
"Siapa?"ucap Zen cemberut karna Metha senang bertemu dengan seseorang yg di sebut Metha pahlawan
"Aku ngak kenal dia siapa tapi dia membawa ku pulang ke rumah nya baru aku kenal dia Zeno Dirgantara!"ucap Metha tersenyum lembut
"Hahah!itu aku"ucap Zen tertawa karna Metha senang bertemu dengan nya
"Hari ini aku ingin mengajak mu ke suatu tempat aku jamin kau akan senang jika kau sangat senang nantinya kau harus memberi hadiah pada"ucap Zen lagi
"Apa hadiahnya?"tanya Metha
"Ciuman di bibir!"tunjuk Zen di bibir nya membuat Metha melotot
"Mana bisa "ucap Metha cepat
"Bisa lah kita kan suami istri"ucap Zen
"Jika begitu nanti aku bakal ngak senang karna apa pasti aku malu mencium mu apa lagi di bibir"ucap Metha malu
"Kita lihat aja nanti seberapa kau tahan menahan nya"ucap Zen tersenyum
Setelah sarapan Zen mengajak Metha ke sebuah tempat yaitu rumah yg sudah di makan usia bahkan rumput di halaman nya sudah panjang mereka turun
"Bang tempat apa ini kenapa seram banget aku mau baca doa dulu biar ngak di nganggu setan di sini?"ucap Metha
"Yuk masuk"ucap Zen berjalan duluan dan membuka kunci rumah nya dan masuk
"Kok seram ya udah berapa lama tidak di tinggalin?"ucap Metha memeluk lengan Zen tempat nya kotor bahkan ada kecoa dam tikus Metha memang ngak jijik dan takut akan hal itu karna dia calon dokter
"Abang juga ngak tau tapi yg pasti tempat ini udah 30 tahun lebih la ngak di tempati!"ucap Zen menyalakan lampu nya terlihat rumah itu termakan usia bangunan nya juga bagus
"Yuk"ucap Zen mengandeng tangan Methan menuju ruang tengah ada foto pemilik rumah dan keluarga nya yg kusum dan berdebu
" Emang kemana pemilik nya dan ngapain abang mengajak ku ke sini?"ucap Metha
"Nyonya nya sudah meninggal saat melahirkan anak nya dan tuan nya membesar anak perempuan nya dengan sendirinya dia sudah meninggal dan sebelum meninggal rumah ini anak nya yg menepati tapi karna rumah sebesar ini hanya tinggal sendiri jadi dia pindah ke rumah lain!"ucap Zen melihat Metha membersihkan foto sepasang suami istri paru baya
"Cantik"ucap Metha menyentuh foto wanita itu
"Manis anak ini dan cantik banget eh kok jika di lihat dia mirip aku ya saat kecil"ucap Metha membersihkan foto seorang paru baya mengendong anak nya berumur 5 tahun dan tersenyum manis.Zen mengambil foto sepasang suami istri dan menunjukkan ke Metha
"Ini tuan Wijaya dan ini nyonya Wijaya"ucap Zen memperkenalkan mereka Metha hanya terdiam
"Dan lihat anak kecil ini dia anak mereka nama nya Sakira Wijaya"ucap Zen tersenyum
"J...jadi mereka orang tua mama?"ucap Metha terharu akhir dia mengetahui orang tua mama nya karna selama ini dia tidak pernah mengenal keluarga kedua orang tua nya
__ADS_1
"Iya nenek meninggal saat melahirkan mama Sakira dan kakek mengasuh nya sendiri dan kakek meninggal saat umur mama sekitar 23 tahun lah!"ucap Zen mengingat yg pernah momy nya jelaskan
"Rumah ini sengaja tidak di jual mama Sakira saat kalian pindah dia bilang ini warisan dari kakek!"ucap Zen lagi
"Dan ini momy dan mama"ucap Metha berbinar menyentuh foto dua anak kecil tersenyum manis
"Kok kamu tau jika ini momy?"ucap Zen
"Iya mata kamu dan momy sama! "ucap Metha terharu
"Hebat ya persahabatan momy dan mama sekuat itu dari sekolah TK ,SMP, dan SMA tapi mereka ngak kuliah bareng ya"ucap Metha menghapus air mata nya terharu melihat deretan foto pertumbuhan Alya dan Sakira
"Persahabatan mereka sempat putus kontak karna mama kuliah di luar negri kakek yg menyuruh dan mama ngak pernah memberi kabar momy saat mereka bertemu saat momy sakit setelah menikah dengan dedy kakek kan dokter pribadi Dirgantara karna sudah meninggal jadi mama menganti kan nya"jelas Zen
"Momy dan mama lucu ya saat masih kecil? "ucap Metha
"Nih album nya bawa aja jika mau semua foto kebersamaan mereka ada di sini bersama kedua keluarga juga!"ucap Zen
"Boleh aku bawah?"ucap Metha
"Tentu!"ucap Zen lalu mengajak Metha pergi ke tempat yg lain
"Kayak nya aku siap siap mendapatkan ciuman dari mu?"ucap Zen senang melihat Metha bahagia
"Iklas dong kan aku lakukan semua ini karna ingin membuat mu bahagia tapi aku juga harus dapet bonus dong"ucap Zen menaik turun kan alis nya
"Baik lah iya aku mau"ucap Metha malu
"Apa sekarang aku harus cium kamu?"ucap Metha mendekat kan wajah nya dengan pipi memerah
"Sabar dong tinggal satu lagi ngak sabar banget merasakan bibir aku!"goda Zen
"Ih abang kebiasaan deh goda aku terus"ucap Metha cemberut
"Udah yuk turun"ucap Zen turun bersama Metha di sebuah rumah lagi
"Ini punya siapa lagi?"tanya Metha tersenyum
"Lihat nama yg di samping pintu nya!"ucap Zen membersihkan papan nya yg ada nama pemilik nya
"Wijaya"baca Metha dan megerut kan kening nya
"Rumah ini pemberian dedy dan momy saat pernikahan mereka dan bentuk terimakasih karna sudah membantu mengurus perusahaan Dirgantara"ucap Zen membuka kunci pintu nya
"Kau pasti penasaran kan kenapa kami memanggil mu nama tengahmu Alsa ?"ucap Zen membuka pintu nya
__ADS_1
"Iya apa!"ucap Metha penasaran
"Nama tengah kamu itu bentuk penghargaan mama karna persahabatan mama dan momy yg seperti keluarga saat mama masih kecil dia hanya tau papa nya tapi setelah mengenal momy dan keluarga Anggara mama merasa kan kesempurnaan keluarga!"ucap Zen
"Alsa itu artinya Alya Sakira itu kenapa kami sering memanggil Alsa itu nama kesayangan kami!"ucap Zen menuntun Metha masuk ke ruang tengah
"Itu foto pernikahan mama dan papa?"tunjuk Metha berbinar pada foto besar di dinding
"Iya!"jawab Zen
Cup
"Terimakasih"ucap Metha senang dan mencium pipi Zen lalu mendekat
"Kebiasaan jika dia senang "ucap Zen terkekeh dan menyentuh pipi nya
"Ini siapa bang?"ucap Metha menunjuk 2 paru baya dengan berfoto dengan keluarga besar di situ juga ada oma dan opa Zen Metha udah tau karna dia pernah bertanya saat di rumah Dirgantara
"Oh itu nenek Ratna dan kakek Joy orang tua momy dan papa Refan!"ucap Zen
"Banyak banget ya foto kebersamaan mereka"ucap Metha senang melihat banyak foto
"Iya kau bawa aja nanti kita lihat sama sama saat di rumah nanti"ucap Zen ingin pergi tapi tangan nya di tahan Metha
"Aku senang banget bahkan bahagia banget hari ini bisa tau keluarga mama dan tempat tinggal mama dan papa kau tak ingin mengambil hadiah mu"ucap Metha malu
"Oh ya aku sudah melupakan nya"ucap Zen menarik pinggang Metha
"Tapi tutup mata dulu aku malu"ucap Metha pipi nya sudah panas dengan Ragu mengalung kan tangan nya di leher Zen
"Tentu"ucap Zen senang dan menutup mata nya
Duh ada apa dengan ku kenapa jantung ku rasa nya ingin keluar .Batin Metha
Metha mendekat kan bibir nya ke bibir Zen dan menempel kan nya memejamkan mata nya Zen menarik tengkuk Metha memperdalam nya mata Metha membulat dan terdiam apa yg di lakukan Zen .Metha juga tidak menolak meski dia tidak tau cara nya tapi dia hanya diam.Biar Zen melakukan sesuka nya Zen menuntun Metha berbaring di sofa masih melu*** bibir Metha yg hanya memejam kan mata nya cukup lama mereka berciuman Zen tidak ingin melakukan hal yg lebih dia mau Metha sendiri menginginkan nya Zen memperhatikan Metha yg memejamkan mata nya dengan pipi memerah
"Terimakasih meski kau tidak membalas nya aku senang mendapatkan kan nya"bisik Zen lalu mengusap bibir Metha dan berdiri Metha segera berlari tersipu malu atas apa yg mereka lakukan tadi
"Rapi kan baju mu kau mau di goda satu rumah nanti nya"ucap Zen masuk ke dalam mobil dan menjalan kan nya
"Hei sini lihat aku"ucap Zen terkekeh melihat Metha menunduk tersipu malu
"Ih aku malu ngak mau natap kamu"ucap Metha menutup wajah nya yg terasa panas
"Hahaha!kau ini ada ada saja"tawa Zen dan mengusap kepala Metha
__ADS_1