
Amora masuk kedalam sebuah bar. Ia terlihat canggung dan ragu. Beberapa pria sempat menggodanya. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia kenal. Pihak bar menelponnya dan memberitahu untuk menjemput tuan Dylan karena mabuk berat.
Amora sudah mencoba menghubungi Ryuji tapi tidak bisa. Dan ia tidak berani menelpon dokter Claries karena sudah malam.
Akhirnya Amora memutuskan menjemput Dylan di bar. Ia memesan taxi online menuju ke bar itu. Di sebuah meja di sudut ruangan terlihat Dylan yang tertunduk di meja karena mabuk. Amora bergegas mendekati pria itu. Aroma alkohol menyeruak. Susah payah Amora mempan Dylan di bantu sopir taxi menuju mobil.
"Maaf tuan sebaiknya anda saya antarkan pulang kerumah saja...."
"Winy...aku mu ke apartemen" itu ucapan yang keluar dari mulut Dylan. Amora jadi bingung ia akhirnya membawa Dylan menuju panti karena di panti banyak anak-anak, Amora mengurungkan niatnya dan membawa Dylan ke rumahnya yang berdekatan dengan paanti.
Ia merebahkan badan Dylan di sofa. Amora melepas dasi dan jas yang di kenakan Dylan. Ia membasuh wajah pria itu dengan handuk bersih yang di basahi air dingin.
"Tuan bangunlah...."
percuma saja Dylan tertidur lelap. Semalaman Amora tidak bisa memejamkan mata karena di rumahnya ada pria asing. Ia mengawasi Dylan dari jendela kamarnya. Pria tampan itu tergeletak di sofa ruang tamu. Amora mencoba menghubungi Ryuji tapi belum bisa juga. Ponsel Ryuji mati.
Ke-esokan paginya Amora joging seperti biasanya. Ia mampir berbelanja dan memasak sarapan. Sarapan siap di meja makan. Dylan membuka matanya karena hidungnya mencium aroma masakan yang enak. Ia perlahan duduk, kepalanya masih pusing. Dylan terkejut setelah membuka mata dan sepertinya ia tidak berada di apartemen Winy.
"Dimana aku?!" Dylan mengancingkan kemeja putihnya dan meraih jasnya yang terlipat rapi di sampingnya.
"Maaf saya membawa anda kesini karena semalam anda mabuk dan pihak bar menelpon saya" kata Amora muncul dari dapur sembari membawa dua cangkir kopi latte.
"Kau?! kenapa kau tidak menelpon Ryuji?! apa kau sengaja memanfaatkan keadaan?"
"Apa?! tolong tuan yang sopan. Saya sudah menolong anda. Ryuji tidak bisa di hubungi"
"Kenapa kau tidak mengantarku ke rumah?"
__ADS_1
"Anda terus saja mengoceh minta ke apartemen Winy, dan lagi pula sudah larut malam saya tidak berani ke rumah anda. Saya segan dengan dokter Claries"
Benar juga, Dylan mabuk karena marah setelah memergoki Winy dan Jaden berciuman di apartemen Winy. Sekarang pun rasanya ia masih kesal jika mengingat kejadian itu.
"Bisakah sekarang anda membersihkan diri lalu sarapan dan pulang?"
"Kau memngusirku?"
"Memangnya anda mau tinggal disini?!" kata Amora kesal. Tahu begitu ia tidak akan mempedulikan pria itu kemarin. Biar saja ia menginap di bar sampai pagi.
"Dimana kamar mandi?" tanya Dylan yang berdiri dari duduknya.
Amora menyerahkan sebuah handuk putih bersih dan menunjuk sudut ruangan. Dylan mandi di kamar mandi yang biasa di pakai Amora. Pria itu memakai sabun dan shampo sang pemilik rumah. Aroma shampo terasa harum sekali dan juga segar. Berbeda dengan aroma shampo kebanyakan.
Selesai mandi Dylan kembali mengenakan bajunya. Ia menelpon Ryuji tapi ponsel Ryuji mati dan tidak bisa di hubungi.
Amora memandang Dylan dari meja makan. Ia lebih dulu sarapan. Dylan menyusul duduk dan menyesap kopi latte.
"Kau memasak sendiri semua ini?"
"Iya.."
Dylan meraih piring salad dan mencicipinya. Rasanya enak sekali tidak kalah dengan buatan Winy. Dylan menghabiskan sarapannya dan bergegas pergi setelah selesai makan.
"Kau tidak tidur semalaman?" Dylan memandangi wajah lelah Amora dan kantung matanya terlihat jelas.
"Bagaimana saya bisa tidur ada pria asing sedang mabuk di rumah saya"
__ADS_1
"Hei sekalipun aku tidak sadar aku juga malas menyentuhmu!" kata Dylan dengan nada tersinggung.
Ia bergegas pergi meninggalkan rumah Amora. Dylan menyambar jasnya.
"Tuan mobilmu masih tertinggal di pelataran bar, kemarin malam aku membawa anda kemari dengan taxi"
"Kenapa kau tidak bawa mobilku?!"
"Aku tidak bisa menyetir"
"Oh sial! kemana Ryuji apa dia sudah gila ponselnya mati di biarkan saja"
"Kau ikut denganku!" Dylan menarik lengan Amora dengan kasar.
"Kemana? aku ada jadwal praktek nanti siang"
"Sudah jangan cerewet, kau pesan taxi online dan kita pergi ke pusat perbelanjaan"
Dylan membeli stelan jas baru untuk baju gantinya. Ia langsung mengganti setelannya dengan yang baru dan mahal.
"Apa ini bagus?" tanyanya pada Amora.
"Bagus"
"Kau jangan salah paham, biasanya aku meminta pendapat Ryuji tapi si bodoh itu tidak jelas dimana sekarang"
Ayo kita pergi mengambil mobilku, aku antar kau ke rumah sakit"
__ADS_1