CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 84 RUMIT


__ADS_3

Aldi pergi ke rumah ayahnya, bapak Ibrahim Zaman sedang duduk bersantai memandangi koleksi bonsai miliknya di halaman. Aldi memarkir mobilnya dan bergegas menemui papanya.


"Sepagi ini kau kemari? apa ada yang penting?"


"Pa, Adrian melamar Mitha"


"Lalu dimana masalahnya, papa merestui mereka"


Aldi terdiam, ia mendengarkan kata-kata dari papanya.


"Aldi tidak selamanya kau bisa melindungi Mitha dan Rio. Kau juga memiliki keluarga sendiri bahkan sebentar lagi kalian akan memiliki anak. Jika kau bisa bahagia dengan pasanganmu biarkan adikmu juga merasakan bahagia dengan Adrian. Kau tidak perlu mencemaskan masa depan mereka"


Aldi memikirkan perkataan papanya yang memang benar. Sudah sering ia mempermasalahkan hubungan Adrian dan Mitha. Ia terlalu mencemaskan mereka. Aldi duduk bersama papanya menimati secangkir teh dan memandangi halaman yang asri.


***


Sementara di tempat lain Liona baru saja di wisuda untuk kuliahnya. Liona gelisah karena menunggu Fani yang belum juga tiba. Ia memberikan undangan acara wisudanya pada keluarganya dan juga Fani yang selama ini membantunya.


"Dimana nak Fani? apa masih bekerja?" tanya ibu Liona.

__ADS_1


"Tunggu sebentar bu? Sepertinya pak Fani datang terlambat mungkin ada meeting di kantor"


Liona berjinjit menoleh kanan kiri mencari sosok Fani. Ia takut jika Fani kesasar ke prodi lain dan tidak menemukan dirinya diantara banyak mahasiswa yang akan wisuda.


"Maaf aku terlambat" suara Fani membuat Liona terkejut.


"Nak Fani kami sudah menunggu, ayo kita foto dulu" semua keluarga Liona beserta Fani berfoto bersama. Liona tampak bahagia dan merasa lengkap akhirnya Fani datang di acara wisudanya.


"Nak Fani setelah ini ada acara syukuran kecil-kecilan di rumah. Nak Fani datang ya nanti sore"


"Baik bu saya pasti datang"


"Selamat dokter Liona, akhirnya cita-citamu terlaksana" Fani mengulurkan tangannya memberikan selamat.


"Semua karena bantuan anda juga pak, boleh saya mengucapkan terimakasih pada bapak?" Fani mengerutkan alisnya. Ia bingung bukannya ia sudah mengucapkan selamat dan saling berjabat tangan. Liona memeluknya dengan erat sambil membisikan terimakasih.


Meski terkejut Fani tersenyum dan menepuk bahu Liona. "Jadilah bermanfaat untuk orang banyak..." bisik Fani kentelinga Liona. Tak terasa mata Liona berkaca-kaca.


"Kak...." sebuah suara membuyarkan kemesraan Fani fan liona.

__ADS_1


Liona segera melepaskan dirinya yang memeluk Fani. Di kejauhan Tiara berjalan mendekat.


Tiara? kenapa bisa ada dia? apa tadi dia melihat ku .......


"Hai Liona selamat ya...." Tiara memberi selamat pada Liona. Ia memeluk Liona seperti Fani melakukannya tadi. Seolah Tiara ingin menunjukan bahwa pelukan Fani tadi tidak bermakna sesuatu istimewa. Semua orang bisa melakukannya ketika memberi ucapan selamat.


Liona tampak kecewa rupanya Fani mengajak Tiara dan gadis itu menunggunya di dalam mobil.


"Liona kami pergi dulu ya, nanti sore aku pasti datang"


Liona mengangguk ia tidak bicara apa-apa lagi. Jika nanti sore Fani datang lagi bersama Tiara, ia harus menyiapkan berbagai jawaban untuk ibunya yang pasti akan bertanya-tanya.


Liona kembali ke dalam aula bersama keluarganya. Mereka berfoto sekali lagi tanpa Fani.


"Apa nak Fani sudah pergi?" tanya ibunya.


"Iya sudah bu, ayo kita pulang. Kita harus menyiapkan untuk acara nanti sore"


Liona dan keluarganya pulang ke rumah dengan menumpangi sebuah mobil milik kantor. Fani meminjamkan mobil itu padanya.

__ADS_1


__ADS_2