
Sondra menemui seorang pengusaha bernama Milano Wang. Milano adalah saingan bisnis Aldi, dan ia tertarik bekerja sama dengan Sondra untuk menghancurkan Aldi Ibrahim.
Sebenarnya tujuan utama Milano bukanlah Aldi melainkan Adrian. Ia menyimpan dendam pada Adrian sejak lama.
Milano menjadikan Sondra sebagai umpan setelah ia tanpa sengaja mengenal Sondra dan gadis itu bercerita tentang hubungannya yang kurang baik dengan keluarga Aldi. Saat itulah Milano mendapat celah untuk menghancurkan Adrian juga.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Adrian tuan?" tanya Sondra pada Milano.
"Kami kenal di masalalu, hanya sedikit urusan pribadi. kau tidak perlu tahu yang penting kita saling menguntungkan dalam kerja sama ini"
"Benar tujuanku adalah Aldi, jika kau mau Adrian aku bisa membantu untuk memancingnya masuk ke perangkapmu"
"Bagus Sondra kau gadis cerdas, jika aku jadi Aldi aku tidak akan menyia-nyiakanmu dan ibumu yang baik itu"
"Kau benar tuan, mereka orang jahat yang tega kepadaku dan ibuku"
***
"Apa kau sudah dapat informasi dimana Sondra menyimpan dokumen penting perusahaan?" Aldi berdiri menatap keluar jendela sembari berbicara pada Adrian.
"Belum pak, saya usahakan segera mengetahui dimana Sondra menyimpan dokumen itu"
__ADS_1
"Aku butuh secepatnya Adrian"
"Baik pak"
Adrian keluar dari ruang kerja Aldi di lantai dua rumah Aldi. Ia beranjak ke dapur menemui ayahnya yaitu pak Han.
"Ayah aku ingin mengobrol sebentar"
Pak Han yang sedang terlihat membaca berita online langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan mengikuti Adrian ke taman samping rumah. Adrian dan pak Han duduk di bangku taman.
"Apa ada sesuatu?" tanya pak Han sambil menyesap tehnya.
"Ada yang mengirimiku bunga tulip hitam lagi"
"Belum ayah, aku belum sempat mencari tahu siapa yang menerorku dengan bunga itu"
"Sepertinya teror ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Zaman"
"Benar ayah, aku merasa ada seseorang yang dendam atau membenciku bukan terkait dengan pak Aldi atau saingan bisnis kami"
"Berhati-hatilah, kau sekarang sudah tidak sendiri seperti dulu. Ada Mitha dan Rio di sisimu. Jangan lengah cepat cari tahu siapa musuhmu itu"
__ADS_1
"Baik ayah, aku sedikit lega setelah bicara dengan ayah"
"Apa pak Aldi tidak tahu masalah ini?"
"Sama sekali tidak, aku tidak akan melibatkan pak Aldi atau siapapun dalam masalah ini"
Pak Han menangguk, wajah paruh bayanya terlihat cemas. Ia menyayangi Adrian seperti anak kandungnya sendiri.
Sore itu Adrian pergi ke apartemen Sondra dan ibunya. Sondra sedang tidak ada di tempat jadi Adrian bicara dengan ibu Anyelir. Adrian mengajak bu Anyelir berbicara santai sambil mengamati apartemen itu.
Adrian sedang menerka kira-kira dimana Sondra menyimpan print out dokumen perusahaan yang ia mabil diam-diam sebelum keluar negeri.
"Adrian ku harap kau memaklumi tingkah Sondra"
"Tenang bu, saya mengerti. Mungkin Sondra masih kesal dan merasa terbuang dari keluarga pak Aldi"
"Benar Adrian, ia memang dendam tapi ibu sudah menasehatinya. Di luar negeri kami memang bekerja keras untuk menyambung hidup mungkin karena itu Sondra merasa tidak terima"
Adrian mengangguk dan tersenyum. Ia tahu bu Anyelir ini orang baik dan lembut. Berbeda dengan putrinya.
"Adrian apakah selama kami pergi, pak Ibrahim Zaman pernah bertanya tentang kami?"
__ADS_1
Adrian melihat wajah bu Anyelir. Ada harapan di sorot matanya yang teduh. Masih tertinggal sisa kecantikan di masa mudanya dulu. Sepertinya bu Anyelir memang mencintai pria yang sudah menolongnya dari jerat hutang itu.
Adrian hanya tersenyum, ia memang tidak pernah mendengar Ibrahim Zaman bertanya apapun tentang Anyelir dan anaknya. Ibrahim Zaman adalah pria pendiam dan tertutup. Ia tidak akan sembarang bertanya masalah pribadi, apa lagi dengan Adrian.