
Liza menghadap ayah mertuanya Ibrahim Zaman. Pria tua itu duduk tenang di sofa di temani Rio cucunya. Rio tidak dekat dengan Liza, sejak dulu ia kurang menyukai Liza.
"Jadi kau mau aku memindahkan dokter Claries ke pedesaan?"
"Benar ayah, jangan biarkan ia tetap bekerja di Medina Hospital. Aku tidak mau itu terjadi, karena Aldi akan leluasa dalam mendekati dan memperbaiki hubungan mereka"
"Liza kita tidak bisa seenaknya memindahkan seorang dokter ke tempat lain. Apalagi kinerja dokter itu memuaskan".
"Tapi ayah aku tidak mau dokter Claries masih ada di rumah sakit kita"
Ibrahim Zaman sempat mengenang ketika kedua orang tua Liza tiada dan mereka melimpahkan semua harta untuk menyokong Zaman Group di waktu perusahaan itu mengalami masa sulit.
Orang tua Liza menitipkan Liza pada Ibrahim Zaman untuk menikahkannya dengan Aldi. Ayah Aldi itu tahu kalau putranya tidak pernah mencintai Liza tapi ia bersedia menikah dengan Liza demi ayahnya. Dan sekarang Aldi sudah menemukan cintanya yaitu Claries. Tapi masalah jadi rumit karena Liza tidak mau membagi cintanya dengan Claries.
"Liza, akan ayah pikirkan lagi dan bicarakan dengan Aldi"
"Saya rasa ayah tidak perlu berdiskusi dengan Aldi. Ayah masih memegang wewenang penuh atas rumah sakit kita bukan"
"Kau salah Liza, ayah sudah melimpahkan semua wewenang ayah pada Aldi saat kau koma"
"Tapi ayah bisakah ayah bantu Liza"
"Liza waktu Aldi memutuskan menikahi Claries ayah sudah memberinya nasehat. Dan ayah tidak bisa terlalu ikut campur rumah tangga kalian. Ayah harap kalian bertiga bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan baik"
__ADS_1
Liza terlihat kecewa dan semakin kesal dengan Aldi dan Claries.
"Lina cari tahu dimana Claries berada aku ingin bertemu dengannya"
"Baik bu"
Suster Lina mendorong kursi roda Liza menuju mobil.
"Ini nomor ponsel dokter Claries bu"
Liza mencoba mengirim pesan singkat pada Claries.
-dokter Claries-
Saya Liza bisakah kita bertemu dan bicara empat mata? saya sudah tahu semua tentang pernikahan anda dengan suami saya. -Liza-
Aldi menunggu di apartemen Claries. Wajahnya terlihat lelah bahkan ia juga belum bercukur hingga wajah tampannya di tumbuhi bulu-bulu halus. Claries menatapnya dari kejauhan dengan iba.
Claries sendiri juga merasa sedih dan tersiksa. Tapi ia benar-benar ingin keluar dari pernikahannya dengan Aldi. Ia tidak mau disebut pelakor terus menerus. Di gunjingkan diluar sana.
"Clair..." Aldi memeluk Claries dengan erat seolah takut kehilangan.
"Aku merindukanmu Clair"
__ADS_1
"Kenapa kau kemari? bukankah aku sudah bilang kalau semua akan berakhir"
Aldi melepas pelukannya. Ia menatap wajah cantik Claries yang juga terlihat lelah seperti kurang tidur.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun!"
"Bagaimana dengan Liza?"
"Aku akan meninggalkannya"
"Aldi itu bukan sikap seorang pria sejati. Dengan kau meninggalkannya itu tidak akan memperbaiki keadaan malah hanya akan memperburuk semuanya"
"Aku ingin sendiri" Claries membuka pintu apartemennya dan kembali ia menangis di balik pintu.
Adrian menunggu Aldi yang masih terdiam di depan pintu apartemen Claries.
"Sayang aku pergi dulu, jangan lupa makan dan jaga dirimu. Jika ada apa-apa segera hubungi aku jika kau teramat benci padaku kau boleh menelpon Adrian"
Aldi berbalik dan berjalan pergi meninggalkan apartemen Claries. Adrian membukakan pintu mobil untuk Aldi.
"Adrian siapkan beberapa orang terbaikmu untuk berjaga di apartemen Claries. Pastikan semua aman"
"Baik pak"
__ADS_1
"Dan beri dia pengawal untuk mengawasi saat berangkat dan pulang dari rumah sakit"
"Baik pak segera saya laksanakan"