
Setelah dari rumah sakit mereka pulang selama perjalanan Metha menatap Zen entah apa yg di fikirkan nya dan Rina sudah kembali ke kantor ayah nya
"Key apa kau punya ide bagaimana menghindari ketua cerewet dia pasti banyak tanyak melihat tangan ku"ucap Zen di dalam mobil
"Kanapa ngak jujur aja?"ucap Metha
"Jika jujur momy akan mengkhawatirkan mu dan rencana kita bisa gagal!"ucap Zen
"Sebenarnya apa yg terjadi?"ucap Sakira
"Entah lah ma mereka bermain teka teki dengan ku aku binggung jadi nya musuh Keren apa Sandra!"ucap Zen
"Jika menurut ku Keren bukan pelaku nya karna apa jika dia memang ingin menghancurkan abang kenapa dia mencegah abang buat masuk ke dalam gudang tadi"ucap Metha masih memandang Zen
"Aku setuju dengan kak Metha"ucap Key
"Sahabat yg benar itu dia tidak membiarkan sahabat nya terluka dan dia akan mengalah demi kebahagiaan sahabat yg lain"ucap Sakira
"Iya juga sih ma tapi mereka sama sama di situasi yg sama saat di pesta itu saat di Cafe dan sekarang mereka selalu terlibat"ucap Zen mobil mereka pun sampai dan mereka masuk kedalam rumah
"Tuh kan lihat lah tatapan nya"ucap Zen melihat Alya mondar mandir
"Zen kau ajak kemana mereka lama banget buat momy khawatir tau ngak"ucap Alya marah
"Momy tenang dong Zen cuman ajak mereka jalan -jalan"ucap Zen
"Ini udah hampir sore"ucap Alya mengambil kayu yg sering dia pukul jika anak nya berbuat salah
"Momy jangan pukul bang Zen dia udah terluka"ucap Metha memeluk Zen supaya tidak kena pukul
"Metha"ucap Alya
"Metha mohon mom"ucap Metha mempererat pelukan nya sebenarnya dari tadi dia ingin memeluk Zen karna membuat mama nya bisa bicara dan mengkhawatir kan Zen
"Kenapa aku tidak apa apa momy mukul ngak keras itu biar kami ngak melakukan kesalahan"ucap Zen mengusap pundak Metha
"Benaran tapi aku khawatir sama abang dan tadi terimakasih udah nyelamatkan mama"ucap Metha mendongak
Cup
"Nah aku sudah sembuh karna mencium mu"ucap Zen mencium pipi Metha
"Ih aku malu banyak orang"ucap Metha membenamkan wajah nya
"Iya iya maaf"ucap Zen mengusap kepala Metha
"Ehm ehm"dehem Alya
"Kau makin tua makin cerewet"ucap Sakira membuat Alya menatap nya dan tak percaya
"Hah !kayak nya telinga ku bermasalah"ucap Alya tidak percaya
"Oh pendengaran kau udah rusak ya nyonya Alya Dirgantara"ucap Sakira tersenyum
"Sa kau udah bisa bicara?"ucap Alya memeluk Sakira dan meneteskan air mata
"Hei apa semenjak aku tinggal kau menjadi cengeng!"ucap Sakira melepas pelukan nya
__ADS_1
"Enak aja ngak ada ya"ucap Alya
"Engak kok ma momy ngak cengeng cuman jika dulu dia cerewet dan sekarang cerewet nya pakai banget"canda Zen
"Nih anak ngak takut dosa kayak nya"ucap Alya
"Zen tangan kamu kenapa?"ucap Alya khawatir melihat tangan Zen
"Biasa mom perjuangan cinta!"ucap Zen menarik turun kan alis nya
"Anak momy itu sok jagoan jadi gitu deh"ucap Key santai dan duduk di sofa
"Nanti aja ya mom jika mau memarahi Zen"ucap Zen
"Zen mau membersihkan tubuh capek"ucap Zen lalu pergi ke kamar nya
"Metha mau bantuan bang Zen"ucap Metha lalu pergi
Zen membuka kancing baju nya dengan pelan karna dia mau mandi dan istirahat kejadian tadi menguras tenaga nya
"Biar aku bantu"ucap Metha dari belakang dan membantu Zen
"Pipi nya jangan memerah ya"ucap Zen ingin menggoda karna melepaskan kemejanya lalu mengambil handuk nya untuk mandi
####
Setelah makan malam Zen berbaring dan tertidur tangan kiri nya di letak kan nya di kening dan tangan kanan yg terluka di atas perut nya.
Metha masuk dan melaksanakan sholat Isya setelah itu dia berbaring memandang Zen
Metha memberanikan diri mengeser tidur nya mendekat ke Zen dan mengangkat tangannya menyentuh wajah Zen dengan lembut
"Sungguh besar cinta mu pada ku dan kau pantas mendapatkan kebahagiaan jika aku yg membuat mu bahagia maka aku akan melakukan nya"gumam Metha meletakkan tangan Zen yg terluka di wajahnya dan dia memeluk Zen dan memejamkan matanya
🌞🌞🌞
Zen membuka mata merasa kan pelukan yg erat yg ternyata Metha memeluk nya dengan erat Zen tersenyum melihat nya meskipun Metha tidak mencintai nya setidak Metha mau menerima nya.Zen pelan -pelan turun dari kasur nya dan mandi setelah itu Zen keluar dari kamar
"Abang Ngapain di situ?"ucap Metha melihat Zen berdiri di tengah rumah
"Metha kau ngangetin abang aja!"ucap Zen menyentuh dada nya
"Lagian abang kenapa berdiri di situ?"ucap Metha menarik tangan Zen duduk di sofa karna dia mau menganti perban nya
"Aku cuman menghapal setiap sudut rumah jika nanti ada tidak beres"ucap Zen
"Luka nya bakal lama ini sembuh nya ini cukup besar luka nya"ucap Metha mengoleskan salap nya dan meniup nya
"Ini akan sembuh dengan sendiri nya"'ucap Zen tersenyum
"Ini pasti sakit?"ucap Metha membalut tangan Zen dengan perban nya
"Ngak lah lebih sakit jika kau pergi dari hidup ku"ucap Zen
"Aku janji tidak akan pergi sampai maut memisah kan"ucap Metha tersenyum
"Terimakasih"ucap Zen tersenyum dan memeluk Metha
__ADS_1
"Ehm ehm"dehem seseorang
"Mama"ucap Zen dan Metha
"Dikamar aja biar mama cepat dapat cucu"ucap Sakira yg di dorong oleh Key
"Nanti lah ma Zen harus berjuang mendapatkan hati nya anak mama dulu"ucap Zen
"Zen anak mama ini masa remaja nya tidak seperti anak yg lain bersekolah pacaran dan jalan-jalan anak mama ini bersekolah mengurus mama dan bekerja dan menjadi pembantu di rumah om nya"ucap Sakira memandang anak nya merasa kasian
"Ma Metha bahagia kok menjalani itu semua apa lagi sekarang ini mama udah mulai sembuh Metha udah bahagia kok"ucap Metha berlutut di depan Sakira
"Seharusnya kehidupan mu ngak kayak dulu di siksa oleh om di pukul apa lagi Dinda yg sering nyiksa kamu mama tau semua"ucap Sakira meneteskan air mata mengingat penderitaan anak nya
"Mama tenang saja dulu mungkin Metha menderita tapi sekarang dia akan bahagia"ucap Zen berlutut di depan Metha
"Hati mu sakit dan hancur karna penderitaan maka ambil lah hati ini untuk menganti kan hati mu yg hancur"ucap Zen membentuk tangan nya bentuk love dan memberikan ke Metha .Metha terkekeh dengan tingkah Zen setiap ucapan dan tingkah Zen selalu membuat Metha tertawa karna tingkah Zen yg konyol
"Alay "ejek Key
"Sirik aja"ucap Zen duduk di sofa karna hari libur jadi dia tidak bekerja
"Mau tau ngak beda nya kamu sama superman"ucap Metha tersenyum
"Apa?"ucap Zen
"Superman pahlawan semua dan kamu pahlawan dalam hidup ku!"ucap Metha menyembunyikan wajahnya di bidang dada Zen karna malu
"Mama jantung Zen berhenti berdetak karna anak mama bilang hal yg indah"ucap Zen menyentuh dada nya
"Ya allah kenapa aku mempunyai kakak yg lebay"ucap Key frustasi
"Cie mulai berani ya bilang kayak gitu"ucap Zen menoel hindung Metha
"Kenapa kau sering banget menggoda"ucap Metha makin malu
"Iya aku sering menggoda dan dengan mu aku selalu tergoda"ucap Zen menaik turun kan alis nya
"Zen Zen kau sangat mirip dengan momy mu"ucap Sakira tersenyum
"Oh ya Key nanti saat acara kecil -kecilan itu kakak minta kau temani Metha di kamar mu dan Rina yg akan di kamar kakak untuk mengecoh mereka nanti"ucap Zen serius
"Apa ngak membahayakan Rina bang?"ucap Metha
"Kau tenang saja insyaallah ngak karna apa dari kami bertiga jika menyangkut masalah perang kayak gini Rina jago nya karna papa nya mantan mafia dan hampir seluruh keahlian papa Refan di kuasai nya! "ucap Zen
"Menurut ku ya kak mereka hanya mengancam ingin membunuh kak Metha karna apa tidak terjadi apa apa dengan kak Metha"ucap Key
"Tapi kita ngak bisa remehkan mereka aku hanya berharap musuh ku bukan sahabat ku karna aku ngak mau melawan mereka"ucap Zen
"Meski Sandra selalu menyatakan cinta nya dan aku tolak dia ngak pernah kayak gini sampai ingin membunuh dan Keren dia sama seperti Sindi sejauh aku mengenal nya dia ngak pernah sampai melakukan hal seperti itu"ucap Zen
"Jika menurut mama kalian harus berhati-hati sama wanita itu karna apa saat di gudang dia mengangkat tangan bukan untuk melepaskan ikatan tali tapi buat menampar Metha"ucap Sakira
"Mama tau dari mana?"ucap Metha
"Kau melupakan mama ini seorang dokter mama bisa ngerti mata dan bahasa tubuh nya dia tidak suka dengan kehadiran mu!"ucap Sakira
__ADS_1