CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 22 Aldi Tertembak


__ADS_3

Claries terlihat gelisah duduk di samping Liza yang terbaring diam. Ia menatap wajah tenang Liza. "Liza apa kau dulu sering merasakan apa yang aku rasakan sekarang?"


Claries menatap ponselnya berharap Aldi atau Adrian memberi kabar tapi ternyata tidak. Claries memutuskan kembali ke kamarnya, ia tidak bisa tertidur pikirannya melayang memikirkan Aldi. Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya.


Sementara di sudut kota paling sepi dan gelap Aldi dan Adrian sedang berjalan diiringi empat orang anak buah bos mafia. Keduanya memasuki sebuah rumah tua dengan pintu kecil yang sempit. Aldi dan Adrian yang bertubuh tinggi tegap kesulitan melalui pintu itu tapi tetap di paksa oleh anak buah si mafia.


"Bos, mereka sudah tiba"


Seorang pria berjalan mendekati Aldi dan Adrian. Pria itu berusia sekitar 40 tahun memiliki tato naga di leher kanannya.


"Jadi siapa bos dari perusahaan hebat itu?" tanya sang mafia.


"Aku!" jawab Aldi tegas.


"Oh jadi kau sang tuan muda itu? aku sudah mendengar sepak terjangmu di dunia bisnis. Kau terkenal cerdas dan pemberani. Pantas saja ayahmu mewariskan semua hartanya padamu. Kau tahu sejak perusahaan itu kau pegang kami tidak mendapat keuntungan lagi!" bos mafia mulai marah.


"Kau tidak bekerja untuk kami jadi aku tidak perlu memberimu keuntungan"


"Oh tuan muda jadi selain hebat kau juga sombong rupanya! baiklah akan ku perjelas. Jika kau mau bisnismu lancar kau harus membagi setengah keuntungan perusahaanmu untukku"


"Aku tidak akan melakukan itu, jangan berani mengganggu bisnisku atau kalian yang akan habis!"


"Hahaha! luar biasa nyalimu! kau lebih keras kepala di banding ayahmu!"

__ADS_1


"Habisi mereka!" kata bos mafia sambil berlalu.


Aldi dan Adrian terlibat baku hantam dengan anak buah bos mafia yang jumlahnya puluhan. Adrian menekan tombol daturat pada ponselnya yang tersambung ke ponsel anak buahnya yang sudah menunggu di luar gedung.


Anak buah Adrian berjumlah dua puluh orang segera membobol pintu sempit itu dan membantu perkelahian Aldi dengan kawanan mafia itu.


Bos mafia yang terhimpit rupanya berlaku licik, ia bersembunyi dan melesatkan tembakan ke arah Aldi yang memunggunginya.


Peluru menembus punggung kanan Aldi hingga darah mengucur. Aldi ambruk ia teringat wajah Claries yang dicintainya melintas di benaknya. Aldi memejamkan matanya.


Adrian pontang panting menggendong tubuh Aldi menuju mobil. Sementara anak buahnya masih melanjutkan perkelahian itu. Adrian membawa Aldi menuju Medina Hospital.


***


Claries menuang air putih ke dalam gelas. ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu hinga pecah. Perasaannya tidak enak ia semakin gelisah memikirkan Aldi dan Adrian.


"Halo Adrian? apa kalian baik-baik saja?" tanya Claries tidak sabar.


"Saya selamat bu tapi, ..."


"Tapi apa?! mana Aldi?"


"Pak Aldi tertembak bu dan sekarang kami di Medina Hospital"

__ADS_1


"Ya Tuhan.. bagaimana kondisinya?"


"Saya tidak tahu bu tapi kata dokter harus segera di tangani karena pelurunya bersarang di tubuh pak Aldi"


Claries mematikan ponselnya dan bergegas menyambar tasnya. Ia mengemudi menuju Medina Hospital. Sesampainya di rumah sakit Claries bergegas menuju ruangan dokter Frederick. pasti yang akan memimpin operasi pembedahan adalah dokter Frederick.


"Claries, dokter Frederick sedang di luar kota. Kau yang akan memimpin operasi pak Aldi" kata dokter Wahyu.


Claries melihat kondisi Aldi yang tertidur tengkurap dengan alat medis menancap di tubuhnya. Luka itu berada di punggung atas sebelah kanan. Claries mendekat dan menggenggam tangan Aldi.


Ku mohon bertahanlah, ada yang ingin ku katakan padamu.


Claries segera berganti pakaian sementara Aldi di bawa menuju ruang operasi.


Aldi di operasi dalam kondisi tengkurap. Claries mencoba mengeluarkan sebuah peluru yang bersarang di punggung kanan Aldi. Kondisi Aldi sempat menurun. Claries menatap dokter Wahyu yang ikut menemani di ruang operasi.


Semua terlihat cemas, Claries meneteskan air matanya, ia mencoba membantu menyelamatkan Aldi dari kritis. Akhirnya Claries berhasil mengeluarkan peluru itu. Setelah operasi selesai Claries berjalan keluar menemui ayah mertuanya dan Adrian yang menunggu disana. Ia hanya bisa menangis memeluk ayah mertuanya sambil menunggu kondisi Aldi pasca operasi.


Claries tertidur di sofa ruang kerjanya. Ia belum bisa menemani Aldi karena Aldi masih di Icu.


"Claries..." sebuah suara membangunkan Claries. Fani datang menghampiri adiknya dan memeluknya.


"Kakak...Aldi...dia" Claries terbata-bata karena sedih. Ia tidak tahu apakah Aldi akan selamat atau tidak. Aldi sempat mengeluarkan banyak darah saat perjalanan menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Tenanglah, ia pasti selamat. Aldi orang yang kuat"


Claries mengangguk dan bersandar di bahu Fani menenangkan pikirannya.


__ADS_2