
Adrian berjalan menuju lift, ia sudah kembali dari kota A. Aldi menugaskannya menemani nona Wang ke kota A. Di dalam Lift Adrian berpapasan dengan Mitha. Mitha terlihat diam mengacuhkannya dan sama sekaki tidak menghiraukannya.
Adrian memandangi wajah Mitha dengan heran. Adrian berjalan di belakang Mitha menuju ruang kerjanya. Meja kerja Mitha berada di depan ruang kerja Adrian karena ia adalah sekretaris Adrian.
"Mitha tolong carikan saya data ini dan di rekap" kata Adrian sembari memandang Mitha.
"Baik pak"
Mitha bergegas pergi dan melakukan tugasnya. Ia sama sekali tak mau memandang Adrian. Adrian kembali ke ruang kerjanya dan mengamati Mitha yang sedang bekerja dari balik dinding kaca ruang kerjanya.
"Mitha tolong bawakan file proyek A yang sudah di print out" kata Adrian di telepon.
"Baik pak"
Mitha masuk ke ruang kerja Adrian dan meletakan file tersebut di atas meja kerja Adrian. Mitha tetap sama tidak memandang Adrian. Ia terlihat dingin dan kaku.
Adrian yang duduk di kursi kerjanya mengamati Mitha.
"Jika tidak ada yang bapak perlukan lagi, saya harus kembali bekerja"
Adrian berdiri dari kursinya dan menarik tangan Mitha yang hampir berjalan pergi.
"Bisa kau jelaskan sebenarnya ada apa?" tanya Adrian yang masih memengang pergelangan tangan Mitha.
"Tidak ada, aku hanya sedang fokus bekerja"
__ADS_1
Adrian menyeringai, ia hapal betul perilaku Mitha sejak mereka kecil. Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu.
"Kau mau berbohong padaku?" Adrian menunduk dan berbisik di dekat kepala Mitha.
"Aku kesal sekali padamu!" akhirnya Mitha mengaku.
"Karena aku pergi dengan nona Wang?"
"Bagus kau tahu juga"
"Aku pergi bekerja bu Mitha binti Ibrahim Zaman yang cantik dan manis"
"Aku tidak suka kau pergi dengan dia!"
Mitha tahu Adrian tidak akan bisa membantah Aldi. Ia berbalik dan menepis tangan Adrian yang memegang tangannya.
Ada apa dengannya? wanita sungguh sulit dimengerti. Apa dia cemburu? untuk apa dia cemburu?
Siang itu Adrian kembali makan siang dengan nona Wang berdua saja. Karena Aldi sepertinya juga menghindari bertemu nona Wang jika itu tidak urgent.
Mitha sama sekali tidak melirik atau memandang Adrian dan nona Wang. Padahal keduanya makan siang di tempat yang sama dan meja mereka juga berdekatan.
Mita merasa kepalanya pusing sekali setelah meminum jus yang ia pesan. Sepertinya ia salah pesan, itu bukan jus. Mita mencium gelas minumannya dan benar saja ada sedikit aroma alkohol disana.
Mita berdiri sempoyongan, Adrian yang sedari tadi mengamatinya ikut berdiri dari duduknya dan akan menghampiri Mitha. Tapi Mitha sudah terlebih dulu besjalan ke arahnya. Ia menghampiri Adrian dan nona Wang.
__ADS_1
"Anda baik-baik saja?" tanya Adrian cemas.
"Nona Wang aku kesal sekali padamu! kau cantik, sexy dan kau terus saja berdekatan dengan Adrian! aku benci padamu!"
"Mitha apa yang kau....." Adrian belum menyelesaikan kalimatnya Mitha sudah keburu ambruk di pelukannya. Wanita itu pingsan.
Adrian memeriksa pesanan makan siang Mitha. Ia tahu kenapa Mitha jadi seperti itu. ia salah memesan minuman. Akhirnya Adrian menggendongnya menuju mobil dan meminta nona Wang pulang di antar supir perusahaan.
Adrian bingung harus mengantar Mitha pulang atau tidak. Karena jika Aldi tahu Mitha minum pasti ia marah besar. Dan jika Rio melihat ibunya seperti itu pasti juga akan bingung. Akhirnya Adrian menunggu Mitha sadar. Keduanya tetap berada di dalam mobil. Adrian memarkir mobilnya di area kosong sambil menunggu Mitha bangun.
Adrian menatap wajah Mitha yang tertidur pulas di dalam mobil. Ia tersenyum memandangi kulit halus Mitha yang terawat. Adrian ingat sewaktu kecil ia selalu diajak Mitha bermain dengan peralatan makeup. Mitha memakaikannya lipstik dan bedak.
Sekarang Mitha tumbuh menjadi wanita cantik. ia juga menjadi seorang ibu. Bahkan ia melalui kehidupan yang berat karena perbuatan lelaki yang tidak bertanggung jawab. Adrian ingin sekali selalu melindunginya dan Rio.
"Jika kau hanya diam memandangiku lebih baik kau antar aku pulang" Adrian terkejut ternyata Mita sudah bangun dari tadi. Mitha tahu Adrian memandanginya. Adrian langsung salah tingkah dan menjalankan mobilnya menuju rumah orang tua Mitha.
***
Claries sedang memeriksa pasiennya. Ia ingin segera pulang karena merasa sedikit lemas dan mual. Aldi sudah berpuluh kali menelponnya dan menyuruh pulang. Jika ia tidak menuruti bisa jadi masalah besar.
Claries melepas jasnya dan meraih tasnya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Lagi-lagi ia seperti melihat Liza. Claries berjalan cepat tapi ia tidak bisa menemukan Liza.
Apa aku perlu bertanya tentang Liza lagi pada Aldi.
Aldi selalu acuh dan menganggap sepele ketika Claries bertanya soal Liza. Aldi menganggap semua sudah beres. Liza sudah benar-benar pergi dari kehidupannya dan Claries. Tapi siapa tahu jika Liza ternyata masih dendam pada mereka.
__ADS_1