CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 28 Berbagi Cinta 2


__ADS_3

Liza sudah bisa mulai bicara dan duduk di kursi roda. Sejauh ini yang ia tahu Claries adalah dokter yang merawatnya. Pagi itu diantar suster, Liza pergi ke kamar Aldi dengan kursi rodanya.


"Sayang...."sapa Liza dengan suara lirih melihat Aldi sedang mengenakan dasi di depan cermin. Aldi menoleh dan memaksakan seulas senyum manis.


"Kenapa kemari? kalau ada perlu denganku biar aku yang ke kamarmu"


Liza tersenyum dan menggeleng, Aldi menoleh ke arah pintu masuk mencari keberadaan Claries.


Diamana Claries tidak biasanya ia belum bangun. Apa ia sakit.


"Liza kau mau bicara denganku? aku harus segera ke kantor"


Liza terlihat kecewa, senyum yang mengembang terlihat surut. Ia menatap Aldi suaminya itu masih tetap gagah dan tampan seperti biasanya. Ia begitu takut Aldi akan direbut orang lain.


Aldi meraih jasnya dan memakainya. Ia berpamitan pada Liza.


"Aku berangkat dulu ya, jaga dirimu dan suster saya titip Liza"


"Baik pak"


Liza terdiam, Aldi tetap dingin padanya seperti dulu. Sejak menikah Aldi bahkan belum pernah menciumnya dengan mesra.


Aldi pergi ke kamar Claries, terlihat Claries memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


"Mau kemana kau dokter?"

__ADS_1


Wajah Claries terlihat sembab dan nampak lelah. "Aku ingin pergi ke apartemen yang baru kubeli"


"Apa maksudmu Clair?"


"Aku ingin tinggal terpisah darimu dan Liza"


"Sayang......jangan begini" Aldi duduk dan memeluk Claries. Tangis Claries semakin menjadi.


"Aku mohon lepaskan aku. Aku tidak bisa jika harus melihatmu berduaan dengan Liza. aku tidak sanggup!"


Aldi hanya terdiam melihat Claries mengiba padanya.


"Aku tidak akan melepasmu!"


"Tapi kau menyakitiku Aldi, aku tidak mau setiap hari melihatmu dengan Liza dan coba bayangkan jika Liza tahu kita sudah menikah sejak ia koma"


"Kau tidak bisa menjawab? lalu kenapa kau mau pergi dariku?"


"Aku tidak mencintaimu sama sekali!"


Aldi terdiam marah, ia tahu Claries berbohong. Aldi berjalan pergi meninggalkan kamar Claries dan disaat itu Liza berada di depan pintu kamar Claries duduk diatas kursi rodanya.


Aldi semakin muak dengan keadaan ini, ia berjalan cepat menuruni anak tangga menuju mobilnya. Adrian sudah siap didalam mobil.


"Bagaimana menurutmu Adrian? kepalaku mau pecah rasanya"

__ADS_1


"Maaf pak saya tidak bisa memberi saran"


"Jelas kau tidak akan bisa, kau saja masih jomblo apa yang kau tahu tentang pernikahan"


Lagi-lagi anda mengatai saya Jomblo!.


Seharian Aldi tidak bisa fokus bekerja ia teringat Claries. Tidak seharusnya ia menyakiti wanita itu. Aldi mencintai Claries dari kecil dan Claries tidak pernah tahu itu. Sementara Liza adalah sahabat terbaiknya sejak kecil tapi ia tidak mencintainya.


Aldi mengusap wajahnya yang terlihat bimbang. Adrian yang melihat bosnya hanya bisa terdiam sambil menggelengkan kepala.


Aldi yang tak tergoyahkan bahkan oleh mafia sekalipun bisa dibuat galau setengah mati oleh para wanita.


"Dokter Claries meninggalkan rumah lima menit yang lalu pak" Adrian memberi informasi setelah membaca pesan singkat dari Yaya.


"Sial!" Aldi memukul meja dengan tangannya.


"Batalkan semua meeting hari ini. Antar aku ke apartemennya"


"Baik pak"


Claries tiba di apartemennya. Ia belum memberi gahu Fani jika ia sudah tidak tinggal lagi dirumah Aldi. Claries membawa foto pernikahannya dengan Aldi yang berukuran kecil. Ia sengaja mencetak dalam ukuran kecil dan membingkainya sendiri.


Bel pintu apartemen Claries berbunyi, ia berjalan dengan malas. Claries sudah tahu siapa yang datang. Sudah pasti itu Aldi karena ia belum memberi tahu siapapun tentang apartemennya.


Claries berdiri di belakang pintu ia tidak mau membuka pintu itu. Suara pintu terdengar di gedor kasar dari luar. Claries tidak bergeming ia tetap berdiri membelakangi pintu. Air matanya mengalir deras.

__ADS_1


Ia sedang memikirkan bagaimana ia akan berpisah dengan Aldi.


__ADS_2