CINTA DOKTER 2

CINTA DOKTER 2
Part 20 Bahaya Mengancam bagian 1


__ADS_3

Aldi bangun pagi sekali, ia sengaja joging pagi di sekitaran rumahnya. Yaya sudah menyiapkan susu tawar dan wafel hangat untuk Aldi. Pria itu berdiri sendiri menatap kolam renang.


"Selamat pagi pak" suara Adrian terdengar menyapa. Aldi berbalik dan menatap asitennya.


"Ada apa? kenapa sepagi ini?"


Adrian berdiri di hadapan Aldi sudah lengkap dengan stelan jasnya. Ia sudah nampak rapi seperti biasanya.


"Ada permasalahan dengan bisnis baru kita pak"


"Apa Fani melakukan kesalahan?"


"Bukan pak Fani tapi kelompok mafia yang meminta jatah atas proyek yang sedang kita jalankan"


"Berapa yang mereka minta?" Aldi sudah terbiasa berurusan dengan para bandit itu. Sudah sekian lama ia menjalankan bisnis keluarganya dan selama itulah ia banyak di jegal oleh para mafia penguasa wilayah tempatnya menjalankan bisnis.


"Mereka meminta setengah dari tender kita pak"


"Gila! selidiki tentang mereka. Pastikan mereka kita singkirkan!"


"Baik pak"


"Apa Fani tahu sola ini?"


"Saya rasa tahu pak"


"Adakan meeting dengannya pagi ini, aku akan membahas masalah ini"


"Baik pak"


Adrian berbalik pergi dan berpapasan dengan Claries yang tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan mereka. Claries berjalan mendekati Aldi.

__ADS_1


"Apa maksud pembicaraanmu dengan Adrian?"


Aldi terdiam ia berjalan dan meraih segelas susu tawar yang masih hangat diatas meja dekat kolam renang.


"Aku pengusaha besar hal seperti yang kau dengar barusan adalah sesuatu yang biasa"


"Tapi ini bahaya! bagaimana dengan kakakku?"


"Kakakmu bukan orang dungu pasti ia juga pernah mengalami dan ia juga tahu bagaimana menyikapi masalah seperti ini"


"Jangan menyeret Fani dalam bahaya!"


Aldi berbalik dan menatap Claries tajam. Ia heran kenapa sepagi ini istri mudanya itu begitu menggemaskan.


"Jika kau sangat menyayangi kakakmu dan takut ia dalam bahaya, suruh saja ia tidur dirumah dan jangan berbisnis dokter! semua pengusaha memiliki mental kuat untuk menjalankan usahanya"


Claries terdiam, ia tahu reputasi Aldi Ibrahim Tapi dengan Fani kakaknya Claries yakin pasti baru kali ini Fani akan menghadapi persoalan besar seperti ini.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu denganku dokter? bukankah aku suamimu? apa kau tidak memiliki rasa cemas itu untukku?"


"Tidak!" kata Claries sembari berjalan pergi meninggalkan Aldi yang berdiri menatap punggungnya. Ia tahu Aldi akan baik-baik saja yang ia cemaskan adalah Fani.


***


Fani sudah terlihat rapi dengan stelan kerjanya. Ia sedang sibuk memeriksa pekerjaannya sembari menunggu Liona supirnya tiba.


"Maaf pak saya terlambat" Liona berdiri sedikit membukuk, ia tidak enak karena terlambat datang bekerja.


"Kau terlambat lima menit" kata Fani tanpa melihat Liona. Ia tetap sibuk menatap laptopnya di atas meja.


"Maaf pak, orang tua saya sedang sakit dua-duanya jadi saya merawat mereka dulu sebelum berangkat"

__ADS_1


"Kenapa kau tidak profesional? seharusnya kau bisa merawat orang tuamu tanpa kau melakukan kesalahan terhadap pekerjaanmu. Saya paling tidak senang dengan orang yang tidak disiplin!"


"Maafkan saya pak"


Fani mematikan laptopnya dan memasukannya kedalam tas kerjanya. Liona membawakan tas itu kedalam mobil.


"Apa kau sudah membawa orang tuamu ke dokter?"


"Belum pak, tapi sudah minum obat dari apotik"


"Kenapa kau tidak membawa mereka ke dokter?"


"Bukannya saya tidak mau pak tapi...."


"Tapi apa?"


"Saya belum ada biaya pak, saya kan baru saja mulai bekerja dengan bapak"


Fani terdiam ia menatap jalanan kota yang semakin ramai.


"Suruh adikmu membawa kedua orang tuamu ke rumah sakit. Aku yang akan membayar tagihannya"


"Benar pak? terimakasih banyak pak" Liona terlihat sumringah. Ia memarkirkan mobil yang di kendarainya di pelataran parkir khusus pemilik perusahaan. Liona membukakan pintu mobil untuk Fani.


"Jangan lupa kabari adikmu di rumah"


"Baik pak, sekali lagi terimakasih"


Entah kenapa Fani senang melihat gadis itu sumringah.


Sementara sekretaris Fani mengabari jika ada meeting dadakan dengan Aldi Ibrahim di gedung Zaman Group. Fani bergegas menuju Zaman Group diantar Liona. Ia berjalan tergesa sembari memikirkan tindakan apa yang akan di ambil Aldi nanti untuk melindungi mega proyek mereka.

__ADS_1


__ADS_2