
"Iya sayang" terdengar suara Claries menjawab telepon dari Aldi.
"Kau sedang sangat sibuk hari ini?" tanya Aldi.
"Iya aku baru saja selesai dari ruang operasi"
"Baiklah, sayang besok aku kembali. Ada yang ingin aku ceritakan padamu"
"Tentang apa?"
"Nanti saja setelah aku di rumah"
"Baiklah"
"Sayang nanti aku telepon lagi, sudah dulu ya.."
"Iya, hati-hati.. I love you"
"I love you too"
Aldi ..apa kau akan membicarakan soal wanita bos? apa kau akan mengaku padaku jika kau memiliki satu di luar negeri yang menemanimu ketika jauh dariku?.
Claries mematikan telepon dan memasukan ponselnya kedalam saku jas putihnya. Diluar kerumunan wartawan belum juga pergi. Mereka menunggu klarivikasi dari dokter Claries tentang operasi sang politikus.
"Clair kau membuatku hampir pingsan!" dokter Wahyu direktur Medina Hospital terlihat memasuki ruang kerja Claries.
Dokter Claries hanya tersenyum, ia meraih sebotol air mineral dan meminumnya.
__ADS_1
"Kau tahu aku dan kinerjaku dokter lalu kenapa harus secemas itu?" kawab Claries santai.
"Kau tahu siapa yang sedang kau tangani?" Dokter Wahyu menarik kursi di depan meja kerja dokter Claries dan duduk disana.
"Manusia...semua yang ku tangani adalah manusia. Baik mereka memiliki pangkat atau memiliki uanga atau sama sekali tidak memiliki apa-apa. Bagiku mereka sama yaitu manusia yang butuh pertolongan dan harus di selamatkan"
Dokter Wahyu terdiam memandang Claries. Ia teringat dengan dokter Gavin Hendrawan. Pria itu menurunkan sikapnya pada sang anak.
"Kau tahu, sekarang aku teringat ayahmu. Ia sama sepertimu keras kepala dan tulus hatinya. Ayahmu tidak pernah membedakan pasien. Semua pasien adalan prioritas utamanya"
Dokter Claries tersenyum, terbayang sosok ayahnya yang mengenakan jas putih kebanggaan dan terlihat ramah pada setiap pasiennya. Ia bangga menjadi anak dokter Gavin dan menyandang nama belakang Hendrawan.
"Kau hebat Clair, sekarang bisakah kau temui para wartawan itu? kau sudah jadi viral di media sosial!"
"Benarkah?"
Claries menyisir rambutnya dan ikut berjalan keluar bersama dokter Wahyu menuju ruang konfrensi pers. Kamera wartawan silih berganti membidik sosok Claries.
Sang dokter duduk tenang di dampingi direktur, dan petinggi rumah sakit lainnya. Ia menjawab berbagai pertanyaan wartawan seputar kondisi pasiennya yang baru selesai operasi itu.
***
"Pak anda sudah membaca berita?" Adrian menyodorkan ponselnya. Aldi bergegas melihatnya dan membaca berita online. Istrinya sedang viral di berbagai media sosial.
"Apa yang mereka bicarakan adalah Clariesku?"
"Benar pak"
__ADS_1
Aldi mengangguk bangga, rasanya ia rindu sekali dengan Claries. Ia ingin segera pulang dan bertemu istri serta anaknya.
"Adrian sudah kau urus semua kepulangan kita besok?"
"Sudah pak, semua sudah siap"
"Apa Aurora dan ibu Anyelir mau ikut pulang bersama kita?"
"Sepertinya mereka butuh waktu untuk berpikir kembali pak. Tapi saya sudah menawarkan akomodasi kapanpun mereka ingin pulang tinggal menghubungi saya atau sekretaris bapak"
"Baik terimakasih Adrian"
"Sama-sama pak"
Adrian kembali ke kamarnya, ia menelpon Mitha. Adrian juga merasa rindu setengah mati berpisah jauh dari Mitha. Tidak biasanya ia se cengeng itu. Mungkin karena sekarang statusnya adalah seorang suami dan ayah maka semua terasa berbeda baginya.
"Mitha...aku merindukanmu" bisik Adrian di telepon menggoda Mitha.
"Aku juga, saking rindunya aku ingin menyusulmu. Oh ya bagaimana di sana sayang apa semua beres?"
"Iya semua beres, coba tebak siapa yang kami temui disini..."
"Siapa?"
"Ibu Anyelir dan anak wanitanya, kau ingat?"
.....
__ADS_1