Cinta Selamanya

Cinta Selamanya
bab 103


__ADS_3

Key sudah di perboleh kan pulang tetap istirahat di rumah Alya selalu memantau Key dia tidak membiarkan Key pergi dari rumah.Padahal Key harus mencari tau rahasia kalung Radit.Sakira Alya dan Metha duduk di ruang tamu karna ada tamu ingin menemui Key


"Udah lama"ucap Key duduk di sofa ikut bergabung


"Baru aja "ucap nya menatap Key


"Mau apa lagi kau Dinda"ucap Metha serius ya yg datang itu Dinda


"Tan Metha aku tau aku dan keluarga ku jahat pada kalian jadi aku mewakili keluarga ku untuk mintak maaf sebesar-besarnya pada kalian"ucap Dinda bahkan dia berlutut


"Berdiri Dinda"ucap Metha


"Tante harap kau sunguh-sunguh"ucap Sakira


"Mama dan papa meninggal seminggu yg lalu di bunuh tapi aku bersyukur selamat"ucap Dinda memberikan cek


"Ini aku kembali kan uang tuan Zen saat membeli Metha tapi maaf uang nya aku pakai"ucap Dinda


"Apa benar mereka meninggal dan kamu gimana"ucap Sakira


"Iya tan tapi tenang saja aku akan pergi yg jauh dan menata hidup baru aku sudah capek menyerah hidup ku dengan tuan Panji"ucap Dinda sendu


"Baik lah kami maafkan"ucap Metha memeluk Dinda begitu pun Sakira


"Terimakasih tan"ucap Dinda


"Kau yakin Key apa yg kau minta dari ku"ucap Dinda serius menatap Key dan memberikan peta rumah Panji


"Tentu saja bukan kah memperjuangkan kebahagiaan itu ada dua pilihan mati atau kemenangan"ucap Key percaya diri


"Apa lagi yg kau akan lakukan Key momy ngak izinin ya"ucap Alya khawatir


"Momy jangan khawatir Key akan jaga diri"ucap Key


####


Alya tidak mengizinkan Key keluar dari rumah begitu pun Cakra tapi Key harus pergi ke Bandung untuk melakukan wasiat ayah nya Radit dengan terpaksa Key harus kabur ini pertama kali dia pergi tanpa memberi tau keluarga nya


Hoek hoek hoek


Samar-samar Zen mendengar suara orang muntah Zen meraba raba Metha yg tidak ada di samping nya Zen rasa Metha yg muntah segera dia melihat membantu Metha


"Kamu sakit"ucap Zen memijit tengkuk Metha


"Engak tau"ucap Metha muntah lagi dia benar benar lemas karna dari tadi dia muntah .Setelah rasa Metha tidak muntah lagi Zen mengendong Metha ke kasur dan membaringkan nya


"Abang Zen"ucap Metha manja


"Iya apa butuh sesuatu"ucap Zen


"Buka baju abang"ucap Meths membuat Zen mengerut kan kening nya karna bingung tapi Zen membuka baju nya dan telanjang dada. Metha langsung memeluk Zen membaringkan kepala nya di bidang dada Zen


"Kamu kenapa"ucap Zen bingung mengusap kepala Metha


"Ngak ada cuman mau peluk aja"ucap Metha mengusap kulit Zen sampai dia tertidur


Di lain sisi Key yg kabur setelah makan malam sudah berada di Bandung dia harus tepat waktu pulang nya sebelum keluarga mengetahui dia kabur


"Maaf kan Key mom ded tapi Key harus memeriksa apa benar apa yg di bilang nya itu benar"gumam Key menatap museum Panji


"Cukup banyak bodyguard nya bagaimana aku masuk"ucap Key lalu diam diam dia menyelinap masuk melalui jendela


"Seperti nya ini kamar"ucap Key menatap sebuah pintu kamar


"Apa yg di lakukan mereka"gumam Key menempelkan telinga nya di pintu mendengar ucapan penghuni dalam kamar


"Bodoh amat yg penting aku harus cari ruang kerja nya di mana"ucap Key berjalan karna penghuni melakukan kesenangan tersendiri penjaga di larang mendekati semua kamar dan berkeliaran karna mereka melakukan pesta mereka di dalam kamar masing-masih bersama wanita malam


"Menurut peta ini ruangan ini ruang kerja nya"ucap Key lalu masuk sesuai petunjuk yg di terima nya dia mengikuti Key memicingkan matanya ada seorang laki-laki paruh baya terbaring sebuah ruangan seperti penjara wajah nya penuh dengan berewok dan kumis rambut panjang seperti rambut wanita baru selangkah Key maju dia sudah tau jika ada seseorang

__ADS_1


"Pergi"ucap nya dingin


"Saya tidak butuh belas kasih kalian"ucap nya menajam kan telinga nya


Seperti nya dia buta tapi telinga nya sangat tajam.Batin Key


Key melirik jam di tangan nya sudah hampir shubuh waktunya tinggal sedikit Key mendekati laki-laki itu tapi saat Key berdiri di tempat laki-laki itu dia memukul Key bersyukur Key bisa menghindar


"Biadad bunuh saja saya "ucap nya tajam


"Anda siapa"ucap Key


"Siapa kau"ucap nya balik bertanya


"Tidak penting nanti saya akan jelaskan tapi bisa kah anda ikut saya biar saya bantu keluar dari sini"ucap Key


"Sudah lama saya berada di sini dan saya sudah ribuan kali kabur tapi tidak bisa"ucap nya sendu


"Jangan khawatir aku sudah tau jalan nya"ucap Key menarik tangan orang itu lalu menuju jalan sesuai petunjuk sampai lah mereka di jalan raya pria itu bisa merasa kan nya sampai dia meneteskan air mata


"Terimakasih nak saya sudah lama terkurung di sini dan hari ini kau membebaskan saya"ucap nya menangis Key menelpon orang nya tidak lama mereka pergi


"Nona sebaiknya nona segera pergi sebelum tuan Febri menyadari nya"ucap anak buah Key


"Baik lah kita ke tempat tujuan selanjutnya"ucap Key menjalankan mobil nya sendiri bersama orang itu karna dia akan mengambil kotak rahasia dan kalunag bulan nya


"Akhirnya selesai juga misi ini tapi aku harus segera pulang ini udah hampir pukul 7 pagi"gumam Key langsung pulang


"Ini dimana ya nak"ucap nya


"Bandung"ucap Key dia tidak ingin mengambil kesimpulan tapi sebelum pulang Key menyuruh orang itu membersihkan tubuh dengan setelah selesai mereka langsung pulang


"Maaf nak Key bisa kah kau antar aku pulang"ucap nya


"Kemana"ucap Key dia ingin tau siapa orang itu


"Kediaman Frasisko karna di sana keluarga saya dan saya pun tidak tau keadaan mereka"ucap nya


"Dimana anak istri ku bagaimana keadaannya"ucap nya menangis


###


Alya sudah menangis di ruang tamu karna saat dia melihat Key tidak ada di kamar nya rumah pun menjadi tegang


"Momy tenang Key akan pulang"ucap Metha menenang kan


"Momen takut hiks hiks hiks"ucap Alya memeluk Metha


"Gimana"ucap Sakira melihat Zen dan Cakra baru pulang mencari Key


"Huh! Key sangat bandel dia ngak ada di rumah teman-teman nya"ucap Zen melihat Cakra terdiam


"Mana anak ku mas"ucap Alya mencengkram baju Cakra


"Maafkan aku sayang tapi Key tidak bisa di temukan"ucap Cakra memeluk Alya


"Dari cctv di rumah dia pergi membawa tas dukung dia pergi memakai mobil kami sudah periksa keberadaan mobil nya mobil nya berada di bandara setelah itu informasi nya hilang begitu saja seperti Key sengaja biar tidak ketahui keberadaannya"ucap Cakra lagi


"Hiks hiks cari mas Key di mana"ucap Alya


"Iya sayang duduk dulu"ucap Cakra khawatir meliha kesedihan Alya


"Bang aku rindu Key"bisik Metha ke Zen


"Maaf ya aku ngak bisa temukan Key dia sedikit bandel"bisik Zen memeluk Metha membenam kan wajah Metha di dada nya


Houk huok houk


Tiba -tiba Metha ingin muntah dan menutup mulut nya berlari ke kamar mandi dapur Zen mengikuti nya Alya yg dari tadi menangis berhenti dan mereka saling pandang

__ADS_1


"Kamu ngak papa sayang"ucap Zen membantu


"Kamu ngak mandi ya bauk nya ngak enak"ucap Metha keluar dan menutup hidung nya


"Udah kok"ucap Zen dan mencium baju nya


"Masih harum lagi"ucap Zen ingin memeluk Metha lagi


"Ih bauk bang ngak enak"ucap Metha kesal lalu pergi meninggal kan Zen dan kembali duduk Metha menatap Alya lalu tiba- tiba dia duduk menyenderkan kepalanya di bahu Alya entah lah dia pengen aja


"Metha kenapa Zen"tanya Sakira


"Ngak tau ma dia kayak nya sakit dari semalam muntah terus tapi hanya muntah cairan bening"jawab Zen khawatir


"Serius"ucap Sakira dan Alya bersama


"Iya"ucap Zen


"Apa kau udah makan sayang"ucap Sakira dengan mengusap perut Metha


"Udah ma"ucap Metha males


"Rumah sakik yuk"ucap Sakira


"Mom aku ngak mau ke rumah sakit"ucap Metha manja ke Alya


"Emang kenapa"ucap Alya menepuk tangan Metha


"Jika nanti dokter bilang Metha akan tiada gimana"ucap Metha serius membuat Alya dan Sakira tertawa


"Ngak lah ajak Zen ya ke rumah sakit"ucap Alya


"Iya mama mohon"ucap Sakira mengusap perut Metha


"Ya deh yuk bang siap siap"ucap Metha menarik tangan Zen ke kamar


Zen menyisir rambutnya dan menyemprot kan parfum nya tapi Metha malah memberi tatapan tajam ke Zen membuat Zen bingung


"Ganti baju nya bau nya itu ngak enak"ucap Metha


"Kenapa"ucap Zen


"Ganti atau aku ngak mau ikut ke rumah sakit"ucap Metha dingin dengan terpaksa Zen menganti baju dan kali ini dia memakai parfum Metha


"Ck! ini makin ngak enak ganti aku ngak suka bauk nya"ucap Metha Zen hanya diam menantap Metha binggung


Ini kan parfum yg dia pakai kenapa bilang ngak suka bauk nya.Batin Zen


"Kamu ngak dengar ya apa yg aku bilang"ucap Metha melepaskan baju Zen dan melemparkan asal Metha mengambil parfum yg biasanya Zen pakai lalu menyemprotkan di tubuh Zen dan mencium tubuh Zen yg telanjang dada


"Ini baru pas"ucap Metha mencium tubuh Zen


Apa-apaan dia ini bukan nya kata nya ngak suka dengan bauk parfum ku tadi.Batin Zen dia kesal


"Jangan pasang wajah kesel seperti itu aku jadi tergoda"ucap Metha mencium bibir Zen dengan lama bahkan Metha menciumi bidang dada Zen dan leher Zen


"Sayang"ucap Zen merasa aneh


"Abang"ucap Metha mengalung kan tangan nya di leher Zen


"Iya kenapa"ucap Zen makin bingung


"Semalam kan kita tidak melakukan nya jadi Metha mau pagi ini "ucap Metha mulai mengajak Zen berbaring


Kenapa Metha agresif gini sih apa benar dia hamil dan tadi kan dia muntah.Batin Zen


"Abang mau kan"ucap Metha pipinya terasa panas


"Iya tapi kita ke rumah sakit dulu ya"ucap Zen tersenyum dia tidak sabar mengetahui Metha hamil

__ADS_1


"Abang ngak mau"ucap Metha menarik baju Zen


"Bukan gitu"ucap Zen dan merasa kan benda kenyal di bibir nya dan leher nya ternyata Metha sudah mencium nya kemana- mana Zen jadi menginginkan Metha karna Metha agresif jadi mereka ngak jadi ke rumah sakit nya


__ADS_2