
Adrian menemui Kevin untuk bicara berdua setelah Kevin membawa Rio tadi siang. Keduanya duduk di salah satu meja di restoran. Mitha tidak tahu jika Adrian menemui Kevin.
"Apa yang kau inginkan dari Mitha dan Rio?" tanya Adrian tegas.
"Kau siapa kau bukan Aldi Ibrahim yang berhak bertanya itu padaku"
"Aku memang bukan wali Mitha, tapi aku adalah pria yang mencintainya dan akan menikahinya. Jadi aku ingin masalalunya yang kelam bisa tutup buku segera"
Keduanya saling memandang dengan sinis. Adrian kesal juga lama-lama dengan sikap Kevin.
"Baiklah, aku tidak ada lagi urusan dengan Mitha. Aku hanya ingin bertemu Rio untuk berpamitan"
"Aku tidak melarangmu untuk bertemu Rio, tapi sayangnya pak Aldi melarangmu menemui anak itu. Ia bahkan sudah mewanti-wantiku untuk menyeretmu ke hadapannya jika kau masih berbuat nekat"
"Aku tidak akan menemui anak itu lagi Adrian, aku akan menikah dan membuka lembaran baru. Aku senang jika Rio akan memiliki seorang ayah sepertimu. Ku harap kau bisa menjaganya lebih baik lagi"
Kevin berdiri dari duduknya dan merapikan jaketnya. Sementara Adrian masih duduk dan menatap Kevin.
"Jika kau menjadi ayah sambungnya nanti, bisakah suatu hari kau katakan padanya jika aku adalah ayah kandungnya? ajarkan ia permainan lelaki dan ajari ia bertanggung jawab dan menjadi pria baik saat dewasa nanti. Aku akan berterimakasih seumur hidupku padamu"
__ADS_1
"Aku akan melakukannya, bukan untukmu tapi untuk Rio dan Mitha"
Kevin tersenyum mendengar jawaban Adrian. Ia tahu Adrian pria baik yang akan menjaga dan mendidik Rio dengan penuh tanggung jawab.
"Adrian satu lagi, sampaikan maafku pada Mitha. Aku tahu semua sudah tidak bisa di perbaiki tapi setidaknya aku menyesali atas semua luka yang ku berikan untuknya"
Kevin berjalan pergi meninggalkan Adrian. Ada kelegaan di hati Adrian setelah berbicara dengan Kevin. Ia mantap memberanikan diri untuk melangkah bersama Mitha.
Siang itu Adrian menghadap Aldi di ruang kerjanya. Meeting sudah selesai dan saatnya istirahat makan siang.
"Kau tidak makan siang?" Aldi melihat Adrian yang masih belum beranjak dari tempatnya. Adrian berdiri dengan penuh kepercayaan diri. Jika kali ini Aldi akan menghajarnya sampai terkapar ia sudah siap. Karena ia memang tidak tahu malu untuk sesuatu hal yang akan ia minta pada bosnya itu.
"Pak Aldi...saya ingin bicara sesuatu hal pribadi pada anda"
"Bicaralah"
"Pak Aldi saya sangat mencintai adik anda Mitha binti Ibrahim Zaman. Saya berjanji dengan sepenuh jiwa saya akan menjaganya dan Rio. Karena itu saya ingin melamar Mitha pada anda"
Hening beberapa saat........
__ADS_1
Wajah Aldi datar tanpa ekspresi ia masih menatap Adrian. Sementara jantung Adrian rasanya tidak bisa dikendalikan. Berdebar kencang dan semakin membuatnya hampir goyah.
Tapi ia mantap dan yakin jika ia memang harus melamar Mitha secepatnya. Ia tidak bisa melihat Mitha seorang diri menjadi orang tua untuk Rio. Selalu gelisah dan panik seorang diri ketika Rio sakit atau menghilang.
Aldi mengetukkan jemarinya di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya yang nyaman. Pandangannya masih terarah pada Adrian entah apa yang merasuki asistennya itu sampai berani senekat itu melamar adik dari bosnya.
"Apa kau masih waras Adrian?" Jawaban Aldi barusan membuat hati Adrian bergetar. Ia hampir mundur tapi ia sudah jatuh cinta pada Mitha dan tidak mungkin mundur lagi. Ia tidak akan sanggup jika Mitha dimiliki pria lain.
Aldi berdiri dan berjalan untuk meninggalkan ruanganya. Adrian tiba-tiba berlutut memohon pada Aldi.
"Pak saya mohon berikan Mitha pada saya, percayakan adik bapak pada saya, untuk itu seumur hidup saya akan sangat berterimakasih pada anda "
"Dasar brengsek kenapa kau berlutut padaku?! kenapa kau memohon seperti itu?! bukan kah aku mengajarimu tentang harga diri? apa kau sudah lupa?!"
"Maafkan saya pak, saya mohon izinkan saya melamar Mitha"
Aldi mencengkram kuat kerah kemeja Adrian hingga kancing jas Adrian terlepas. Aldi melayangkan tinjunya ke wajah Adrian hingga darah segar mengalir dari sudut bibir Adrian.
"Aku merestui kalian berhubungan dekat tapi bukan berarti aku juga akan mengizinkanmu menikahi adikku"
__ADS_1
Aldi berjalan pergi sambil menahan amarahnya. Aldi juga merasa sedih karena menolak pria sebaik Adrian. Tapi ia juga khawatir dengan hubungan mereka. Benarkah Adrian bisa dipercaya untuk hubungan pernikahan.
Aldi juga memikirkan pekerjaan Adrian yang bergelut dengan bahaya. Ia adalah tameng utama bisnis Zaman Group. Tugasnya menjaga keselamatan bosnya dari para pesaing bisnis dan memastikan perusahaan berjalan aman dan lancar, tentu taruhannya adalah diri Adrian sendiri.