Cinta Selamanya

Cinta Selamanya
bab 62


__ADS_3

Mereka naik di atas panggung karna Keren meminta setelah selesai penyambutan dan penyerahan perusahaan ke Keren Zen belum balik dan Metha jadi gelisah


"Zen mana dari tadi ngak pulang pulang?"ucap Sindi mengerti ke cemasan Metha


"Apa bang Zen ngak ninggalin aku sendiri disini?"ucap Metha


"Ngak la Zen bukan orang seperti itu!"jawab Sindi


Setelah para tamu pergi Zen pun belum datang


"Udah malem Ren kayak nya kami pulang"ucap Sindi


"Oke mari aku antar"ucap Keren mereka berjalan dengan gontai karna sudah sepi


Srett


Tiba-tiba ada yg mengores tangan keren hingga terluka


"Keren"teriak Sindi


"Penghianat kau pikir aku tidak tau siapa kau"teriak Keren menahan sakit di lengan nya


"Serah kan barang kalian"ucap nya menodong kan senjata


"Tidak semudah itu "ucap Keren dan menghajar penjahat nya hingga jatuh dan mereka pergi


"Kau teman ku atau musuh ku"ucap Zen tiba tiba datang dengan wajah babak belur


"Bang Zen"ucap Metha mendekat


"Maksud nya ?"ucap Keren


"Kau musuh ku atau teman ku?"ucap Zen tajam


"Zen"ucap Sindi


"Sory Sin tapi aku tak membiarkan siapa pun mengambil Alsa dari ku aku hanya waspada"ucap Zen dingin


"Tadi kau bilang bahwa Sandra ingin membunuh Alsa dan saat aku bertemu di lantai atas dia bilang kau mau membunuh Alsa ku karna aku membuat kau dan dia tidak bisa bersatu"ucap Zen


"Aku binggung kalian berdua sahabatku siapa yg harus aku percaya"ucap Zen menyembunyikan Metha di belakang nya


"Benar Zen lihat lah Keren melukai ku karna aku membocorkan rahasia nya"ucap Sandra datang dan menangis


"Keren"ucap Sindi dengan kecewa


"Percaya sama aku Sin dia memfitnah ku"ucap Keren mengengam tangan Sindi


"Enggak Sin Keren kejam dia melukai ku karna aku memberi tau Zen bahwa dia ingin membunuh Metha"ucap Sandra mendekat


"Kau tau Keren saat aku mencintai Zen dulu aku mengentauhui jika Zen mencintai orang lain aku tidak merasa sakit tapi ini saat aku mencintai mu aku sakit Keren saat kau mementingkan Sandra aku sakit bahkan lebih sakit karna kau mengkhianati persahabatan kita dengan ingin membunuh Metha aku kecewa pada mu"ucap Sindi menatap Keren


"Dan kau San kau juga mengkhianati persahabatan kita dengan ingin membunuh Metha"ucap Sandra


"Jadi siapa sebenarnya teman dan musuh"teriak Sindi


"Sebaiknya kita pergi dari sini"ucap Zen


"Maaf kan aku Sin ngak menyadari cinta mu aku salah mencintai Sandra dia yg licik percaya pada ku"ucap Keren


"Engak Sin Zen percaya sama aku Keren yg kejam"ucap Sandra menangis

__ADS_1


"Ayo kita pergi udah malam"ucap Zen karna Sindi ikut bersama nya


🚗🚗🚗


"Bang boleh aku bilang sesuatu?"ucap Metha menatap Zen yg hanya diam


"Kak Sindi mencintai Kak Keren?"ucap Metha


"Aku ragu Met dulu iya tapi sekarang ngak tau aku ngak mau mencintai orang yg salah meski hati ini menginginkan nya tapi aku harus melepasnya!"ucap Sindi


"Maaf ya bang bukan aku ikut campur masalah persahabatan kalian tapi menurut ku kak Keren tidak bersalah jika dia memang ingin membunuh ku kenapa dia melindungi kita sampai mengajak ke panggung dan dia selalu bersama kita tadi dan aku bisa lihat dari mata kak Keren jika dia jujur dan mengenai kak Sandra tadi aku tidak ingin menuduh aku hanya menebak ada yg dia sembunyi kan aku bisa lihat dari gerak gerik dan mata nya dan dia tidak bersama kita "jelas Metha


"Kita tak bisa mengambil resiko apa pun"jawab Sindi


"Entah lah mereka sama -sama sahabat kita dan sama-sama kita percaya dan alasan mereka kuat aku binggung siapa yg salah dan benar"ucap Zen


"Tapi jika di pikir benar juga yg di bilang Metha hati ku pun mengatakan seperti itu tapi Sandra juga sahabat kita"ucap Sindi


"Dan juga maaf jika aku lancang ini perlu di obati nanti infeksi"ucap Metha menyentuh wajah Zen bekas pukulan sesaat mata mereka bertemu


"Ehm kalian mau kita mati lihat jalanan"ucap Sindi


"Maaf "gumam Metha menunduk


"Zen aku balik dulu"ucap Sindi setelah sampai di rumah Zen segera pulang


"Emm boleh aku bantu mengobati luka kamu"ucap Metha menunduk


"B..boleh"ucap Zen lalu masuk kedalam rumah selama Metha mengobati luka Zen ,Zen manatap Metha dengan senyum-senyum


"Kamu malu ya aku tatap"ucap Zen tersenyum


"Apa ngak sakit?"ucap Metha tersenyum canggung


"Bakat Mama mu menurun kepada mu sayang jika kau memendam nya aku saran kan kau kuliah dan ambil jurusan ke dokteran"ucap Zen


"Ngak usah bang dengan melihat mama sembuh aku udah senang tidak butuh apa-apa"jawab Metha


"Nyesal lho jika kau jadi dokter kau bisa mengoperasi ku dan lihat di hati ku ada kamu atau tidak "ucap Zen


"Bang Zen akan menikahi ku tapi sebenarnya bang Zen mencintai wanita lain jadi untuk apa bang Zen menikahi ku"ucap Metha menatap Zen


"Siapa?"ucap Zen


"Alsa ,bang Zen bilang tadi mencintai Alsa dan tidak membiarkan Alsa menjauh dari abang jadi buat apa bang Zen menikahi ku!"ucap Metha


"Aku sadar siapa aku bang yg bukan siapa siapa dan abang ngak usah bersikap baik jika ingin miliki aku bukan kah aku sudah milik abang "ucap Metha


"Hah! apa kau tidak tau siapa kau?"ucap Zen


"Enggak yg aku tau kami orang miskin mama dan papa juga ngak pernah menjelaskan siapa mereka!"jawab Metha


"Tidur lah besok kita akan menemui keluarga momy karna mereka pulang dari luar negri kau akan tau siapa kau sebenarnya besok"ucap Zen


"Siapa?"tanya Metha penasaran


"Keluarga Anggara kau pasti pernah dengar!"ucap Zen


"Iya aku sering lihat di tv keluarga Anggara dan Dirgantara!"jawab Metha menunduk


"Aku takut bertemu dengan mereka nanti apa lagi aku tidak ada kelebihan"jawab Metha

__ADS_1


"Kau akan melihat besok siapa kau sebenarnya dan perlu kau tau siapa pun kau dan apa pun yakin lah hati ini hanya milik mu itu kenapa aku mau menikahi mu aku tau bahkan kau tidak mengenal ku tapi aku selalu memikirkan kamu"jawab Zen berlutut


"Nona Metha Alsa Wijaya aku tau kau tidak mengenal ku dan tidak mencintai ku tapi mau kah kau menikah dengan ku dan bersama dengan ku selama nya "ucap Zen berlutut dan membuka kotak merah yg ada cincin


"Aku Zeno tidak punya apa apa dan orang biasa mencintai nona Metha Alsa Wijaya "ucap Zen


"Aku mencintai mu pakai banget dan sangat selalu dan selamanya mencintaimu"ucap Zen tersenyum


"Tapi kita baru bertemu beberapa hari bahkan kau dan aku tidak saling mengenal bagaimana bisa kau mencintai ku dan juga aku tidak mencintai mu"ucap Metha menunduk


"Tak apa besok kau akan mendapatkan jawaban nya dan aku tidak menyerah begitu saja apa lagi kau akan menjadi istri ku tapi tenang aku tidak akan memaksa mu aku akan mendapatkan hati mu"ucap Zen


"Selamat malam nona Alsa"ucap Zen dan tunduk


"Alsa bukan kah itu wanita sering di sebut di rumah ini tapi tunggu bukan nya nama ku ada Alsa duh kok aku jadi deg degan ya menunggu hari esok dan juga kenapa aku berdebar saat mendengar dia menyata kan perasaan nya "gumam Metha menyentuh dada nya


###


🌞🌞🌞


"Pagi semua "ucap Zen duduk sedang kan Metha yg menyuapi mama nya hanya menunduk


"Ehm ehm jangan di lihat terus dia ngak akan hilang"sindir Cakra melihat Zen memandang Metha


"Kak Zen tidak hanya cerewet tapi juga bucin"ejek Key


"Kenapa kau selalu sirik dengan cinta ku"ucap Zen


"Zen kenapa muka kamu?"tanya Alya


"Biasa mom perjuangan cinta!"ucap Zen menaik turun kan alis nya


"Oh pantas semalam itu.....ternyata muka ku udah jelek oh astaga"ucap Zen mengedip kan mata nya ke Metha


"Aw....mom kenapa Zen di cubit?"ucap Zen menahan sakit di lengan nya


"Apaan main mata dia belum jadi milik mu awas kedip kedip lagi!"ucap Alya


"Kau ini"ucap Cakra mengusap wajah Alya merasa gemes dengan istri nya


"Tuh kan mom dedy yg mencontohkan hal seperti itu jadi kan Zen juga mau"ucap Zen


"Mulai deh jika ada kak Zen rumah kayak pasar apa lagi di ikuti pasukan cerewet"ucap Key santai


"Key"ucap Alya


"Habis kau dari ketua Cerewet"ejek Zen


"Aw.....mom kenapa Zen di jewer?"ucap Zen


"Kau ngak takut dosa ngatain momy!"ucap Alya galak


Prangggg


Tiba-tiba gelas di dekat Sakira terjatuh dan menarik sedikit bibir nya dan memandang Zen


"Mama kenapa?"ucap Metha kaget


"Iya ma!"ucap Zen bertulut dan mendekat Sakira memberi kode seperti kemarin Zen tersenyum mengerti maksudnya Zen mendekat kan wajahnya perlahan Sakira memaju kan wajah nya dan mencium kening Zen setelah itu dia mengangkat tangannya menyentuh kepala Zen dan mengusap nya


"Iya ma Zen ngerti jangan terlalu di paksa ya"ucap Zen meletakkan tangan Sakira lagi

__ADS_1


"Terimakasih terimakasih "ucap Metha memeluk Zen dengan erat dan menangis membuat semua bengong


__ADS_2