Cinta Selamanya

Cinta Selamanya
bab 87


__ADS_3

Dor....


Dor...


Dari jauh mereka menembak ban mobil Zen karna ban nya pecah mobil Zen tidak terkendali jadi Zen menghentikan mobil


"Ayo kita lari"ucap Zen keluar di ikuti Metha


"Hei jangan kabur"teriak nya


Dor...


"Sial meleset"umpat nya dan mengejar nya lagi


"Bang aku takut"ucap Metha


"Tenang"ucap Zen menenang kan mereka berlari menuju hutan


"Kena kalian"ucap Dinda mengepung Zen dan Metha


"Bang"ucap Metha mengerat kan pegangan tangan nya


"Habisi mereka"ucap Dinda


Dor....


Dor...


Dor...


Seketika orang yg mengepung Zen dan Metha terjatuh mereka melihat siapa yg menembak


"Kenapa bisa ada Mafia RF?"ucap orang kepercayaan Dinda yg melihat Bram menembak bersama anak buah nya


"Tidak semudah itu menghabisi mereka"ucap Bram tajam


"Serang mereka"ucap Dinda


"Kak"ucap Key datang bersama Rina


"Kami tak apa"ucap Zen


"Hai Metha dan Key"ucap Dinda menghapiri dengan 5 anak buah nya


"Zen ajak lah Metha lari kami akan tangani"ucap Rina bersama Key berlindung


"Ngak ngak kalian harus ikut "ucap Zen


"Jangan khawatir Zen"ucap Rina


"Ayo kita lari"ucap Zen menarik Metha


"Kalian berdua kejar mereka habisi mereka"ucap Dinda


Key menghadang orang yg ingin mengejar Zen


Plak


Plak

__ADS_1


Dinda menampar Key dan mendorong nya hingga Key jatuh dan jidat nya mengenai batu dan berdarah


"Key"ucap Rina menghajar Dinda hingga jatuh Key berdiri menghajar tiga anak buah Dinda yg lain bersama Rina


"Kau tak apa Key?"ucap Rina melihat memar di wajah Key dan kening nya berdarah dan bibir nya


"Iya kak!"ucap Key mereka ingin mengejar Zen tapi tiba-tiba Dinda menusuk kan suntikan di leher Key membuat Key lemas dan terjatuh


"Key"ucap Rina


"Mati kau Key"ucap Dinda


"BRAM"teriak Rina dengan khawatir tapi Bram tidak datang yg lagi menembak anak buah Dinda karna takut Key kenapa napa Rina membawa Key pergi


"Kejar mereka habisi"perintah Dinda setelah setengah jam anak buah Dinda kembali


"Mereka kabur"lapor nya


"Suruh semua anak buah mencari mereka temukan "ucap Dinda mereka segera menyebar


"Bang aku capek"ucap Metha ngos ngosan dan hujan turun dengan deras


"Ayo cepat lihat mereka makin dekat"ucap Zen menarik tangan Metha berlari lalu melihat sebuah goa mereka bersembunyi


"Sial kemana mereka"ucap nya kehilangan jejak Metha dan Zen


"Diam"bisik Zen karna melihat anak buah Dinda


"Aku kedinginan bang"ucap Metha menggigil Zen mengajak Metha duduk di sudut goa


Zen melepaskan jaket nya dan mengering kan nya melepaskan baju nya mengering kan nya


"Dingin bang"ucap Metha mengigil


"Sebaiknya lepas baju mu karna baju mu udah basah"ucap Zen melepaskan baju Metha sebenarnya Metha malu tapi dia tidak kuat karna dingin dan goa nya juga dingin .Zen berbaring dan memeluk Metha dengan erat supaya badan Metha menghangat Zen juga merasakan dingin sampai ke tulang karna dia berbaring tidak memakai alas dan baju berbaring di batu hujan seperti tidak berhenti malah makin deras sampai mereka tertidur setelah 3 jam mereka tertidur Metha membuka mata nya dia melihat diri nya tertidur di atas tubuh Zen dengan Zen telanjang dada dan Metha hanya memakai baju dalam


"Astaga"ucap Metha memerah tapi dia merasa aneh dengan Zen


"Bang"ucap Metha


"Bang Zen"ucap Metha menggoyang kan tubuh Zen yg dingin seperti es


"Ya allah"ucap Metha panik dan mencari baju nya yg sudah kering lalu memakai nya lalu dia ingin keluar mencari bantuan meski masih hujan tapi dia melihat orang yg mengejar mereka masih di sekitar sana


"Bagaimana ini?"gumam Metha kembali ke tempat Zen


"Tempat dan cuaca nya terlalu dingin"gumam Metha mondar mandir dan berfikir


"Mencari bantuan ngak bisa lagi"ucap Metha duduk dan berfikir di dekat Zen mengengam tangan Zen


"Aku mohon bertahan lah"ucap Metha mengengam tangan Zen karna melihat bibir Zen yg sudah memucat


"Aku mencintai mu bertahan lah"bisik Metha di telinga Zen mengecup pipi Zen


"Ya allah aku harus apa"ucap Metha berdoa


"Iya tadi bang Zen memeluk ku karna dia memberikan kehangatan"gumam Metha menghapus air mata nya melepaskan baju nya yg sudah kering di letak kan nya di samping Zen dan Metha mengambil jaket Zen.Metha mengangkat tubuh Zen


"Harus aku lakukan"ucap Metha memandang Zen yg memucat Metha memakai kan jaket Zen dan membaring kan tubuh Zen di atas nya seperti yg Zen lakukan tadi

__ADS_1


"Berat amat"keluh Metha menahan berat nya tubuh Zen di atas nya Metha memasuk kan tangannya di jaket Zen supaya dia juga tidak kedinginan dan mengusap punggung Zen memberikan kehangatan Metha menatap bibir Zen yg masih pucat


Metha membaringkan tubuh Zen di sebelah nya yg di lapisi Metha dengan baju nya supaya Zen tidak kedinginan


"Kenapa aku kayak memper****"ucap Metha mengaruk kepalanya dan melihat diri nya yg hanya memakai baju dalam .Metha mendekat kan bibir nya dan bibir Zen dan melu****nya supaya menghangat Metha berbaring di dekat Zen dan memeluk nya memberikan kehangatan merasa kan hangat di tubuh Metha Zen mempererat pelukan nya ke tubuh Metha dan Metha masih memeluk Zen dan mengusap punggung Zen.Supaya tubuh Zen cepat menghangat


#####


Rina memampa tubuh Key yg lemas dan mereka berlari karna kejaran anak buah Dinda


Hoek hoek


"Ya Allah Key kau muntah darah?"ucap Rina panik melihat Key muntah darah


"Kakak sebaik nya pergi aku udah ngak kuat lari!"ucap Key pelan dan memegang dada nya yg terasa sesak dan nyeri entah apa di suntikan Dinda tadi membuat Key lemas dan sesak nafas Key juga muntah darah baju nya dan baju Rina sudah penuh dari darah Key yg muntah


"Apa yang kau katakan"ucap Rina cemas


Hoek heok


Key muntah darah lagi sampai dia tidak sadarkan diri wajahnya sangat pucat karna hujan deras jadi membasahi tubuh mereka dan baju mereka bersih oleh air hujan yg di kotori darah.Rina membaring kan Key di pinggir pohon supaya mereka tidak di tangkap Rina mencari bantuan karna hujan keadaan jalan sepi dan sudah malam hampir setengah jam Rina mencari bantuan tapi tidak ada dari jauh dia melihat sebuah mobil lalu menghadang nya mobil itu berhenti


"Ada apa nona kenapa nona hujan-hujanan?"ucap nya heran melihat Rina.Rina memicing kan mata nya lalu tersenyum


Aku pernah lihat orang ini ya kemarin di kamar Key aku melihat Key berfoto dengan laki-laki saat Key SMP wajah nya sangat mirip apa dia memang Radit seperti yg Key bilang .Batin Rina


"Tuan bisa kah menolong saya"ucap Rina


"Katakan"ucap Radit


"Kami di kejar-kejar seorang penjahat dan adik saya terluka bisa kah tolong adik saya"ucap Rina


"Baik lab aku akan menolong untuk di bawah ke rumah sakit"ucap Radit


"Tidak tuan kami masih di cari rumah sakit bukan tempat aman dan bisa saja jika tuan tertangkap tuan akan ikut tiada"ucap Rina


"Baik lah aku akan membawa ke rumah ku"ucap Radit keluar


"Apa tuan tak apa menolong kami? "ucap Rina


"Bukan kah sesama manusia harus saling tolong menolong!"ucap Radit tersenyum


"Baik lah tuan mari"ucap Rina mengajak Radit ke tempat Key terbaring lemah dengan wajah pucat nya seketika Radit membeku melihat Key menyedihkan


"K...k..Key"gumam Radit gemetar dan meneteskan air mata bersyukur hujan Rina tidak bisa melihat jika dia menangis tapi bukan Rina jika tidak mengetahui jika Radit menangis Rina bisa lihat mata Radit memerah


"Key"ucap Radit menepuk wajah pucat Key tapi Key tidak bergerak


"Ayo tuan "ucap Rina memampa tubuh Key membawa nya Ke mobil Radit lalu Radit melaju kan mobil nya setelah sampai rumah Radit segera keluar dan membantu Rina


Hoek hoek


Key muntah darah lagi mengotori lantai Radit makin panik dan memeluk Key dia tidak peduli lagi dengan Rina


"Maaf kan aku"ucap Radit memeluk Key dengan sayang dan menghapus air mata nya karna takut


"Ayo tuan"ucap Rina Radit segera mengendong Key ke kamar nya


"Radit"panggil mama nya mengucek mata nya seperti baru bangun tidur dan mengikuti nya

__ADS_1


"Key"ucap Radit menepuk wajah Key yg terbaring di kasur nya yg pucat penuh darah


"Aku mohon bertahan aku tau kau kuat"ucap Radit takut mengusap tangan Key yg dingin


__ADS_2