CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 37 Kota A


__ADS_3

Claries berbaring di sofa dan menatap layar ponselnya. Disana dimuat kejadian Liza melabraknya kemarin.


Pelakor, satu kata dan berimbas sangat buruk untuk Claries. Ia memejamkan matanya setelah membaca berbagai berita tentang dirinya. Bahkan konsultasi online sekarang di gantikan oleh dokter lain. Posisinya di Medina Hospital juga sudah di turunkan. Ia di pindahkan ke rumah sakit di sebuah kota kecil yang jauh dari keramaian ibu kota.


Claries senang meski kota itu kecil tapi sangat bersejarah baginya. Disana lah papa dan mamanya bertemu untuk pertama kali.


Pihak Medina Hospital tidak bisa memberi tempat untuk Claries lagi meski ayahnya yaitu dokter Gavin juga berjasa dalam pendirian rumah sakit besar itu. Dokter Wahyu selaku direktur rumah sakit terpaksa mengambil keputusan untuk memindahkan Claries sebagai sanksi atas skandal pribadinya itu.


Claries menghibur dirinya sendiri di apartemen dengan melakukan kegiatan yang santai dan membuatnya rileks sejenak. Ia pergi ke dapur memasak satu bungkus mie instan dengan sayuran, sosis dan dua telur ayam. Ia juga menyeduh teh Hijau.


Siang itu Claries menikmati makan siangnya di apartemen seorang diri. Fani kakaknya akan datang untuk mengantarkannya ke bandara nanti.


Claries melihat ponselnya, tidak ada telepon atau pesan singkat dari Aldi. Setelah semua yang terjadi padanya entah kenapa ia masih merindukan pria itu.


Selesai makan Claries bergegas mengemasi barang-barang yang ia perlukan selama tinggal di kota A.

__ADS_1


Ada beberapa berkas pribadinya yang tertinggal di ruang kerjanya di Medina Hospital. Claries mengganti bajunya dan pergi meuju rumah sakit. Dia berjalan dengan menegakkan kepalanya seolah tak terjadi apapun padanya. Beberapa perawat melihatnya dan berbisik-bisik. Ada pula sesama dokter yang tak menyapanya dan seolah tidak kenal dengannya.


Claries mengambil berkas pribadinya dan bergegas pulang. Sebelum pulang ia sempat menatap ruang kerjanya dan mengusap pelan meja kerjanya. Claries tersenyum pedih dan berbalik berjalan pergi.


"Kau sudah siap?" Fani dengan wajah sedih campur prihatin mengantar adiknya ke bandara.


"Kakak maafkan aku sudah membuatmu susah. Jika kau ada waktu jenguklah aku di kota A. Nanti kita bisa jalan-jalan dan menikmati pemandangan disana. Akan ku ceritakan tempat dimana papa dan mama pernah bertemu"


Fani menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca. Claries memeluk kakaknya dengan erat dan menyembunyikan air matanya.


"Kau nakal sekali Clair beraninya membuat kakakmu ini bersedih"


"Jaga dirimu baik-baik kakak yakin kau kuat dan tegar. Jalani harimu dengan bahagia disana, lain kali kakak pasti datang menjengukmu"


Claries mengangguk, ia berjalan menarik kopernya dan melambaikan tangan pada Fani. Ia akan melakukan penerbangan selama satu setengah jam menuju kota A.

__ADS_1


***


Aldi adalah orang yang paling hancur dengan semua kejadian yang menimpa Claries. Ia menatap dari kejauhan dan memperhatikan Claries dan Fani berpelukan. Ia juga ingin sekali bisa memeluk dan melindungi Claries tapi nyatanya ia tidak mampu melakukan itu.


Ia malah menyebabkan kekacauan dalam hidup Claries.


"Apa bapak tidak menemui dokter Claries terlebih dulu?" tanya Adrian.


"Tidak perlu, ku rasa ia akan lebih baik jika tidak melihatku"


"Oh ya Adrian apa kau sudah mengurus perpisahaanku dengan Liza?"


"Sudah pak"


"Bagus, berikan harta yang menjadi hak Liza, tolong kau urus semua"

__ADS_1


"Baik pak"


Aldi mengenakan kaca mata hitamnya dan memasuki mobil. Adrian mengemudikan mobil menuju gedung utama Zaman Group.


__ADS_2