CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Makanan Malam


__ADS_3

Amora berangkat siang karena prakteknya akan di mulai sore hari nanti. Ia bisa lebih santai sambil berbelanja untuk keperluan anak-anak panti.


"Nona.." sebuah suara menghentikan langkah Amora. Seorang pria tampan dengan stelan jas rapi berdiri di depannya.


"Kau Amora?"


"Benar kau siapa?"


"Kau tidak ingat padaku? aku Jaden kita pernah satu sekolah"


"Oh Jaden iya aku ingat, kau jagoan basket di sekolah"


"Kau mau kemana? jika tidak keberatan bisakah kita bicara sebentar, sudah lama sekali kita tidak bertemu"


"Baiklah"Amora mengiyakan ajakan Jaden. Sudah lama ia tidak pernah lagi bertemu dengan teman satu sekolahnya.


"Jadi sekarang apa pekerjaanmu?"


"Aku seorang dokter anak"


"Dokter anak? hebat sekali! kau selalu pintar sejak dulu"


"Kau sendiri bagaimana? sepertinya kau sudah sukses sekali? apa kau sudah jadi pimpinan utama di perusahaan milik mu?"


"Iya kau benar tapi aku bukan pimpinan utama, pimpinan utama jatuh ke tangan sepupuku Dylan"


Amora menoleh memandang Jaden saat pria itu menyebut nama yang tidak asing di telinga Amora.


"Kau bilang Dylan?"


"Benar Dylan Ibrahim, dia sepupuku"


Jadi dia bersaudara dengan pria galak itu.

__ADS_1


"Oh ya Amora kau ada praktek jam berapa? biar aku antar"


"Sore tapi aku harus bergegas sekarang aku naik taxi saja ..maaf ya"


"Tidak masalah lain kali aku akan menemui mu di tempat kerjamu"


"Baiklah...sampai jumpa Jaden"


Di kejauhan nampak Winy berjalan menghampiri Jaden. Winy memandangi senyum sumringah Jaden.


"Kau tampak ceria sekali, siapa gadis itu?"


"Dia teman sekolahku, dia gadis pintar dan sekarang ia bekerja sebagai dokter"


"Hebat sekali..."


"Kau benar dia memang hebat"


Wajah Winy berubah tidak senang. Ia merasa cemburu dengan gadis itu.


"Aku pasti datang, aku tidak ingin mengecewakan Dylan," Winy mencoba memanasi Jaden.


***


Di rumah keluarga Ibrahim sudah terlihat ramai dengan jajaran mobil mewah yang terparkir di halamannya yang luas. sang tuan rumah sudah terlihat rapi menyambut tamu mereka. Tuan Aldi dan nyonya Claries berdiri menjamu tamu dari kalangan pengusaha terlebih dulu. Sementara tuan mudanya sedang sibuk merapikan penampilannya di kamar.


"Tuan muda, nyonya memanggil anda" Ryuji menghampiri Dylan yang masih berada di depan cermin.


"Apa Winy sudah tiba?"


"Sudah tuan dan juga nona Amora"


"Amora? dia disini?"

__ADS_1


"Benar nyonya yang mengundangnya, ia datang bersama tuan Jaden"


"Jaden? hebat sekali dia bisa mengenal sepupuku"


Dylan menuruni anak tangga dan langsung di minta menembus sambutan oleh ayahnya. Selesai basa basi semua tamu undangan beserta tuan rumah langsung menikmati masukkan malam.


Jaden terlihat asyik berbicara dengan Amora sementara Dylan dan Winy mereka tidak bisa berkonsentrasi karena melihat dua orang itu.


"Sejak kapan sepupuku mengenal gadis itu?" tanya Dylan sembari menyesap wine di gelasnya. Winy tersenyum dalam hatinya ia cemburu dan kesal dengan wanita bernama Amora itu.


"Kau terlihat kesal?"


"Sama sekali tidak, mereka teman satu sekolah"


"Oh begitu...."


Amora memandang ke arah Dylan yang sedang berdiri memegang minumannya. Pria itu terlihat sangat tampan dan angkuh.


"Hai Amora kau sudah mencicipi hidangan makan malam kami?" nyonya Claries menyapa Amora.


"Sudah nyonya, sangat enak dan mewah sekali hidangan malam ini"


"Kau sudah bertemu Dylan?"


Amora menggeleng,


"Kalau begitu kemarilah, sapa Dylan dan papanya"


"Baik.."


Amora mengikuti langkah nyonya Claries dan meninggalkan Jaden sendiri.


"Dylan, ini ada Amora ...papa Amora ini adlah dokter spesialis anak di rumah sakit milik kita"

__ADS_1


"Dylan...." nyonya Claries menatap anak lelakinya yang terlihat acuh. Dylan lalu menyapa Amora karena terpaksa. Begitu juga tuan Aldi Ibrahim. Ia dan anak lelakinya sama dinginnya, Sama sekali tidak ramah.


Malam itu selesai cara di rumah keluarga Ibrahim, Amora pulang diantara Jaden. Sementara Winy diantar oleh Dylan ke apartemennya.


__ADS_2