CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 105 Tulip Hitam


__ADS_3

Weekend tiba, saatnya sedikit bersantai untuk Adrian. Ia baru terbangun pukul tujuh pagi dilihatnya Mitha sudah tidak ada di sampingnya. Adrian menyibak selimut dan berjalan menuju balkon kamar.


Mitha dan Rio sedang berkebun, ibu dan anak itu nampak menanam bunga anggrek dan beberapa bunga lainnya.


Adrian bergegas mandi dan menyusul Mitha serta Rio untuk berkebun.


"Papa mau ikut berkebun?" Rio menyerahkan skop kecil pada Adrian.


Adrian meengusap rambut Rio. Mitha melihat sekilas pada Adrian yang mulai memasukan tanah ke dalam pot.


"Rio ambil bunga tulipnya"


"Iya ma..."


"Kau menanam tulip?"


"Bukan sayang, tadi ada paket bunga tulip hitam untukmu"


"Tulip hitam?"


"Iya..." Mitha meletakkan skopnya dan berdiri mendekati Adrian. Rio datang membawa pot berukuran sedang berisi tanaman bunga tulip berwarna hitam.


Adrian terdiam, sudah lama sekali ia tidak mendapat kiriman tulip hitam. Adrian belum menemukan siapa pengirim bunga itu dan apa tujuannya.


"Tidak ada nama pengirimnya, apa kau kenal siapa yang mengirim bunga ini sayang?"

__ADS_1


Adrian menggeleng, Ia segera mengajak Mitha dan Rio masuk ke dalam rumah.


"Ada apa Adrian?"


Adrian berjongkok mememegang bahu Rio.


"Rio papa mau bicara sebentar dengan mama"


"Iya pa" Rio berjalan ke kamarnya sembari meraih segelas susu coklat di atas meja yang sudah di buatkan pelayan untuknya.


Mitha menatap Adrian serius, wajah Adrian tenang tapi sorot matanya sedikit cemas.


"Apa ini dapat hubungannya dengan bunga tulip itu?"


"Sudah lama sekali aku tidak mendapat kiriman bunga tulip hitam itu. Aku juga tidak tahu siapa pengirimnya"


Adrian menggeleng, menurutnya ini masalah personalnya tidak ada hubungan dengan keluarga Zaman.


Adrian tidak memiliki musuh selain yang berhubungan dengan keluarga Zaman dan bisnis Zaman Group. tapi pengirim bunga itu hanya menerornya dan tidak meneror Aldi.


"Apa ada seseorang yang kau kenal di masalalumu yang sekiranya ia kau sakiti atau kau lupakan begitu saja?" tanya Mitha.


Adrian mencoba mengingat, ia menggeleng. Mitha memegang bahu Adrian mencoba menenangkannya.


"Mulai hari ini ketika keluar rumah kau dan Rio harus dalam penjagaan anak buahku"

__ADS_1


"Baiklah, kau juga berhati-hatilah"


Mitha tidak banyak bertanya lagi, ia paham bagaimana kehidupan Adrian selama ini. Ia bahkan terlalu banyak musuh karena melindungi keluarga Mitha sejak dulu.


Mitha membawa bunga itu ke halaman dan meletakkannya di antara bunga lainnya. Warna hitam bunga itu terlihat mencolok, dengan pot berwarna putih dan daunnya yang memanjang berwarna hijau.


Bunga yang indah tapi warnanya yang gelap menjadi simbol teror atau sesuatu yang kurang baik.


***


Diluar pintu gerbang rumah Adrian yang tinggi, seorang pria mengintai dengan seksama. Pria itu terlihat sedang menelpon seseorang.


Setelah memastikan keadaan di rumah Adrian pria itu pergi dengan mobil sedan berwarna hitam menuju sebuah tempat.


Di sebuah rumah bergaya China di sana pria bermobil sedan itu berhenti dan masuk ke dalam rumah yang penuh pengawal.


"Tuan bunga itu sudah sampai ke tangan Adrian"


Pria yang di panggil tuan itu mengangguk dan menghisap cerutunya.


"Aku ingin kau menyeretnya kemari dalam keadaan hidup, tidak perlu melibatkan keluarga Zaman. Urusanku hanya dengan Adrian"


"Baik tuan"


"Jangan sampai Aldi Ibrahim ikut campur dalam masalah ini, kecoh dia dengan memanfaatkan gadis bodoh bernama Sondra itu. gadis itu baru saja menyerahkan sebuah dokumen penting berisi surat berharga beberapa aset Zaman Group padaku"

__ADS_1


"Baik tuan"


__ADS_2