
Dylan mengunjungi apartemen sahabatnya yaitu Winy. Seorang wanita muda yang terlihat cantik dengan pakaian yang sexy membuka pintu apartemen. Ruji gelagapan dan grogi melihat wanita itu.
"Tuan saya akan menunggu di mobil" Ryuji berjalan pergi. Winy langsung mengecup pipi Dylan begitu keduanya bertemu.
"Kau tidak mengabariku lebih dulu jika akan kemari" Winy mengajak Dylan masuk ke dalam apartemennya.
"Lain kali Ryuji akan menghubungi jika aku akan kemari"
Winy tertawa, wajah dan tawanya sungguh menggoda. Ia bukan hanya cantik tapi juga berkelas. Winy seorang chef ia bekerja di sebuah restoran ternama.
"Kau tampak selalu tampan" kata Winy seraya menyerahkan segelas anggur.
Dylan tersenyum memandang Winy yang berjalan ke dapur memasak sesuatu. wanita itu terlihat lihay memasak. Tidak berapa lama Winy menghidangkan makanan enak untuk Dylan. Keduanya mengobrol di sofa ruang tamu.
Dylan melepas jas dan dasi nya. Ia membuka dua buah kancing bajunya dan duduk bersandar di sofa.
"Kau terlihat lelah?" Winy merebahkan dirinya di bahu Dylan.
"Ya aku menyelesaikan pekerjaan lebih cepat agar bisa bertemu denganmu"
Dylan menatap lekat wajah Winy. Ia tertarik dengan wanita di hadapannya. Tapi sayang sekali Winy tidak menyukainya. Winy tertarik dengan Jaden sepupu Dylan.
Dylan pulang setelah mengobrol dengan Winy. di perjalanan tidak sengaja ia melihat dokter Amora sedang membawa dua anak kecil membeli makanan di sebuah stand.
"Ryuji hentikan mobilnya"
"Baik tuan..."
"Kau lihat disana, bukankah itu wanita menyebalkan di rumah sakit kemarin"
__ADS_1
"Oh benar itu dokter Amora tuan"
Dylan terdiam masih memandang Amora melalui kaca mobilnya.
"Apakah anda ingin saya turun dan menghampirinya?"
"Tidak perlu, ayo kita pulang"
"Baik tuan"
Sesampainya di rumah Dylan langsung berendam air hangat. Ia merasa lelah beberapa hari ini. Melihat Winy yang masih tertarik pada Jaden membuatnya kesal.
***
Dokter Amora bersiap mengenakan jas putihnya. Ia membuka jam praktek pagi sesuai jadwalnya hari itu.
Sembari menunggu pasien, ia membuat secangkir kopi dan memakan sandwich untuk sarapannya. Amora melihat daftar pasiennya hari itu. Cukup padat, siang ia juga akan melakukan home care untuk memberi vaksin pada anak.
Dokter Amora memberikan obat pada sang anak dan ia juga mengajak si ibu berbicara dari hati ke hati. Tidak jarang ia menemui ibu muda yang nyaris depresi karena kelelahan merawat anak-anak mereka.
Tiba-tiba seorang perawat yang dengan gugup memberi tahu dokter jika seorang anak baru saja tersenggol mobil. Dokter Amora bergegas ke ruang perawatan. Ia segera memeriksa kondisi anak itu. Luka di kakinya cukup parah tapi tidak ada yang serius seperti patah atau luka dalam.
"Dimana orang yang menabrak anak ini?"
"Sedang di ruang tunggu dokter"
Amora menemui orang itu, ia sedikit terkejut karena orang yang menabrak anak itu adalah asisten pribadi pemilik yayasan rumah sakit.
"Tuan, saya dokter yang menangani anak itu"
__ADS_1
"Saya Ryuji dokter, bagaimana kondisi anak itu?"
"Luka memar dan lecet cukup parah di kakinya, tidak ada patah atau luka dalam
kami sudah memeriksanya"
"Terimakasih dokter"
"Anda asisten pribadi pemilik yayasan bukan?"
"Benar saya asisten tuan Dylan Ibrahim"
Amora mengangguk,
"Baiklah, silahkan hubungi keluarga anak tadi dan saya akan menerangkan kondisinya"
"Baik dokter"
Amora berpapasan dengan Dylan. ia mendongak menatap pria itu yang juga sedang memandangnya dengan tatapan dingin.
"Bagaimana Ryuji?"
"Dokter Amora sudah memeriksa anak itu tuan, ia baik-baik saja"
"Aku tidak bilang anak itu baik-baik saja, aku mengatakan jika tidak terdapat luka serius bukan berarti itu baik-baik saja" kata Amora kesal. Anak itu pasti mengalami trauma atas insiden tadi.
"Baiklah lalu sekarang bagaimana?"
"Kita tunggu keluarganya tiba"
__ADS_1
Dylan berjalan pergi menuju ruang kerja ibunya. Dokter Claries sedang ada pasien jadi ia menunggu di luar.
Amora memandang Dylan dan Ryuji dari kejauhan. "Benar-benar menyebalkan!"