
Selama di perjalanan pulang Zen merasa tidak tenang apa lagi jantung nya berdebar setiap menatap Metha wanita yg selama ini di cintai nya Metha Alsa Wijaya
"T....tuan"ucap Metha menunduk
"Emm bisa tidak jangan memanggil saya tuan saya bukan tuan kamu panggil nama aja Zen atau kakak abang atau apa la yg penting jangan tuan"ucap Zen gugup
"Tidak bisa bukan kah tuan sudah membeli saya"ucap Metha menunduk
"Tuan kan terluka boleh saya mengobati nya" ucap Metha
"Tidak usah sebaiknya kau tidur saja"ucap Zen tersenyum
####
🌞🌞🌞
"Lihat anak kamu mas semalaman ngak ada kabar buat aku khawatir"ucap Alya mondar mandir di ruang tamu
"Sabar sayang aku yakin kok Zen akan baik baik saja"ucap Cakra
"Momy lihat lah itu kakak pulang dan membawa seorang gadis"tunjuk Key ke depan pintu
"Assalamualaikum"salam Zen senang bercampur takut melihat tatapan momy nya
"Waalaikumsalam"jawab semua
"Hormat saya nyonya tuan dan nona Dirgantara"canda Zen untuk menghilangkan kan ke gugupan nya melihat tatapan momy nya
"nyonya tuan"ucap Metha ikut membungkuk
"Anak kurang ajar"ucap Alya mengambil untuk memukul Zen
"Ehh tunggu tunggu ada tamu momy Zen malu"ucap Zen berlari
"Oh udah ngerti malu tapi kau tak peduli jika momy akan terkena serangan jantung"ucap Alya
"Dedy tolong kendali kan momy ded aw...mom sakit"ucap Zen megelus lengan nya yg terkena pukulan
"Sekarang alasan apa lagi yg ingin kau pakai?"ucap Alya
"Emm itu ..itu emm!"ucap Zen mengaruk kepala nya yg tidak gatal
"Siapa dia?"tanya Alya memicingkan mata nya
"Wajahnya sangat mirip dengan sahabat momy!"ucap Alya
"Oh Key ngerti mom jangan jangan kak Zen menghamili wanita ini karna frustasi tidak menemukan takdir nya"ucap Key
"Tidak mom"ucap Zen cepat
"Kalian tunggu di sini ya "ucap Zen ke Metha dan menarik keluarga nya untuk menjauh
"Lihat wanita itu mom dia mama Sakira entah lah apa yg terjadi dia ngak bisa gerak dan bicara"ucap Zen menunjuk wanita duduk di kursi
"Terus papa Jeky kemana?"ucap Key
__ADS_1
"Kalian boleh mencari tau nya tapi jangan bilang jika Zen menyukainya Zen ngak mau dia pergi dan menjauh! "ucap Zen dan menceritakan jika dia seakan membeli mereka
"Mari kita cari tau"ucap Cakra kembali duduk di sofa
"Mari silakan duduk"ucap Cakra ke Metha.Metha mendorong kursi roda dan duduk di sebelah mama nya
"Perkenalkan diri mu"ucap Cakra sedang kan Alya memeluk Cakra tidak tega melihat Sakira dari tadi meneteskan air mata
"N..nama saya Metha Alsa Wijaya tuan dan mama saya Sakira Wijaya"ucap Metha menunduk takut
"Ehm ehm maaf jika saya boleh bertanya kemana papa kamu dan cerita kan kisah hidup mu?"ucap Cakra takut melukai hati Metha
"5 tahun lalu mama dan papa mengalami kecelakaan mengakibatkan papa saya meninggal dan mama saya jadi seperti ini selama ini kami tinggal dengan om dan tante saya tuan mereka saudara dari papa saya!"jelas Metha
"Zen kau dedy hukum karna memakai uang terlalu banyak dedy hukum kau tidak di gaji selama 6 bulan "ucap Cakra agar putra nya bisa bertanggung jawab
"Yg benar saja ded "ucap Zen
"Zen kan akan menikahi nya segera bagaimana mau menafkahi nya "gumam Zen pelan
"Yes akhirnya kak Zen si hukum juga"ucap Key senang
"Dasar adik durhaka senang lihat kakak sengsara"ucap Zen
"Iya dong kapan lagi Key liat kakak di hukum"ucap Key mengejek
"Tuan boleh saya bicara dengan tuan Zen?"ucap Metha
"Boleh silakan!"ucap Cakra
"Apa tuan akan menjadi kan saya pemuas nafsu?"ucap Metha tiba tiba
"Astagfirullah!"ucap Zen kaget
"Kenapa tuan memang benar kan bukan kah tuan membeli saya tapi sebelum tuan menyentuh saya ,saya minta mama saya dapat pengobatan dan jika sudah saya tak mintak apa -apa lagi"ucap Metha menghapus air mata nya
"Nanti kita bicara lagi"ucap Zen lalu pergi dia tidak ingin membuat Metha seperti wanita hina
"Mom ded kayak nya Zen harus ke kantor karna udah di tunggu"ucap Zen lalu pergi ke kamar untuk membersihkan tubuh nya setelah itu berangkat ke kantor
"Ada apa dengan mu Sa"gumam Alya menyentuh pipi Sakira yg memar
"Saya harus panggil kamu apa? "tanya Alya ke Metha
"Metha nyonya!"ucap Methan
"Emm jangan panggil nyonya engak enak di denger"ucap Alya tersenyum
"Engak enak dan engak sopan nyonya "ucap Metha
"Aku berharap kau memanggil ku momy"ucap Alya kecewa
"Maaf nyonya "ucap Metha menunduk
"Zen pulang nanti jangan malem "teriak Alya melihat Zen mau ke kantor
__ADS_1
"Kenapa mom?"tanya Zen mendekat
"Iya temeni Metha ke rumah sakit buat memeriksa mama Sakira!"ucap Alya
Aku jadi binggung keluarga ini baik semua dan juga kenapa dia manggil mama dengan sebutatan mama juga saat di Bandung juga dia mau berbicara ke mama dan meluk mama.Batin Metha
"Emm mom bisa ngak jangan hari ini"ucap Zen pelan dan mengaruk tengkuk nya
"Apa Zen momy ngak kendengaran?"ucap Alya
"Emm itu mom emm itu emm hari ini Zen sibuk banyak meeting dan pekerjaan di kantor besok aja ya mom!"ucap Zen menyengir
"Ya allah Zen kayak nya penyakit gila bekerja dedy mu udah menular sekarang pilih kami apa pekerjaan"ucap Alya
"Ya kalian dong mom"jawab Zen cepat
"Nah sekarang bekerjalah dengan baik luangkan waktu untuk mengantar mama Sakira"ucap Alya tegas
"Hah! baik nyonya Dirgantara"ucap Zen hormat dan berjalan gontai karna terlalu sibuk
"Dedy kita batalin aja ya Zen nikah sama Alsa"teriak Alya itu lah kelemahan Zen
"Lho jangan dong mom hamba akan melaksanakan tugas dengan baik"ucap Zen cepat dan semangat
Hah aku bersyukur jika mama akan mendapatkan pengobatan tapi buat apa dia membeli ku jika dia udah calon istri mungkin benar dia akan menjadi aku pemuas nafsu nya ya tuhan kenapa jadi seperti ini hidup ku.Batin Metha
"Zen berangkat dulu mom takut telat"ucap Zen mencium tangan Alya
"Ma Zen berangkat mama jangan nangis lagi ya"ucap Zen menghapus air mata Sakira lalu mengecup pipi Sakira
"Aku berangkat"ucap Zen tersenyum ke Metha membuat nya bingung
"Ayo momy akan tunjuk kan kamar kalian"ucap Alya mendorong kursi roda Sakira
"Nah ini kamar kamu sebelah nya kamar Zen sebelah nya lagi kamar mama kamu di sana kamar momy dan Key jika butuh sesuatu jangan sungkan ya"ucap Alya tersenyum
"Nyonya apa pekerjaan saya?"tanya Metha
"Anak mu kayak nya lebih mirip papa nya sedikit mirip mu"ucap Alya berjongkok ke Sakira membuat menarik bibir nya sedikit
"T..tuan Zen kan udah membeli saya dan mama saya apa kah s.. saya akan jadi pemuas nafsu nya atau menjual saya lagi"ucap Metha menunduk takut
"Hah! anak momy ngak kayak gitu kenapa kau berfikiran seperti itu"ucap Alya mengusap wajah Metha
"Di Bandung juga seperti itu banyak para gadis di jual untuk melayani mereka "jawab Metha tidak berani menatap Alya
"Apa kau udah di jual dan di sentuh?"ucap Alya memaju kan wajah nya
"Sebelum tuan Zen membeli saya tuan Febri menyentuh saya di tangan di leher!"ucap Metha menjelaskan membuat Alya mengaruk kepalanya tak gatal
"Hah! terus gimana kau tau jika di jual akan di jadikan pemuas nafsu dan melayani mereka?"tanya Alya
"Tante yg bilang Metha harus melayani dan menjadi pemuas nafsu mereka tapi kan tadi nyonya bilang tuan Zen akan nikah terus saya bekerja sebagai apa ,apa benar saya akan menjadi pemuas nafsu tapi tak apa nyonya karna kalian udah mau mengobati mama saya disana juga seperti itu jika saya mau makan dan mama saya,saya harus bekerja untuk membiayai hidup sendiri"jelas Metha menghapus air mata nya dengan kasar
"Baik lah nanti momy kembali lagi"ucap Alya pergi dengan air mata tidak tega mendengar penderitaan sahabat nya dan anak nya
__ADS_1
"Ma aku binggung deh sama mereka kenapa tuan Zen memanggil mama dengan sebutan mama"ucap Metha berlutut