaca yang mengelilingi dinding hotel akan terlihat pemandangan hijau pepohonan.


Aldi melepas bajunya ia ingin berendam air hangat setelah tiba di hotel. Bathub yang disediakan di kamar mandi itu cukup besar dan panjang. Akhirnya Claries ikut berendam dengan Aldi.


Aldi merentangkan tangannya dan menengadah memandang langit-langit kamar mandi. Sementara Claries melihat keluar jendela kaca menatap pemandangan hijau yang menyegarkan mata.


"Kemarilah..." Aldi menarik lengan Claries mendekat padanya.


"Apa? kau mau aku menggosok punggungmu?"


"Hahaha tidak sayang, biar aku pijat bahumu" kata Aldi.


"Baiklah"


Aldi memijat bahu Claries dengan lembut, Claries terlihat senang dan tersenyum menahan tawa.


"Kenapa? apa kau geli?"


"Tidak, aku hanya merasa sangat beruntung bisa di pijat oleh Aldi Ibrahim pengusaha sukses yang angkuh"


"Kau pasti sedang berhayal sesuatu yang lucu tentangku, kalau begitu gantian kau yang memijat bahuku"


Claries mulai gantian memijat bahu Aldi.


"Auhh!" pekik Aldi dan mengusap bahunya. Claries baru saja menggigit bahu Aldi karena gemas.


"Kenapa kau menggigitku sayang itu lumayan sakit" kata Aldi sambil tertawa.


"Apa aku harus menggigit hidungmu sekarang? sebagai balasan kesalahanmu padaku?"

__ADS_1


"Baiklah jika itu bisa menebus kesalahanku, lakukan saja" Aldi memejamkan matanya.


Claries mendekatkan bibirnya tapi Aldi lebih cepat, ia ******* bibir Claries sampai susah bernapas.


"Bernapas sayang, ...katanya kau mau menggigit hidungku?" kata Aldi sambil tersenyum menggoda.


.......


Sore yang cerah Aldi dan Claries jalan-jalan di sekitar hotel. Claries menenteng tas kecil berisi kamera.


"Sayang berdirilah disana aku ingin memotret mu" Claries mengarahkan Aldi untuk berdiri di sebuah spot dengan pemandangan alam yang indah.


Aldi menuruti keinginan Claries ia berdiri dengan canggung karena ia tidak pernah melakukan hal semacam itu.


"Sayang senyumnya mana?" Claries menurunkan kameranya dan terlihat gemas. Aldi langsung memasang senyum pemikatnya yang memabukan wanita.


Claries tertawa puas setelah berhasil membidikkan kameranya dan mendapat beberapa foto Aldi.


Selesai berfoto keduanya menikmati makan malam di restoran mewah milik hotel tempat mereka menginap. Banyak makanan tersaji di meja.


"Makanlah biar kau terlihat gemuk" kata Aldi.


"Kalau aku gemuk apa kau masih suka?"


"Tidak, aku akan mencari yang lain"


Claries melotot dan memasang wajah cemberutnya yang membuat Aldi gemas.


"Hahaha aku hanya bergurau sayang, meski kau gemuk sekalipun aku tetap akan mencintaimu"


"Ah yang benar tuan pengusaha?"

__ADS_1


"Benar, bahkan jika kau gendut karena hamil aku juga akan semakin sayang padamu" Aldi seperti keceplosan sesuatu. Ia meletakan sendoknya dan menatap wajah Claries yang memerah.


"Sayang apa kau mau hamil anakku?" tanya Aldi ragu. Ia khawatir jika Claries adalah gadis modern yang ingin menikmati pernikahan tanpa kehamilan.


"Tentu saja aku mau, aku bahkan sangat ingin"


"Benarkah? kau suka anak laki-laki atau perempuan?" tanya Aldi antusias.


" Aku suka laki-laki maupun perempuan, semua adalah karunia"


Aldi tersenyum puas, ia sangat berharap bisa memiliki keturunan bersama Claries.


***


Adrian duduk di dapur rumah Aldi. Ia sedang berbicara dengan ayahnya yaitu pak Han. Keduanya mengobrol tentang banyak hal termasuk kepulangan Mitha.


"Bagaimana keadaan bu Mitha?" tanya pak Han.


"Baik, terlihat sehat dan lebih segar. Bu Mitha juga banyak bicara dan mengobrol"


"Oh begitu, syukurlah ayah ikut senang. Ayah dengar bu Mitha mau pulang jika kau yang menjemputnya?" Adrian terlihat salah tingkah dengan pertanyaan ayahnya.


"Iya ayah"


"Adrian berhati-hatilah dengan perasaanmu. Karena jika perasaanmu sudah berbicara maka akalmu tidak akan bisa mengendalikannya"


"Apa maksud ayah?"


"Nak...ayah pernah muda seperti mu, ayah tahu kau dan bu Mitha terlihat akrab sejak dulu. Ayah sebagi orang tua merasa cemas jika ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Kita harus bisa menempatkan siapa diri kita dan siapa mereka"


"Ayah jangan cemas, aku mengerti maksud ayah. Aku dan bu Mitha tidak ada apa-apa. Hanya dekat seperti teman saja"

__ADS_1


Pak Han mengangguk tapi ia melihat wajah putranya dan membaca mata anaknya yang menyiratkan hal lain.


__ADS_2