
Key melihat Metha berlari ke arah nya dan segera memeluk dan menangis sesegukan.Key hanya mengehela nafas nya dan mengusap punggung Metha
"A...apa kakak sehina itu hiks hiks hiks?"ucap Metha menangis
"Oh ternyata cewek menjijikkan ini di sini"ucap seseorang menghina Metha
"Key ini yg kau perlu kan"ucap Bianca datang
"Bi titip kak Metha aku harus urus mereka dulu"ucap Key menuju kelas Dinda yg lagi berlangsung
Brak
Key menendang pintu nya yg ternyata dosennya Radit tapi karna Key sudah emosi jadi dia tidak peduli
"Key"gumam Radit merasa aneh dengan tatapan Key
"Sok berkuasa kau"ucap Dinda sinis
"Maaf kan saya nona Dinda"ucap Key tersenyum devil nya
"Ehm ehm pak boleh saya minta waktu sebentar"ucap Key dan Radit mengangguk Key memberi kode untuk seseorang masuk
"Kau tidak tau siapa yg kau hina itu ?"ucap Key tajam
"Siapa yg mau melemparkan telur ini di wajah Dinda aku kasih uang 5 juta perorang!"ucap Key santai
"Kau hitung berapa orang yg melepar dan kau kasi uang nya"ucap Key tersenyum licik
"Bukan kah kau ingin menunjukkan kekuasaan mu dan yg kau hina itu bukan lah selemah kau pikirkan"ucap Key
"Key apa kau tak bercanda kami akan mendapatkan uang 5 juta?"ucap seseorang semangat
"Tentu saja! "ucap Key tersenyum semua orang mengambil telur yg sudah di sedia kan dan melepari telur ke Dinda
"Key kau tak tau siapa aku?"teriak Dinda
"Aku tau siapa kau dan keluarga mu jadi aku peringatkan jangan menganggu nona Metha!"ucap Key tajam lalu pergi biar orang suruhan nya menyelesaikan tugas mereka
"Key tunggu"ucap Radit memegang tangan Key
Plak
Key menampar Radit dan Radit hanya tersenyum dan terkekeh
"Kau tak pernah berubah Key "ucap Radit menyentuh pipi nya
"Menjauh lah dari ku"ucap Key tajam
"Tidak"ucap Radit mendekat
"Menjauh"teriak Key ingin menangis
"Key"ucap Bianca dan Metha bersama
"Kenapa kayak rame banget di sana?"ucap Bianca
"Oh biasa mereka melempar telur dan di kasih uang 5 juta! "ucap Key santai
"Key kau memang kejam teman mu membutuhkan uang kenapa kau tak memberi tau ku "ucap Bianca ingin pergi
"Lama-lama kau yg akan ku pukul kemari tugas mu belum selesai"ucap Key menarik baju Bianca
__ADS_1
Pletet
"Key perut ku kelihatan"ucap Bianca menyetil kening Key
"Kau menguji kesabaran ku"ucap Key ingin memukul Bianca
"Key ikut keruang saya sekarang karna sudah mengganggu kelas saya"ucap Radit tegas lalu pergi
"Key pak Radit menyuruh mu ke ruangan nya ayo cepat"ucap Metha
"Bodo amat"ucap Key ingin pergi
"Key"ucap Metha
"Iya iya"ucap Key kesal dan pergi masuk ke ruangan Radit
Key duduk di depan Radit yg hanya memandang nya dengan tersenyum jika Key tidak melihat kejadian kemarin pasti Key sudah tersipu malu cukup lama Radit memandang Key tiba-tiba ponsel nya berdering
"Iya kak"ucap Key menempel ponselnya di telinga
"Kau di mana Key kakak udah datang bersama Zen?"ucap Rina di telpon
"Tunggu aku ke parkiran!"ucap Key memutuskan sambungan telpon nya
"Bapak membuat waktu ku"ucap Key tajam lalu pergi
"Kak Metha disini?"ucap Key melihat Metha di depan ruangan
"Mari kak"ucap Key menuju parkiran
"Bang Zen"ucap Metha segera memeluk Zen dengan erat
"Kau kenapa?"ucap Zen mengelus kepala Metha
"Ada apa sih Key?"ucap Rina Key menceritakan semua nya
"Mau mati tuh orang"geram Rina
"Zen"ucap Dapit datang
"Gimana sih Pit istri gue dua kali tersiksa pertama dia di bully sekarang dia mendapatkan hinaan"ucap Zen
"Sorry Zen gue ngak bermaksud buat lho kecewa tapi ini masalah nya nyawa Zen Dinda itu adik dari Jaka Fransisko mafia yg terbunuh 20 tahun lalu dan mereka menemukan Dinda saat satu bulan yg lalu mereka mengangkat Dinda sebagai pimpinan mereka"jelas Dapit
"Aku sudah memberi nya pelajaran aku ngak takut dia siapa"ucap Key tajam
"Gue ngerti sekarang permasalahan nya dimana"ucap Rina menuju aula karna di sana sudah di kumpul kan semua mahasiswa dan mahasiswi dan dosen
"Mohon perhatian semua"ucap Dapat berpidato
"Saya akan menjelaskan tentang berita yg sedang beredar dan di samping saya sudah ada tuan Zen"ucap Dapit mempersilakan Zen bicara
"Siang semua saya akan menjelaskan tentang kesalahan pahaman jadi Sakira Wijaya itu mama nya Metha wanita yg kalian anggap hina ini"ucap Zen merangkul Metha
"Beliau adalah teman momy saya dan saya sudah lama mencintai nona Metha mereka menghilang karna suatu kejadian saat itu Metha ingin di jual oleh seseorang saya tidak tau jika dia orang yg selama ini saya cintai saat saya tau saya menyelamatkan nya dengan membayar pada yg ingin menjual nya dan setelah satu minggu pertemuan itu kami menikah dan resepsi nya di adakan beberapa bulan yg lalu semua berita yg ada itu hanya salah paham"jelas Zen
"Dan buat orang yg tidak suka dengan kehadiran istri saya,saya harap dia tidak menganggu nya lagi sudah cukup kau menyiksa nya jangan sampai membuat kami marah"ucap Zen santai dan turun ke bawah
"Terimakasih"ucap Metha memeluk Zen mereka berada di mobil karna akan pulang Zen tidak ingin berlama-lama di kampus
"Cium dong"ucap Zen tersenyum
__ADS_1
Cup
"Oh udah berani ya"ucap Zen menggoda
"Ih kan tadi abang yg minta"ucap Metha malu
"Iya-iya "ucap Zen menghentikan mobilnya di restoran
"Kita makan disini?"ucap Metha
"Iya turun yuk"ucap Zen mereka turun dan mencari tempat untuk makan
"Jangan terlalu kau fikirkan semua nya akan baik -baik saja"ucap Zen mengeles wajah Metha
"Apa benar Dinda pemimpin mafia?"ucap Metha memandang Zen
"Permisi tuan"ucap pelayan meletakkan makanan nya dan mereka mulai makan
"Aku juga ngak tau biar Key dan Rina mengurus Dinda!"ucap Zen menyuapkan makanan nya begitu pun dengan Metha
"Zen ya"ucap seseorang menepuk bahu Zen
"Iya siapa?"ucap Zen
"Melati!"ucap nya langsung memeluk Zen
Apa dia ngak sopan di sini istrinya.Batin Metha kesal
"Maaf"ucap nya senang
"Dulu kita pernah ketemu di Mall"ucap Melati senang
"Maaf aku ngak ingat"ucap Zen
"Ngak papa kok"ucap nya tersenyum ke Zen
"Aku pergi dulu ya Zen"ucap nya mencium pipi Zen lalu pergi Metha hanya memasang wajah kesal nya
"Eh maaf tadi dia hanya teman"ucap Zen mengerti tatapan Metha
"Aku udah makan nya"ucap Metha kesal selera makan nya sudah hilang hati nya terasa nyeri melihat wanita itu memeluk dan mencium Zen
"Mau ke kantor ku?"ucap Zen
"Ngak usah mau pulang aja!"ucap Metha pergi Zen membayar makanan mereka lalu ikut Metha
"Maaf "lirih Zen di perjalanan Metha hanya diam meski diajak Zen bicara dia benar sudah kesal
"Udah ada istri masih aja menerima pelukan dan ciuman wanita itu mana wanita cantik lagi"gumam Metha pelan tapi Zen bisa mendengar dan tersenyum
"Aku balik kantor lagi ya?"ucap Zen setelah sampai rumah
"Iya itu lebih baik aku sangat kesal pada mu!"gumam Metha lalu turun dan masuk Zen segera pergi
"Enak saja cium dan peluk suami orang sembarangan dan bang Zen lagi kenapa ngak nolak dasar cowok mana cewek itu cantik lagi"ucap Metha berjalan dengan kesal memasuki rumah Sakira dan Alya yg ada di sofa tidak di peduli kan Metha
"Awas aja jika nanti ketemu wanita itu dan nempel lagi sama bang Zen aku bejek tuh cewek "ucap Metha geram naik ke kamar nya
"Kayak nya anak kamu lagi cemburu"ucap Alya ke Sakira mereka lagi membaca buku
"Ya semoga saja Metha segera mencintai Zen biar kita ngak kesepian dan mereka segera memberi kita cucu"ucap Sakira tersenyum
__ADS_1
"Makan nya anak itu jangan cuman satu lihat kau jadi sendiri kan jika anak mu udah nikah kayak aku dong masih ada Key meski Zen udah nikah"ucap Alya bangga
"Itu aja bangga tapi benar sih saat Metha lahir dulu sebenarnya mas Jeky ingin memiliki 3 atau 5 anak kata nya biar ngak kesepian saat anak anak nikah tapi aku ngak mau "ucap Sakira tersenyum