CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 80 Kembali


__ADS_3

Aldi berdiri di depan pintu apartemen Claries. Ia sengaja menunggu Claries keluar dari apartemennya.


Claries tertegun mendapati Aldi berdiri dengan santai seolah tak terjadi apapun diantara mereka.


"Pagi dokter..." sapa Aldi. Claries memalingkan wajahnya. Pagi itu ia terlihat lebih segar dan cantik. Aldi tersenyum berjalan mendekat dan mengecup leher jenjang istrinya. Claries memejamkan matanya menahan geli sewaktu hidung mancung Aldi menyentuh kulit lehernya.


"Sudah waktunya kau pulang ke rumah, aku sudah memberimu dua hari untuk menjauh dariku. Ku rasa itu cukup Clair..."


Claries terdiam ia masih malas bicara dengan Aldi meski sebenarnya ia juga merindukan suaminya itu.


"Ayo kita pulang" Aldi meraih tangan Claries tapi Claries menepisnya.


"Kenapa mudah sekali bagimu seolah tak terjadi apapun Aldi?"


"Ayolah kau istriku bukan, pergi dari rumah suami itu bukan sesuatu yang benar" Aldi menggenggam tangan Claries dan mengajaknya berjalan menuju mobil.


"Aku harus ke rumah sakit"


"Untuk apa? sekarang kau kembali ke Medina Hospital. Aku tidak memberimu izin untuk bekerja di rumah sakit Indra Biantoro"


"Aldi jangan seenaknya, aku harus bicara apa pada mereka?"


"Aku sudah mengurus semua dan kau sudah tidak terdaftar menjadi dokter disana"


Claries diam dan memalingkan wajahnya memandang jalanan ibu kota yang ramai. Percuma jika ia melawan kerasnya sikap Aldi.


"Sayang kita ke dokter kandungan dan periksakan kondisimu dan calon bayi kita"

__ADS_1


"Aku bak-baik saja"


"Aku ingin dengar itu dari dokter yang memeriksamu"


"Aku juga dokter aku tahu kondisiku"


"Aku orang awam Clair aku ingin dengar dari dokter kandungan yang menanganimu bukan dari dokter bedah umum seperti dirimu. Itu berbeda Clair..."


"Terserah kau saja"


"Setelah periksa aku ingin jalan-jalan ke pembukaan restoran baru milik Zaman Group kau harus ikut"


"Tentu saja ikut, aku tidak nya pilihan selain menurutimu"


Aldi mengehentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia memandang Claries yang cantik.


Claries memandang ke wajah tampan Aldi. Ia sebenarnya masih kesal tapi sekali lagi ia memang selalu tidak bisa mengelak dari Aldi. Claries mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Aldi.


***


Pagi sekali Tiara datang ke rumah Fani membawakan makanan yang ia masak sendiri. Dan pagi itu juga Liona datang ke rumah Fani untuk mengantar berkas penting yang harus segera di tandatangani oleh Fani.


Ia berpapasan dengan Tiara dindepan pintu rumah Fani.


"Hai Liona kau datang sepagi ini?" tanya Tiara yang jelas masih mengingat Liona sebagai sekretaris Fani.


"Ada berkas yang harus segera di tandatangi pak Fani" Liona melirik bingkisan yang aromanya membuat lapar pasti itu makanan buatan Tiara yang sengaja akan ia berikan pada Fani.

__ADS_1


Liona tidak bertanya ia malas melihat Tiara ada di sana pagi-pagi. Dalam hati Liona mengutuk dirinya sendiri.


Sadar Liona kau ini siapa? kau hanya supir yang begitu mujur sampai mendapat kebaikan dari bosmu. Di sekolahkan di angkat menjadi sekretaris. Wanita di hadapanmu itu jauh lebih baik dan berhak mendapatkan cinta Fani Hendrawan.


Liona menyerakan berkas dalam map kuning. Fani segera memeriksa dan memberikan tanda tangannya.


"Ada siapa di ruang tengah?" tanya Fani. Ia dan Tiara belum bertemu karena Fani berada di ruang kerjanya jadi Tiara tidak mau mengganggunya.


"Ada bu Tiara pak"


"Tiara? untuk apa sepagi ini ia datang kemari?"


"Saya tidak tahu pak sepertinya urusan pribadi, kalau begitu saya langsung pamit ke kantor pak"


"Tunggu kau berangkat bersamaku" Fani berjalan keluar menuju meja makan. disana duduk Tiara yang di temani bi Wasti.


"Kakak aku sengaja datang pagi mengantar masakanku untukmu"


"Benarkah? pasti enak sekali"


"Tentu saja aku membuatnya sebagai ucapan terimakasih karena kau telah menjemputku di bandara kemarin"


"Baiklah, Liona kau juga ikut makan"


"Eh tapi pak saya..."


"Ayolah Liona cicipi masakanku kau pasti suka" Tiara terlihat tulus. Liona menarik kursi dan ikut duduk untuk sarapan bersama. Masakan Tiara memang enak sekali. Ia juga sangat baik. Liona merasa bersalah sudah menyimpan rasa kesal padanya.

__ADS_1


__ADS_2