
Mitha menyuapi Adrian yang masih belum pulih. Adrian memandangi Mitha yang terdiam tidak mau melihatnya.
Adrian tiba-tiba menggenggam tangan Mitha sembari tersenyum.
"Apkah anda marah padaku?"
Mita menatap wajah Adrian dan ia kesal sekali dengan pria itu.
"Untuk apa aku marah?" kata Mitha cuek sambil kembali menyuapi Adrian.
"Aku minta maaf" kata Adrian lirih.
"Kau tahu aku sangat cemas, takut seandainya terjadi seauatu padamu Adrian. Apa kau tahu itu? aku rasa kau tidak akan paham" Mitha meletakkan mangkuk diatas meja ia bersiap akan pergi. Tapi Adrian menahannya dan kali ini Adrian memberanikan diri mencium bibir Mitha.
Ia seakan sudah lupa janjinya pada Aldi. Kejadian yang telah menimpanya membuatnya sadar jika ia ingin hidup lebih lama untuk menjaga Mitha dan Rio. Ia jatuh cinta pada wanita di hadapannya.
Mitha terkejut setengah mati, ia tidak menyangka Adrian senekat itu padanya. Mitha mencoba mendorong bahu Adrian tapi ia tidak tega karena lelaki itu terlihat tidak berdaya dengan semua bekas luka dan memar hampir di sekujur tubuhnya.
Aldi dan pak Han yang baru saja tiba tidak kalah terkejut dengan kejadian itu. Pak Han merasa tidak enak pada Aldi. Kedua orang itu berdiri mematung di depan pintu ruang rawat yang terbuka.
Aldi bergeser menepi agar Adrian tidak melihat kedatangannya. Pak Han tertunduk dan meminta maaf pada Aldi.
"Maafkan saya pak Aldi, ini salah saya karena tidak mendidiknya dengan baik"
__ADS_1
Aldi menggerakan satu tangannya pertanda pak Han untuk berhenti bicara. Aldi bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.
***
Claries sedang di rumah karena hari itu ia tidak ada jadwal praktek. Ia sedang di taman menyiangi bunga-bunga dan beberapa tanaman herbal yang di tanamnya.
Aldi memeluk Claries dari belakang dan mengecup kening istrinya itu.
"Kau sudah kembali?" wajah Claries terlihat sumringah.
"Aku rindu sekaki padamu" kata Aldi. Claries memeluk suaminya dengan erat dan mengusap punggung Aldi dengan tangannya.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Claries.
"Apa kau sudah bisa membuktikan jika dia Liza?"
"Hmmm"
Claries memper erat pelukannya pada Aldi. Ia menguatkan suaminya itu. pasti tidak mudah bagi Aldi untuk mengambil tidakan pada Liza. Biar bagaimana pun Liza adalah sahabat Aldi sejak kecil dan mereka pernah menikah.
"Kau sudah ke rumah sakit untuk melihat Adrian?"
Aldi melepaskan pelukan Claries dan memandang wajah Claries.
__ADS_1
"Sudah"
"Ada apa kenapa kau tampak tidak senang?"
"Clair katakan padaku apa yang harus ku lakukan pada bedebah itu! disatu sisi ia berjanji padaku dan sekarang ia mengingkarinya"
"Maksudmu Adrian? apa yang ia lakukan?"
"Dia ...jatuh cinta pada Mitha"
Claries terdiam mencoba mencerna perkataan Aldi barusan. Claries sudah tahu sejak lama jika Adrian memang mencintai Mitha. Dan Claries rasa Aldi juga sudah tahu itu.
"Cinta itu tulus, besar dan kuat sayang. Seperti apapun di cegah ia tetap akan semakin kuat. Cinta tidak memiliki rasa takut dan bahkan di dalam cinta tidak berlaku perjanjian. Jadi lebih baik kau mengalah untuk mereka"
Claries menggenggam tangan Aldi dan mengecupnya.
Kau benar Clair, seperti itulah aku juga mencintaimu.
"Ayo kita masuk, angin diluar cukup kencang. Ini tidak bagus untuk wanita hamil"
"Baiklah sayang....."
Keduanya berjalan memasuki rumah utama dan menaiki anak tangga menuju kamar. Perasaan Aldi menjadi lebih lega setelah berbicara dengan Claries. Ia merasa bebannya dalam menghalangi cinta Adrian dan Mitha telah sirna. Ia merasa tenang mengetahui dengan berani Adrian mengungkapkan perasaanya meski Adrian harus membuat Aldi kecewa dan melanggar janjinya.
__ADS_1