CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 40 Kembali Melihatnya


__ADS_3

Aldi mengenakan stelan jas berwarna hitam. Ia terlihat rapi dari ujung rambut sampai kaki. Pagi ini ada konferensi pers tentang pembukaan lapangan kerja baru di salah satu kota yang tidak begitu besar tapi penduduknya cukup padat.


Kali ini bahkan ia bekerja sama kembali dengan perusahaan milik Fani. Aldi puas dengan kinerja Fani yang sangat bagus dan profesional. Meski selama bekerja sama, Fani terlihat dingin dan tidak mau bicara dengan adik iparnya itu. Aldi dan Claries belum resmi berpisah, Aldi sengaja membiarkan Claries pergi darinya tanpa surat perpisahan yang resmi.


"Selamat pagi pak" sapa Adrian yang juga tak kalah rapi.


"Apa semua sudah siap?"


"Sudah pak, wartawan akan berkumpul di loby perusahan pukul delapan tepat"


Aldi memasukan ponselnya kedalam saku jasnya dan berjalan menuju mobil. Adrian membukakan pintu mobil untuk Aldi.


Di perjalanan Aldi terlihat sibuk dengan laptopnya. Ia membaca dan membalas email dari para koleganya. Mobil yang di kendarai Adrian tiba di depan loby utama Zaman Group. Aldi turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.


Wajahnya terlihat dingin dan terkesan sangat berwibawa. Wartaman itu sudah siap dengan kamera mereka dan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


Aldi berdiri dengan percaya diri seperti biasanya. Beberapa kamera wartawan terlihat mengambil gambarnya.


"Bagaimana anda akan membuka lapangan kerjandi kota kecil itu pak?"


"Kami akan membuka perusahaan baru disana setelah berdiskusi dengan tokoh masyarakat. Disana mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh. Jumlah pengangguran tidak kalah banyak, jadi saya berpikir lebih baik jika membuka cabang perusahaan Zaman Group di sana"


"Apakah kali ini anda bekerja sama kembali dengan pak Fani Hendrawan?"


"Benar, setelah kerja sama pertama kami bejalan lancar dan memuaskan kami memutuskan untuk saling berdampingan membangun kerja sama baru"


"Apakah hubungan anda dengan pak Fani baik-baik saja? saya dengar beliau adalah kakak ipar anda"


***


"Claries kau tidak makan?" suara Firman membuat Claries tersadar dari lamunannya. Ia sedang berada di sebuah rumah makan sederhana, disana ada televisi yang menyiarkan berita secara live.

__ADS_1


Claries menatap wajah Aldi yang nampak di layar televisi. Pria itu tetap sama tidak berubah sedikitpun. Baik fisik maupun sikapnya yang dingin dan ketus. Wajah Claries memucat degup jantungnya terasa cepat. Ia sampai menjatuhkan gelas minumannya karena tidak sengaja tersenggol olehnya.


"Claries kau baik-baik saja?" Firman terlihat cemas dengan rekannya itu. Ia menatap layar televisi.


"Bukankah dia pengusaha kaya raya itu?" ku dengar ia menguasai beberapa perusahaan besar.


"Kau tahu dia?" tanya Claries sambil merapikan pecahan gelas yang tadi jatuh karena tersenggol olehnya.


"Ah tidak, hanya sering melihat wajahnya di televisi dan harian bisnis yang kadang nyasar sebagai bungkus makan siang"


Claries tertawa, setidaknya Firman tidak mengenal Aldi dan tidak mengetahui kisahnya bersama Aldi.


"Kau mengenalnya?" tanya Firman curiga.


"Aku ingin kembali ke rumah sakit sekarang, aku ada janji dengan pasien" kata Claries sembari melihat jam tangannya.

__ADS_1


"Baiklah ayo"


Keduanya berjalan kaki menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Claries hanya terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Firman dari tadi bercerita entah apa. Claries tidak memperhatikannya.


__ADS_2