
Aldi terlihat menemani Claries memeriksakan kandungannya. Wajahnya nampak cemas tapi sesekali ia tersenyum senang menatap pergerakan janin dari layar monitor.
Semua nampak baik-baik saja di kehamilan 8 minggunya. Detak jantung janin juga sudah mulai terdeteksi.
"Kemarilah, anda ingin mendengar detak jantungnya?" tanya dokter Nevari. Dengan gugup Aldi berjalan mendekat.
Aldi masih merasa aneh karena sebelumnya ia tidak pernah melihat yang seperti itu. Jujur ia masih trauma ketika dirinya harus mendampingi Mitha dulu saat melahirkan Rio.
Claries lebih beruntung dari Mitha, ia mendapat perhatian penuh dari Aldi baik saat hamil maupun melahirkan anak mereka nanti.
"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Claries.
"Oh aku hanya teringat Mitha"
"Pasti dulu Mitha banyak mengalami kesulitan ya? karena ia harus melalui semua seorang diri"
"Benar sayang, ia berjuang seorang diri baik di masa kehamilan maupun melahirkan. Tapi....
ah sudahlah semua sudah terlewati. Kini ada Adrian di samping Mitha yang akan menjaganya lebih baik lagi dari sebelumnya"
"Iya sayang dan aku senang akhirnya kau memberi restu pada hubungan mereka"
Aldi tersenyum sembari merangkul bahu Claries, keduanya berjalan menuju tempat parkir mobil.
Di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, Aldi kepikiran nanti jika Claries akan melahirnkan. Apakah badannya yang kecil itu mampu menahan sakit saat persalinan.
"Hai kakak...." sapa Mitha begitu Aldi dan Claries turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Hai Mitha"
"Papa....!" sapa Rio.
"Halooo jagoan papa!" Aldi menggendong Rio sambil berjalan menuju ruang tamu rumah utama.
"Rio sudah makan?"
"Sudah pa.."
"Sudah belajar?"
"Sudah pa..."
"Lalu apa yang belum?"
"Baiklah kau boleh main game tapi hanya satu jam saja"
"Asyikkkk!" Rio berlari ke kamarnya dengan senang hati.
Claries juga menaiki anak tangga perlahan menuju kamarnya, Ia ingin beristirahat. Sementara Aldi masih duduk di ruang tamu memandangi adiknya. Di sudut ruangan berdiri Adrian yang seperti biasanya mengekor keberadaan Aldi.
"Ada apa kak?" tanya Mitha.
"Apa dulu saat kau hamil Rio kau merasa sakit?"
Mitha mengerutkan keningnya,ia tahu pasti Aldi sedang cemas dengan kondisi Claries.
__ADS_1
"Tidak sakit, hanya terkadang tidak nyaman. Apa lagi jika kehamilan sudah besar dan mendekati persalinan"
"Apa yang kau rasa? apa sakit sekali atau apa?"
"Kurang lebih saat tidur kepayahan, untuk terlentang tidak mungkin, untuk miring tidak nyaman, tidak leluasa saat berjalan dan duduk juga kerepotan"
Aldi terlihat semakin cemas dengan jawaban adiknya. Ia menggaruk dagunya dan menatap Mitha.
"Lalu saat persalinan?"
Saat persalinan bukankah kakak dan Adrian menemaniku di ruangan itu? jadi kalian pasti tahu keadaanku saat itu"
Adrian yang mendengar percakapan itu langsung teringat betapa Mitha sangat kesakitan saat akan melahirkan Rio. Selama kurang lebih 12 jam Mitha menahan sakit dan kepayahan karena pembukaan yang cukup lama. Dan saat itu Mitha kekeuh ia ingin melahirkan secara normal.
Aldi terlihat pucat, ia tidak membayangkan jika Claries akan melahirkan nanti. Badan Claries lebih kecil dari Mitha.
Bagaimana ia akan menahan rasa sakit itu?.
"Tenang kak, pada dasarnya wanita itu sangat kuat. Makanya mereka bergelar istri dan ibu. Kakak ipar pasti kuat dan baik-baik saja. Lagi pula ia seorang dokter ia pasti tahu banyak tips dalam menjaga kehamilan dan untuk persalinan nanti"
"Benarkah?"
"Tentu saja"
Aldi mengangguk lega. Ia mengusap kepala Mitha penuh sayang sambil berlalu menuju kamarnya menyusul Claries.
Dari kejauhan Adrian melihat Mitha, ia serasa ingin sekali memeluk wanita yang kuat dan tangguh itu, yang sudah berjuang seorang diri selama ini.
__ADS_1