CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 102 Pasien


__ADS_3

Kembali ke Medina Hospital. Di rumah sakit itu terlihat kesibukan dan antrean yang lumayan padat di klinik kedokteran gigi.


Jam praktek dokter Liona dibuka sejak pukul 09.00 tadi. Dan ini masih ramai dengan pasien. Diantara pasien remajanya tidak jarang yang datang untuk memperbaiki struktur gigi mereka agar lebih bagus dan menambah percaya diri.


Akhir-akhir ini bahkan Liona mendapatkan pasien yang terinfeksi oleh penggunaan kawat gigi sehingga giginya yang terinfeksi dan rusak harus di cabut dan di ganti dengan gigi pengganti melalui metode tanam gigi.


Telepon di meja Liona berdering,


"Hai dokter Liona maaf mengganggu mu, bisa kau menemuiku selesai jam praktekmu?" ter dengar suara Claries di telepon.


"Tentu saja dokter, aku akan ke ruang kerjamu"


Setelah selesai dengan para pasiennya Liona bergegas menuju ruang kerja dokter Claries. Di sana berdiri seorang pria muda seusianya yang mengenakan jas putih.


Nampaknya pria itu juga seorang dokter. Liona menarik kursi di depan meja kerja dokter Claries.


"Dokter Liona perkenalkan ini dokter Frans spesialis kandungan. Dokter Frans, ini dokter Liona spesialis gigi"


"Hai ..." Sapa Frans menatap Liona dan tersenyum ramah.

__ADS_1


Apa maksud dokter Claries memanggilku kemari dan memperkenalkanku dengan dokter ini.


"Oh ya Liona bisakah kau mengajak dokter Frans berkeliling rumah sakit? ia baru disini"


"Tentu dokter, mari ikut saya"


Dokter Liona berjalan keluar ruang kerja dokter Claries di iringi dokter Frans.


Dokter Frans ini sangat ramah, ia juga tampan dan masih muda. Dari penampilan fisiknya jelas terlihat ia orang berada secara finansial.


"Kau sudah lama bekerja disini?" Suara dokter Frans membuyarkan pikiran Liona.


"Oh lumayan sudah ada dua bulan lebih"


"Tidak, begitu lulus aku mengikuti tes di rumah sakit ini dan beruntung sekali lolos"


"Oh begitu, sepertinya kita seusia"


"Benarkah?"

__ADS_1


"Bisakah kita berteman? aku baru di kota ini dan belum banyak kenalan"


Liona terlihat berpikir sejenak. Ia sebenarnya bimbang karena tidak ingin terlalu akrab dengan pria itu.


"Baiklah" Jawab Liona ragu. Frans tersenyum senang. Wajah orientalnya terlihat menyenangkan saat tersenyum.


Liona berjalan menuju halte bus. Ia memilih naik bus saja agar lebih cepat sampai ke rumah dan tidak terjebak macet karena bus itu memiliki jalur khusus yang tidak dilalui kendaraan lain.


Ia sibuk mengamati ponselnya, seharian Fani sama sekali tidak menghubunginya dan juga tidak membaca pesan darinya.


"Apa ia sedang sibuk jadi tidak menghubungiku?" gumam Liona.


Apa ia sedang bersama Tiara?


Wajah Liona berubah sedih, ia kesal jika Fani menemui Tiara. Ia ingin Fani bisa menjauh dari Tiara dan segera memberikan komitmen padanya.


Meski status mereka dekat tapi Fani tidak pernah menganggap Liona lekasih dan tidak juga secara terang-terangan mengenalkannya pada kekuarga atau temannya.


Hanya Claries yang Liona kenal, itu juga karena mereka dulu sering bertemu saat Liona masih menjadi sopir pribadi Fani.

__ADS_1


Liona masuk kedalam bus dan duduk di dekat jendela. Ia mengamati jalanan dari kaca jendela bus. Pikirannya melayang menebak Fani sedang dimana, Rasanya ia ingin menghampiri Fani ke rumahnya dan memergokinya bersama Tiara. Lalu ia akan marah dan memperingatkan Tiara agar menjauh dari Fani.


Liona menggelengkan kepalanya dan menepuk keningnya sendiri. Ia menyesal membayangkan hal gila dan tidak masuk akal tadi.


__ADS_2