
Metha belum tidur karna menunggu Zen pulang dia sudah mondar mandir di ruang tamu dan kembali ke kamar dari tadi dia menghubungi Zen namun tidak tersambung
"Ya Allah lindungi suami hamba"doa Metha cemas
"Semenjak bang Zen pergi sampai sekarang belum ada kabar ini udah malem lagi"gumam Metha lalu duduk untuk menenangkan pikirannya
####
Di sisi lain Zen,Rina dan Keren bersembunyi dari kejaran Sandra dan anak buah nya karna mereka membawa senjata
"Zen kita harus hentikan pendarahan Keren"ucap Rina melihat darah Keren tak kunjung berhenti Zen melepas dasi nya dan membalut luka Keren kemeja Zen yg berwarna putih pun sudah lusu terkena darah Keren
"Zen kembalikan Keren jika tidak gue juga akan melenyapkan lho"teriak Sandra
"Zen gue cinta Sindi Zen dan Keren penghalang nya gue harus musnahin Keren"teriak Sandra lagi seperti orang gila
"Sandra emang gila mencintai sesama jenis apa lagi sampai ingin membunuh orang "ucap Zen
"Kita tetap di sini jika kita keluar bisa saja kita di bunuh lihat lah anak buah Sandra mereka banyak dan kita kalah jumlah apa lagi mereka semua membawa senjata"ucap Rina
"Sampai kapan Rin lihat lah Keren "ucap Zen
"Kita tidak bisa keluar Zen ini udah malem kita juga ngak tau arah jalan kita berdoa saja Keren bisa bertahan Sampai besok"ucap Rina
🌞🌞🌞
Metha bangun dan mandi setelah itu dia sholat shubuh dan doa
"Ya Allah lindungi la suami hamba dari bahaya meski hamba tidak mencintai nya tapi dia udah berarti dari hidup hamba ya Allah karna dia adalah kebahagiaan hamba lindungi dia ya Allah di mana pun dia berada aaminn"doa Metha dan keluar untuk membuat sarapan
Dari tadi Metha hanya mengaduk sarapan nya sesekali melirik pintu masuk meski dia tidak bilang jika gelisah dan khawatir tapi mama dan mertua nya bisa lihat dari wajah nya
"Zen ngak pulang semalam? "tanya Cakra tapi Metha tidak menjawab
"Metha "ucap Sakira menatap Metha
"Metha ada apa?"ucap Alya menyentuh bahu Metha itu membuat Metha kaget
"Mom"ucap Metha kaget
"Ada apa dedy mu bertanya di jawab? "ucap Sakira
"Maaf ma"ucap Metha pelan
"Zen ngak pulang semalam?"tanya Cakra lagi Metha hanya mengeleng dan menunduk
"Tuh anak udah punya istri masih aja kelayapan!"ucap Alya
"Emang kak Zen tidak menghubungi kakak?" tanya Key
"Ngak semenjak dia pergi sampai sekarang ngak ada kabar di telpon juga ngak bisa !"ucap Metha cemas
"Zen mungkin sibuk ngak sempat ngabari kamu"ucap Sakira
"Sekarang habisi sarapan kamu apa di mangkuk kamu ada wajah Zen sehingga hanya kamu lihatin aja"ucap Cakra
"Iya bukan nya nanti kita harus ke rumah sakit"ucap Sakira
"Iya ma"ucap Metha
####
Sakira lagi di latih berjalan oleh Sindi karna ibu nya lagi di luar kota sedangkan Metha hanya bengong
"Kaki tante sih kayak bisa deh sembuh tidak perlu di khawatir kan"ucap Sindi membantu sakira duduk di kursi nya lagi
"Iya tante bersyukur kesehatan tante cepat membaik nya bahkan lebih cepat dari dugaan"ucap Sakira
__ADS_1
"Aku lihat anak tante hanya bengong dari tadi?"ucap Sindi melirik Metha
"Oh biasa dia lagi mikirin Zen!"ucap Sakira tersenyum
Brak
Seseorang masuk dengan panik penampilan nya sudah lusu baju nya banyak darah bahkan wajah nya juga
"Bang Zen"ucap Metha langsung memeluk orang itu yg ternyata Zen
"Iya kalian di sini"ucap Zen
"Abang kemana dan ini kenapa abang banyak darah abang ngak kenapa -napa kan?"ucap Metha cemas
"Tenang abang ngak kenapa -napa ini bukan darah abang!"ucap Zen menenangkan Metha
"Zen cepetan Sindi udah masuk ke rumah sakit"ucap Rina di telpon
"Iya sabar Rin di sini juga ada mama dan Metha"ucap Zen menempel kan ponsel nya di telinga
Tok tok tok
Zen melihat arah pintu dan memberi kode untuk diam dan mendorong mama nya ke ruang lain lalu mengajak Sindi dan Metha
"Sindi"ucap nya yg ternyata Sandra
"Diam"bisik Zen
"Sin aku mau ngomong"ucap Sandra semakin mendekat dan tidak sengaja menjatuhkan pisau nya di dekat mereka yg banyak darah Metha melihat nya jadi gemetar dia teringat saat Panji menusuk papa nya Metha ingin bicara
"Aku mohon diam dulu"ucap Zen membekap mulut Metha yg ingin bicara Metha menggeleng dan gemetar ketakutan
"Tahan"bisik Zen, Metha mencenkram kemeja Zen karna ketakutan
"Sin Zen akan tiada jika kau menyembunyikan nya lihat pisau ini "teriak Sandra
Cenkraman Metha semakin kuat menahan ketakutan nya dan menangis sampai mengigit tangan Zen untuk menahan isak tangis nya karna takut
"Sin"ucap Sandra lagi
"Maaf nona mungkin dokter Sindi lagi ada pasien"ucap Suster masuk dan meletak berkas di meja Sindi
"Oh terimakasih sus"ucap Sandra tersenyum lalu pergi begitu pun suster itu
"Hiks hiks aku takut"ucap Metha
"Tenang ada aku"ucap Zen menangkup wajah Metha
"Maaf aku sudah melukai tangan kamu "ucap Metha melihat tangan Zen yg memerah karna dia mengigit nya
"Tidak apa apa sekarang pulang ya bersama mama"ucap Zen
"Tapi kamu gimana?"ucap Metha
"Zen cepat bantu aku kayak nya Sindi udah pergi "ucap Rina di telpon
"Kau yakin?"ucap Zen
"Iya cepat Zen!"ucap Rina
"Mari ikut aku"ucap Zen mendorong mama nya dan berhenti di ruang UGD
"Kalian tunggu di sini aku akan kembali"ucap Zen lalu pergi setelah 10 menit Zen kembali dengan mendorong brandar
"Keren"ucap Sindi membekap mulut nya karna syok
"Kau cepat periksa dia terluka dari semalam"ucap Zen
__ADS_1
"Dokter Bima"teriak Sindi memanggil dokter lain dan dokter itu segera mendekat
"Bisa tidak dokter tangani pasien ini"ucap Sindi karna dia tidak akan sanggup karna masih gemetar melihat keadaan Keren penuh dari luka
"Bisa dok"ucap nya
"Tunggu apa dia bisa di percaya jika dia berkhianat gimana"ucap Zen memicing kan mata
"Ngak ada waktu Zen kau mau melihat Keren tiada"ucap Rina dokter itu segera membawa Keren masuk dan menangani nya
"Sin kau juga obati lengan Rina dia menyelamatkan aku dan terluka"ucap Zen mengangkat lengan Rina yg luka
"Aku ambil obat nya dulu"ucap Sindi pergi
"Apa itu tidak sakit?"tanya Metha
"Tidak aku lebih tidak tega melihat adik kecil ku ini menjadi janda muda jika Zen terkena tusukan"ucap Rina mengelus kepala Metha
"Apa yg terjadi?"ucap Sindi duduk dan mengobati luka Rina
"Zen Rina"ucap Sindi melihat Zen dan Rina yg hanya diam
"Ahh aku sudah merindukan kan mu"ucap Zen menarik tangan Metha untuk duduk
"Ada apa sih ngak mau cerita apa ini ada hubungannya dengan Sindi"ucap Metha memperban lengan Rina
"Rina aja yg jelasin aku masih mau kangen -kangenan sama istri ku"ucap Zen memeluk Metha
"Ih banyak orang malu"ucap Metha
"Istri bukan nya kalian belum menikah"ucap Sindi
"Kata siapa kami udah nikah 2 minggu yg lalu dan satu minggu lagi resepsi nya"ucap Zen
"Kok bisa"ucap Sindi
"Bisa lah emang kamu ngak bisa"ejek Zen
"Zen sayang"ucap Sindi karna dia sudah kesal dengan Zen tidak ingin menjelaskan semua nya
"Haahha! abang lucu jika begini"tawa Metha melihat Zen yg cemberut menahan kesal
Cup
"Aku gemes deh lihat nya"ucap Zen mencium pipi Metha
"Ih aku malu"ucap Metha menutup wajah nya
"Hahah! aku makin gemes deh"ucap Zen tertawa melihat pipi Metha memerah
"Jadi ngak mau jelasin nih"ucap Sindi dan Rina menceritakan semua nya
"Masak sih kok aku jadi jijik pantas aja dia selalu datang ke rumah sakit ini buat ketemu aku,aku fikir memang dia butuh teman"ucap Sindi jijik
"Kau tau dia bahkan ingin membunuh ku saat kami menyelamatkan Keren"ucap Zen
"Kenapa ngak lapor polisi?"ucap Sakira
"Disana ngak ada jaringan ma dan kami langsung ke rumah sakit untuk menyelamatkan Keren belum sempat ma"ucap Zen
"Mungkin bentar lagi polisi datang karna aku udah telpon "ucap Rina
"Apa perlu Sandra harus masuk penjara?"ucap Metha
"Iya dia udah melakukan tindakan kriminal dan ini ngak bisa di diamin takut nya nanti dia akan melakukan hal yg lebih nekat!"ucap Zen
"Selamat siang tuan Zen"ucap polisi
__ADS_1
"Siang pak"ucap Zen berdiri
"Bentar ya aku bicara sama polisi dulu"ucap Zen menjauh dari Metha di ikuti Rina karna dia harus memberi kesaksian