CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Klarifikasi


__ADS_3

Wartawan sudah memenuhi gedung utama Zaman Group. Mereka semua menunggu klarifikasi tentang pernyataan Dylan kemarin malam di pesta keluarganya.


Sementara di tempat lain Amora sedang di rias. Ia nampak cantik dan membuat pangling. Dylan keluar ruangan dan menjemput Amora yang dengan terpaksa menggamit lengan pria itu.


"Kenapa di luar ramai sekali?" Amora terlihat gugup dan tiba-tiba merasa mual.


"Kau tidak perlu cemas. Aku yang akan bicara kau cukup duduk di sampingku" kata Dylan sembari melangkah menuju meja yang sudah di persiapkan.


"Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya seorang wartawan.


"Sejak kami terlibat kerja sama, kebetulan dokter Amora bekerja di rumah sakit milik Zaman Group"


"Apakah kalian saling mencintai?"


Amora melirik Dylan yang terlihat tenang meski di cecar pertanyaan.


"Ya tentu kami saling mencintai, benarkan sayang?"


Amora mengangguk canggung. Ia terlihat begitu polos di hadapan banyak orang. Amora setuju menikah dengan Dylan setelah pria itu memohon seperti orang gila padanya. Tentunya permohonan itu juga di sertai ancaman.


Dylan mengancam akan mengeluarkan Amora dari rumah sakit dan membuat karir ya hancur. Dylan bisa saja dengan mudah membuat settingan untuk menjebak Amora. padahal susah payah Amora menjadi dokter spesialis seperti sekarang. Segala pahit getir ia lalui dan pria sialan itu mengancamnya dengan mudahnya.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain Amora menyetujui, toh Dylan akan menceraikannya setelah satu tahun pernikahan mereka dengan alasan klise yaitu tidak ada lagi kecocokan.


Selesai jumpa pers Dylan mengajak Amora makan malam bersama keluarga besarnya. Disana tentu saja ada tuan Aldi dan dokter Claries yang merupakan orang tua Dylan.


Amora sangat gugup hingga ia tidak bisa makan sesuatu. Sejak tadi ia hanya mengaduk makanannya tanpa menyuapkan ke mulutnya.


Sementara Dylan makan dengan tenang, lahap dan terlihat menikmati permainan yang sedang ia buat.


"Amora bisakah kita bicara sebentar?" tanya dokter Claries. Amora mengangguk mengikuti langkah dokter Claries menuju ruang depan.


"Amora sebenarnya ada apa ini? setahuku kalian bahkan tidak akur dan tidak saling kenal"


"Maafkan saya nyonya Claries, ini salah saya, tapi saya ...."Amora kebingungan menjelaskan.


Amora terdiam, ia tidak mencintai pria itu. Amora juga tidak mungkin mengatakan jika Dylan mengancamnya.


"Apa yang terjadi? kenapa kalian berbuat seperti ini? pernikahan itu sakral Amora. Setidaknya kau lebih tahu dan paham hal itu di banding Dylan yang suka main-main"


"Ma cukup..." Dylan mendekati ibunya dan Amora begitu juga tuan Aldi yang menyusul mereka.


"Baiklah sekarang mama tanya Dylan. Permainan apa ini? apa kau mencintai Amora?" Claries yakin putranya tidak mencintai gadis itu.

__ADS_1


"Karena mama terus mendesak Dylan akan cerita yang sebenarnya"


Amora terkejut dan menatap Dylan tidak percaya. Tuan Aldi duduk di sofa mendengarkan penjelasan anaknya.


"beberapa hari yang lalu aku pergi minum ke bar dengan teman. Karena mabuk berat akhirnya pihak bar mengubungi Amora yang ada di daftar panggilan telepon ku. Jadi Amora datang menjemput ke bar. Ia membawa aku ke rumahnya karena aku tidak mau di antar pulang ma. Dan aku tidak sengaja berbuat sesuatu padanya"


"Apa maksud mu Dylan?! sesuatu apa?!" nyonya Claries mulai panik.


"Dylan tidak sengaja menodai Amora ma..."


Hening Amora terbelalak ia tidak menyangka Dylan mengarang cerita sejauh itu. Sementara tuan Aldi dan nyonya Claries terdiam.


Claries sedang berpikir mungkin ini karma yang harus di terima keluarganya. Dulu ayahnya yaitu dokter Gavin juga melakukan hal yang sama pada ibu Claries yaitu dokter Bianca.


Sekarang Putranya melakukan hal yang sama pada gadis lain. Claries berjalan perlahan menuju kamarnya. Ia pusing memikirkan tingkah Dylan.


"Dylan jika memang kau sudah berbuat kesalahan maka bertanggung jawab adalah pilihan yang tepat!" kata tuan Aldi.


Dylan memandang Amora yang terlihat pucat.


"Apa yang kau lakukan kenapa mengarang seperti itu?!" bisik Amora.

__ADS_1


"Aku antar kau pulang, kita bicara di rumah mu saja"


__ADS_2