
Sudah lama sekali Sondra tidak mendengarkan nama itu disebut. Keluarga Zaman yang dulu pernah menyelamatkan ia dan ibunya dari nasib buruk.
Ia tahu sampai saat ini ibunya masih menyimpan rasa pada pria bernama Ibrahim Zaman yang tidak lain adalah ayah tiri Sondra.
"Apa kau Adrian?" tanya Sondra tanpa memalingkan pandangannya.
"Benar aku Adrian" Adrian lega wanita didepannya memang Aurora yang mengganti namanya menjadi Sondra.
"Pergilah, kau mau apa mencariku? katakan pada bosmu kita tidak ada hubungan keluarga lagi"
"Pak Aldi ingin bertemu denganmu"
"Aku tidak bisa, aku sibuk. Pergilah Adrian"
"Apa aku boleh meminta nomor poselmu?"
"Tidak! pergilah" Sondra berjalan kembali masuk ke dalam bar untuk bekerja. Wajahnya terasa memanas dan di susut matanya membendung air mata yang hampir terjatuh. Ia ingat bagaimana hancurnya ibunya ketika pergi menghilang dari kehidupan keluarga Zaman.
Sondra tidak akan memberi tahu ibunya tentang pertemuannya dengan Adrian. Itu hanya akan membuka kembali kisah dan luka ibunya yang sudah berangsur membaik.
Sejak siang itu Sondra tidak lagi bisa fokus bekerja. Wajah Aldi dan kekuarganya membayang di benaknya dan tak mau hilang.
Sondra menyambar jaketnya dan berjalan pulang menuju apartemennya. Ia kali ini tidak menaiki kereta tapi lebih memilih berjalan kaki sepanjang 2km.
Di perjalanan pulang ia mampir membeli segelas kopi panas untuk mengusir udara dingin.
Sondra membayang beberapa tahun kehidupannya dengan ibunya belakangan ini yang sudah mulai membaik perekonomian mereka.
__ADS_1
"Permisi .." Sebuah suara bariton mengejutkan Sondra. Ia menoleh ke belakang mencari sumber suara berasal.
Hening, ......
Sondra terdiam mematung memegang gelas kopinya. Sementara dua pria di hadapannya berdiri memandangnya. Pria itu salah satunya yang ia tabrak kemarin di bar dan satu lagi yang baru ia jumpai tadi siang.
Dia pasti Aldi, Ia pernah menjadi kakak tiriku untuk beberapa waktu. Melihatnya berdiri di hadapanku aku merasa beruntung aku pernah mengenalnya dulu.
"Aurora?" Aldi membuka suaranya lagi. Wanita di hadapannya membuang muka, ketus dan dingin begitulah Aurora atau Sondra bersikap pada keluarga Zaman yang sudah membuang ia dan ibunya ke negara yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya.
"Namaku Sondra" ucapnya pendek.
"Tapi aku tahu kau memang Aurora bukan? apa kabarmu? dan bagaimana keadaan ibumu?"
"Untuk apa kau menanyakan ibuku segala? apa kau mengenalnya? kita orang asing yang tidak saling mengenal lebih baik urusi urusan masing-masing" Sondra melangkah pergi. Adrian mencoba mengejar tapi Aldi menahannya.
"Baik pak"
***
Sementara di Medina Hospital sedang terjadi keriuhan karena salah satu pimpinan politisi ternama skarat terkena tembakan dibagian dada. Politisi itu kehabisan banyak darah.
Dokter Claries meminta perawat menyiapkan cadangan beberapa kantung darah untuk berjaga.
"Bawa segera ke ruang operasi, kita harus mengeluarkan peluru di dadanya"
"Baik dokter"
__ADS_1
Media memburu dokter Claries mencoba mencari tahu kondisi terkini sang politikus ternama itu.
"Katakan pada para wartawan jika operasi akan di laksanakan sekarang, suruh mereka menunggu dan tidak membuat gaduh" Claries berbicara pada humas rumah sakit agar menghandel para wartawan di luar yang berkerumun.
"Baik dokter"
Dokter Claries segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Ia mengenakan baju kerjanya berwarna serba hijau.
Dokter Claries berjalan memasuki ruangan operasi dengan tangannya yang sudah steril dan di angakat keatas. Seorang perawat yang berada di dalam ruangan itu memakaikan sarung tangan steril pada dokter Claries.
Pembedahan di mulai. Alat bantu menancap di tubuh pria paruh baya itu. Claries mulai menyayat dan membedah baian yang tertembus peluru. Darah menyembur hingga mengenai wajah dokter Claries yang di balut masker.
Asisten dokter dengan sigap membantu membersihkan darah yang mengotori wajah dokternya. Dokter Claries mencari peluru yang bersarang di rongga dalam dengan alat. Ia bergegas menemukan benda itu karena pasien mendadak kritis.
"Dokter ada telepon dari dokter Wahyu"
"Biarkan dulu" dokter Claries tetap menjalankan tugasnya tanpa menghiraukan dokter Wahyu yang pasti cemas di luar ruang operasi.
Sebutir peluru berwarna emas berhasil di keluarkan. Dokter segera menjahit luka bekas sayatan.
"Tambahkan transfusi darah, ia kehilangan banyak darah"
"Baik dok"
Akhirnya setelah empat jam lebih di dalam ruangan yang menegangkan itu, dokter Claries keluar dan membersihkan diri. Ia tinggal memantau kondisi pasiennya.
Ponselnya berbunyi ada telepon dari Aldi......
__ADS_1
Bersambung..