CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 14 Fani Hendrawan


__ADS_3

Tampan dan berwibawa, bertubuh tinggi dan tegap. Fani bisa di bilang foto kopyan dari Gavin Hendrawan. Tapi Fani tidak ingin menjadi dokter seperti ayah dan ibunya. Ia lebih suka menjadi pengusaha.


Sejak Claries tinggal di rumah Aldi, Fani tinggal seorang diri di rumahnya. Hari-hari ia jalani dengan bekerja dan mengurus perusahaan yang ia bangun dari nol. Ia banyak belajar dari Gio Hedrawan adik ayahnya yang mengasuh Fani dan Claries sedari kedua orang tuanya tiada.


Fani beranjak dari tempat tidurnya, ia memeriksa ponselnya. Fani sedang membutuhkan seorang supir. Ada tiga kandidat yang lolos seleksi tinggal Fani mau pilih yang mana.


Fani menelpon sekretarisnya yang bernama Tasya. Semua urusan pekerjaan Fani di bantu oleh Tasya.


"Tasya suruh datang ke rumah kandidat supir yang sudah kamu seleksi"


"Baik pak"


Fani pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia mengguyur badannya di bawah shower. Selesai mandi Fani bergegas mengenakan stelan kerjanya. Ia berjalan menuruni anak tangga. Bi Wasti menyiapkan sarapan untuk Fani. Bi Wasti tetap setia ikut Fani setelah Gavin dan Bianca tiada.


"Bi nanti kalau ada yang mau bertemu saya suruh langsung tunggu di ruang tamu saja"


"Iya mas" kata bi Wasti lalu pergi ke dapur.


Tak berapa lama datang tiga kandidat supir untuk Fani. Salah satu diantara mereka adalah seorang gadis yang masih sangat muda.


"Siapa namamu?" tanya Fani pada calon supirnya.


"Liona pak"


"Berapa usiamu?"


"Dua puluh tahun pak"


"Sudah biasa mengemudi?"

__ADS_1


"Sudah pak, saya biasa nyupir taxi online sejak setahun yang lalu pak"


"Kenapa mau jadi supir saya? kamu tahu saya butuh orang yang cekatan dan reputasi mengemudi yang baik"


"Iya pak, untuk tambahan biaya adik saya sekolah pak"


"Orang tua kamu kemana?"


"Ada pak, usaha dagang kecil-kecilan"


"Kamu sendiri tidak sekolah?"


"Saya kuliah pak tapi berhenti dulu"


"Kenapa?"


"Sambil nabung dulu buat biaya kuliah"


"Kedokteran gigi pak, saya dapat beasiswa untuk semesterannya tapi untuk biaya hidup dan biaya praktek tanggung sendiri"


"Oke kamu boleh pergi nanti sekretaris saya yang akan mengabari kalau kamu lolos atau tidak"


"Baik pak"


Fani mengerutkan keningnya, gadis yang tangguh pikirnya.


Ia lanjut ke kandidat berikutnya, dua orang laki-laki.


Fani sementara berangkat ke kantor mengemudi sendiri. Ia mengejar waktu untuk meeting dengan presdir Zaman Group. Kedua perusahaan terlibat tender besar yang tidak main-main.

__ADS_1


Sesampainya di ruang kerjanya Fani segera memeriksa berkas untuk meeting dan menyiapkan materinya.


"Tasya, kamu cari tahu informasi tentang gadis bernama Liona yang melamar menjadi supir saya. Selesai saya meeting kamu sampaikan informasi itu"


"Baik pak"


Fani membawa tas kerjanya ke mobil. Ia meluncur menuju gedung Zaman Group.


Zaman Group perusahaan besar yang sangat berpengaruh di kalangan pengusaha lain. Kebetulan Fani terlibat proyek besar dengan perusahaan itu. Sebenarnya ia sangat malas bertatap muka dengan Aldi Ibrahim. Si pria brengsek itu berani sekali mengerjai adik kesayangannya.


"Selamat siang pak Aldi" Fani menyapa Aldi yang duduk dengan angkuhnya di kursi presdir. Adrian asisten setianya berdiri di belakang kursi Aldi.


"Selamat siang" jawab Aldi dengan wajah datarnya.


"Oh ya pak Fani Hendrawan selesai meeting saya ingin bicara sesuatu pada anda"


"Tentang apa? tentang kerja sama kita?"


"Bukan tapi adik anda"


"Claries? ada apa dengan dia?"


"Saya bilang nanti selesai meeting kita bicara"


Sial ingin sekali ku lempar laptop ini ke mukanya! memuakan sekali orang ini!.


Selesai meeting kedua orang ini bertemu di ruangan kerja Aldi. Suasana hati keduanya sedang buruk karena di meeting tadi mereka berdebat sengit.


"Anda mau bicara apa tentang adik saya?, segera katakan karena saya masih ada urusan lain!"

__ADS_1


Aldi berdiri dari kursinya dan menatap Fani Hendrawan dengan mantap.


"Saya ingin melamar adik anda untuk menjadi istri saya"


__ADS_2