Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Bab 68 ( Kebenaran yang terungkap )


__ADS_3

Aisyah terlihat berpikir ketika Raihan menanyakan tentang fhoto Bu Neti istrinya Pak Burhan.


"Kalau gak salah Aisyah pernah fhoto-fhoto sama Ibu dan Ayah di handphone pemberian Ayah," ujar Aisyah.


"Terus Aisyah simpan dimana handphone nya?" tanya Raihan.


Aisyah mencoba meraba saku celananya, dan ternyata Aisyah membawa handphone pemberian Pak Burhan, meski pun Raihan sudah membelikan handphone yang baru, tapi Aisyah masih belum memakainya.


"Ini handphonenya Kak, Kak Raihan coba buka galeri saja, mungkin fhoto nya masih tersimpan."


Raihan mencoba membuka galeri handphone Aisyah, dan seketika mata Raihan membulat sempurna, karena ternyata dugaan Raihan selama ini benar kalau Bu Neti istrinya Pak Burhan adalah Ibu kandung Aisyah.


"Kakak kenapa diam saja?" tanya Aisyah yang melihat Raihan diam mematung.


"Aisyah, ternyata selama ini Aisyah tinggal bersama Ibu kandung Aisyah sendiri" ujar Raihan.


Deg


Jantung Aisyah rasanya berhenti berdetak, Aisyah tidak tau harus senang atau sedih ketika mengetahui semuanya.


"Kak, Kakak tidak bercanda kan? tidak mungkin Bu Neti adalah perempuan yang telah melahirkan Aisyah ke Dunia ini," ujar Aisyah.


"Sayang, tidak mungkin Kak Raihan bercanda tentang masalah yang serius seperti ini. Perempuan ini adalah orang yang telah menelantarkan kita," ujar Raihan.


Raihan masih memendam kebencian kepada Bu Neti, karena dulu Ibu kandung Aisyah tersebut sudah tega meninggalkan dirinya dan Aisyah hidup sebatang kara.


Aisyah kini menangis dengan memeluk tubuh Raihan, Aisyah tidak mengira kalau selama empat bulan di Kalimantan Aisyah telah tinggal dengan Ibu Kandungnya sendiri, sedangkan Aisyah dan Raihan masih belum mengetahui jika Pak Burhan adalah Ayah kandung Aisyah, karena mereka masih mengira jika Ayah kandung Aisyah adalah mendiang Pak Imron.


"Kak, Aisyah harus bertanya kepada Bu Neti kenapa dulu Ibu tega meninggalkan kita."


"Iya sayang, nanti setelah Aisyah sembuh, Kakak akan mengantar Aisyah untuk bertemu dengan Ibu kandung Aisyah. Apa selama tinggal di Kalimantan Bu Neti bersikap baik terhadap Aisyah?" tanya Raihan.


Aisyah terlihat ragu untuk mengatakan semua kebenarannya kepada Raihan, tapi bagaimanapun juga Aisyah tidak bisa berbohong bahkan tidak pernah berbohong kepada Raihan dalam seumur hidupnya.

__ADS_1


"Sebenarnya ketika pertama kali Ayah membawa Aisyah dan Nala ke Kalimantan, Ibu terlihat tidak menyukai Aisyah, bahkan Ibu bersikap baik kepada Aisyah jika di depan Ayah saja."


"Kak Raihan sudah menduga seperti itu, karena perempuan itu tidak punya hati, jadi dia pasti tidak akan bisa tulus menyayangi oranglain."


"Aisyah juga tidak tau kenapa sikap Ibu berubah setelah terkena penyakit gagal ginjal. Saat Ibu pulang dari Rumah Sakit, Ibu dan Ayah membelikan hadiah yang banyak untuk Aisyah dan Nala, bahkan mereka mengadakan acara syukuran ulang tahun Nala yang ke-1."


"Apa mungkin Bu Neti berubah karena telah mengetahui kalau Aisyah adalah Anak kandungnya?" ujar Raihan.


"Aisyah tidak tau Kak, tapi seminggu terakhir Aisyah tinggal di Kalimantan, Ibu terlihat tulus menyayangi Aisyah dan Nala."


"Untuk mengetahui semua kebenarannya tidak ada cara lain lagi kecuali kita menemui Bu Neti untuk menanyakannya langsung," ujar Raihan, dan Aisyah menyetujui usul Raihan tersebut.


......................


Keesokan paginya, Aisyah sudah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya sudah membaik.


"Alhamdulillah Aisyah sudah diperbolehkan pulang," ucap Raihan.


"Apa Aisyah sudah kuat kalau kita bepergian jauh? Kakak tidak mau kalau Aisyah sampai sakit lagi."


"Aisyah sudah baikan kok, kan ada Ayah Nathan dan Nala yang selalu jagain Aisyah."


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang, mau digendong atau jalan sendiri?" goda Raihan.


"Emangnya Anak kecil digendong segala. Ibu bisa jalan sendiri Ayah."


"Tidak terasa Nathan dan Nala sekarang sudah satu tahun, jadi kita harus membiasakan menggunakan panggilan Ayah dan Ibu di depan Anak-anak."


"Kita pulangnya naik apa Yah?"


"Tadi Papa sudah nyuruh Supir buat jemput kita. Sekarang Supirnya sudah menunggu di bawah."


Aisyah terlihat melamun memikirkan roda kehidupannya yang berputar, karena selama ini Aisyah tidak pernah bermimpi jika Raihan adalah Anak orang kaya.

__ADS_1


"Yah, semua ini rasanya masih seperti mimpi. Sekarang roda kehidupan kita berputar seratus delapan puluh derajat, padahal semenjak kecil, kita selalu menjadi bahan hinaan semua orang," ucap Aisyah dengan meneteskan airmata.


"Rezeki manusia tidak ada yang tau, dan kita harus selalu bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Harta yang kita miliki saat ini adalah titipan, dan kita tidak boleh sombong terhadap siapa pun juga ketika kita berada di atas," ujar Raihan.


"Iya Yah, Ibu juga jadi kangen tempat tinggal kita yang dulu dibakar oleh Warga."


"Ayah belum cerita ya, kalau Papa sudah membangun rumah tempat tinggal kita dulu menjadi sebuah Masjid yang diberi nama Aisyah-Raihan, dan orang-orang yang sudah menghakimi kita sudah meminta maaf kepada Ayah saat meresmikan Masjid tersebut.


"Alhamdulillah, semoga bermanfaat untuk semua orang serta menjadi Amal ibadah untuk keluarga kita," ujar Aisyah yang di Amini oleh Raihan.


Setelah sampai kediaman Sanjaya, Raihan dan Aisyah langsung menghampiri kedua Anaknya yang saat ini sedang terlihat asyik bermain di Arena tempat bermain Anak yang sengaja Papa Herdi buat untuk si Kembar.


Nathan dan Nala yang sudah mengenali Ayah dan Ibunya langsung meminta digendong oleh Aisyah dan Raihan.


"Sayang, Ibu nya masih sakit, jadi Nathan sama Nala digendong sama Ayah saja ya," ujar Raihan dengan menggendong kedua Anaknya.


Aisyah yang melihat Nenek Rose duduk sambil mengawasi Anak-anak, melangkahkan kaki untuk menghampirinya.


"Nek, makasih ya sudah jagain Nathan dan Nala," ucap Aisyah dengan memeluk tubuh Nenek Rose.


"Sama-sama sayang, Aisyah tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena Nathan dan Nala adalah kesayangan Keluarga Sanjaya. Nenek merasa bahagia dengan kehadiran mereka, dan seharusnya Nenek yang mengucapkan terimakasih karena Aisyah sudah memberikan dua Cicit yang lucu. Jadi, di usia Nenek yang sudah tua ini, Nenek tidak merasa kesepian lagi."


"Nek, rencananya Raihan dan Aisyah mau ngasih sembilan Cicit lagi buat Nenek, supaya kami bisa membuat klub Sepak bola," ujar Raihan dengan terkekeh.


"Memangnya Ayah pikir Ibu ini kucing satu kali ngelahirin bisa langsung banyak," ujar Aisyah dengan tertawa.


Dari kejauhan, terlihat seseorang yang merasa iri dengan kebahagiaan Aisyah dan Raihan, dan orang tersebut tidak lain adalah Mama Rita.


"Lihat saja Aisyah, Raihan, aku akan membuat hidup kalian hancur. Seharusnya Gisel yang menjadi pendamping Raihan bukan Aisyah si Perempuan kampung itu," gumam Mama Rita dengan mengepalkan kedua tangannya.


Gisel yang baru pulang kerja, memutuskan untuk menghampiri Mama Rita yang berdiri tidak jauh dari gerbang rumah keluarga Sanjaya.


"Gisel harap Mama tidak mempunyai pikiran untuk mencelakakan Aisyah lagi, karena Papa Herdi sudah mengetahui semua kejahatan yang telah Mama lakukan, dan mungkin Papa Herdi akan segera melaporkan semua kejahatan Mama kepada pihak berwajib. Mama juga harus tau kalau Aisyah adalah Anak dari Tante Neti, jadi Aisyah adalah keponakan Mama juga."

__ADS_1


__ADS_2