
"Enggak enggak enggak" larang Nofan cepat.
Alica mengerucutkan bibirnya karena Nofan kembali melarang keras niat baiknya untuk membantu keluarga Anna.
"Ayolah fan, kita tolongin dia, kasihan dia, satu persatu keluarganya itu meninggal gara-gara orang jahat, kalau kita gak tolongin dia, dia yang akan jadi korban selanjutnya" bujuk Alica.
"Alica, aku tau niat kamu baik tapi aku hanya takut kalau suatu saat nanti kamu yang akan kena masalah, aku gak mau kamu kenapa-napa, itu aja, aku harap kamu ngerti maksud aku" tutur Nofan.
Nofan tak bisa mengambil resiko mengizinkan sahabatnya melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Kalau aku gak bantu dia fan, dia akan mati, satu persatu keluarganya akan lenyap. Kamu tega biarin orang-orang baik dan gak berdosa itu mati hah?" Tanya Alica.
Mulut Nofan bungkam, dalam hati ia pun merasakan iba akan nasib keluarga Anna, tapi ia lebih takut jika terjadi apa-apa pada Alica. Alica sudah ia anggap seperti adiknya sendiri dan ia harus menjaganya dengan sebaik mungkin.
"Masa kamu gak punya hati nurani sedikit aja dan bisa liat betapa menderitanya keluarga Anna, kamu manusia macem apa sih" omel Alica tak habis pikir dengan sahabatnya yang terus melarangnya padahal ia sudah menjelaskan kronologi yang telah menimpa keluarga Anna.
Nofan makin bungkam, dia tetap diam mencerna baik-baik ucapan Alica. Kini ia di ambang pilihan yang berat, jika seandainya ia membiarkan Alica ikut campur dalam urusan keluarga Anna, Nofan khawatir ada dampak yang harus Alica tanggung setelah itu.
"Alica" panggil seorang gadis berambut pendek dan di ketahui bernama Anna tersebut.
Alica berbalik menatap Anna yang melangkah menghampirinya.
"Anna" balas Alica di iringi senyuman manis, semanis gula pasir.
"Alica katanya kamu mau ikut aku ke rumah, ayo buruan, kamu harus liat keadaan ibu aku yang lagi sakit keras" ajak Anna tak sabaran.
Anna memiliki harapan besar jika Alica dapat membuat keluarganya terlepas dari jerat dukun kejam.
Mata Alica melirik Nofan."Boleh ya fan, pliiiis"
Dengan wajah melas Alica memohon, barang kali usahanya kali ini dapat melunakkan hati Nofan yang sekeras batu.
Nofan kesulitan untuk mengambil keputusan, dalam hatinya ia sebenarnya tak mau memberi izin, tapi ia tak bisa jika harus melihat kekecewaan mendalam di mata Anna karena penolakannya.
__ADS_1
Dengan berat hati Nofan menghembuskan nafas."Ya udah boleh"
"Yeayyy" sorak gembira gadis bernama Alica tak dapat di hindarkan lagi.
Usahanya melunakkan hati Nofan yang sekeras baja membuahkan hasil meski ada sedikit drama yang harus ia lalui.
"Tapi kamu hati-hati, jangan sampai kamu yang di incar sama dukun itu, aku gak mau kamu kenapa-napa hanya karena ingin bantu orang lain" peringatan keras Nofan.
Kepala Alica mengangguk senang."Iya, aku pasti akan hati-hati, sana kamu pulang gih, nanti habis ini aku juga akan pulang"
"Enggak, aku gak mau pulang, aku mau ikut juga ke sana" tolak Nofan.
"Gak usah fan, aku bisa sendiri kok" cegah Alica karena jika membawa Nofan akan membuatnya kesulitan.
"Enggak mau, pokoknya aku mau ikut, kalau kamu gak mau izinin aku ikut, ya udah aku gak akan bolehin kamu bantu keluarga Anna" ancam Nofan.
"Ya udah deh kamu boleh ikut" pasrah Alica.
"Kalau seperti itu ayo kalian ikut aku ke rumah ku" ajak Anna.
Dengan menggunakan motor mereka menuju rumah Anna yang masuk ke sebuah pedesaan.
Di perjalanan senyum Alica tak kunjung pudar, Alica begitu senang lantaran Nofan mau menyetujui permintaannya.
Setibanya di lokasi Alica langsung turun dan menatap sebuah rumah sederhana yang halaman depannya tidak terlalu luas.
Hal pertama yang di lihat oleh Alica adalah sesosok wanita mengenakan pakaian merah, lidahnya menjulur keluar dan rambutnya yang acak-acakan. Sosok itu berdiri di ambang pintu seperti sudah tau kedatangan Alica.
Tak hanya sosok wanita berbaju merah, puluhan makhluk-makhluk tak kasat mata mengelilingi rumah Anna dan membuat aura rumah Anna menjadi sedikit gelap.
Alica menelan ludah kasar, sosok-sosok makhluk halus yang akan dia hadapi begitu banyak. Rasa khawatir mendadak menyerang Alica, Alica tidak yakin jika ia bisa menang melawan mereka semua.
Alica menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.
__ADS_1
"Aku pasti bisa, aku pasti bisa menyelamatkan keluarga Anna, mereka harus selamat, aku gak boleh takut sama mereka yang berkategori makhluk halus" batin Alica bertekad mengumpulkan semangat.
"Ayo Alica, kak Nofan masuk, ibu aku ada di dalam" ajak Anna ramah.
Kepala mereka hanya mengangguk, kemudian membuntuti Anna dari belakang.
Saat Alica lewat tepat di samping sosok wanita berbaju merah, tiba-tiba tangan Alica di cekal kuat oleh wanita itu, mata seramnya menatap tajam Alica.
Alica tiba-tiba memucat, keseraman wajah wanita berbaju merah itu berhasil membuatnya ketar-ketir.
"Jangan ikut campur, kalau kau tidak mau bernasib sama seperti keluarga mereka" ancam keras wanita berbaju merah.
Alica ciut, ancaman wanita berbaju merah membuat kakinya sulit untuk melangkah, untung saja Alica berada di urutan paling belakang sehingga tak menimbulkan kecurigaan di hati Nofan dan juga Anna.
Alica melepas paksa tangan wanita itu, lalu dengan terburu-buru berlari mengejar Nofan dan Anna yang lumayan jauh di depannya.
Hati Alica lega lantaran wanita berbaju merah mau melepaskannya dan tidak melakukan sesuatu yang membuatnya makin ketakutan.
"Untung dia gak ngapa-ngapain aku" batin Alica menarik nafas lega.
Anna membuka sebuah kamar paling pojok dan auranya lebih gelap ketimbang kamar-kamar yang lain.
"Assalamualaikum ibu aku pulang" ucap Anna perlahan-lahan melangkah masuk ke dalam kamar sang ibunda. Itu ia lakukan agar tidak mengganggu waktu istirahat sang ibu.
Nofan dan juga Alica ikut masuk ke dalam.
Nofan terkejut melihat ibu Anna yang terbujur kaku dengan mata terpejam, parahnya lagi seluruh tubuhnya terserang penyakit luka-luka yang membengkak di sekujur tubuhnya.
Tak hanya Nofan Alica juga terkejut sekaligus prihatin dengan keadaan ibu Anna yang terluka separah itu, Alica tak dapat membayangkan bertapa perih dan sakitnya luka-luka di seluruh tubuh ibu Anna yang kini sudah membengkak.
Di sekitar tubuh ibu Anna terdapat makhluk-makhluk halus yang melukai tubuhnya dengan kuku panjangnya, sesekali mereka menjilatinya dan membuat luka-luka itu makin parah.
Alica bergidik ngeri melihat perlakukan makhluk-makhluk halus yang benar-benar kurang ajar.
__ADS_1
Bau busuk tak dapat terhindarkan, luka yang menganga, bernanah dan membengkak itu mengeluarkan bau busuk yang menyengat.