
Pangeran William berbalik, menatap tiga anak yang ketakutan di belakangnya.
"Kalian tidak usah takut, mereka tidak akan mengganggu kalian lagi, mereka tidak akan bisa keluar dari tempat itu" ucap pangeran William.
Mereka mengangguk, wajah mereka tampak pucat, pengalaman terburuk bagi mereka berada di alam ini.
"Ayo aku akan antarkan kalian pulang" ajak pangeran William.
Tanpa bicara mereka pun mengikuti pangeran William dari belakang. Alica menggenggam erat tangan papanya, ia senang memiliki papa meski papanya tidak sama sepertinya.
Sementara Nofan dan pemuda itu diam seribu bahasa. Pertama kali bagi Nofan melihat dengan jelas seperti apa papa Alica yang Alica sebut-sebut.
"Pa apa jalan keluarnya masih jauh dari sini?" Alica membuka suara di tengah sunyinya suasana.
"Udah gak jauh lagi, bentar lagi kalian akan segera keluar dari sini" jawab pangeran William.
Mendengar hal itu mereka bertiga pun begitu gembira, perjuangan mereka tak sia-sia, untung aja ada pangeran William yang membawa mereka ke jalan yang benar.
Manik biru Alica menatap sekitar yang sepi, tidak ada satupun makhluk tak kasat mata yang tampak di matanya.
Alica menduga bahwa para makhluk halus takut dengan papanya yang merupakan raja jin.
Setelah lama mereka berjalan, akhirnya mereka keluar juga dari hutan gelap. Mereka semua takjub menatap jika di luar masih siang, tidak malam seperti di dalam hutan.
"Kok tiba-tiba siang, perasaan tadi malem" heran Nofan menatap dua tempat yang berbeda tapi bersebelahan.
"Kayaknya yang siang itu alam manusia, sementara yang gelap itu alam gaib, mangkanya mereka beda" Alica mengartikan dua tempat yang berbeda dan berlainan itu.
Mereka berdua mengangguk paham, setengah tak percaya namun ini nyata.
"Nak, kamu hanya tinggal jalan lurus ke depan aja, nanti kamu akan ketemu sama jalan raya, papa hanya bisa nganterin kamu sampai di sini, kamu gak papa kan?" pangeran William meminta persetujuan Alica terlebih dahulu.
"Iya gak apa-apa pa, aku bisa kok pulang sama yang lain, lagi pula gak akan ada makhluk halus yang mengganggu kami" jawab Alica.
Pangeran William tersenyum."Papa pamit dulu, kalau ada apa-apa di jalan tinggal panggil papa aja"
Alica mengangguk, lalu papanya pergi meninggalkan mereka di tempat sepi dan sunyi.
__ADS_1
"Ca kamu ngomong sama siapa?" Nofan mengerutkan alis, di sana hanya ada mereka bertiga tapi kali ini Alica berkomunikasi dengan orang yang tak dapat mereka liat.
"Sama papa, sekarang dia udah pergi, papa bilang kita hanya perlu jalan lurus aja, nanti kita akan ketemu sama jalan raya" jelas Alica.
Saat keluar dari alam gaib, Nofan tak dapat melihat keberadaan pangeran William lagi.
"Kalau begitu ayo kita buruan pergi sebelum ada apa-apa lagi" Nofan tak sabar untuk tiba di rumah yang ia rindukan.
Mereka kembali berjalan tanpa berbelok-belok sesuai arahan pangeran William.
Nofan melirik pemuda asing yang diam dan terus mengikuti mereka.
"Siapa nama mu dan kenapa kamu bisa terjebak di dalam alam gaib?" Penasaran Nofan mulai menjadi orang paling kepo.
Sedari tadi Nofan memendam rasa penasaran yang makin menjadi-jadi, kini ia tidak bisa menahannya lagi.
"Nama ku Aldi, aku bisa ada di tempat itu karena paman ku, dia ingin menjadikan ku sebagai tumbal. Dia itu iri pada keluarga ku yang jauh di atasnya, untuk membuat keluarga ku menderita dia melakukan ini semua" jelas Aldi.
Kisah hidup Aldi sebelas dua belas dengan mereka berdua, namun bedanya mereka di jebak oleh orang yang mereka kira baik.
"Entahlah, tapi aku beruntung bisa keluar dari tempat itu. Aku tadi udah gak tau harus apa karena orang-orang di sana mendesak ku dan itu membuat ku sangat tertekan" bersyukur Aldi.
Aldi sempat putus asa jika hidupnya akan berakhir di sana, namun siapa sangka bahwa ada keajaiban alam sehingga membuatnya dapat keluar meski terasa tak mungkin.
"Sekarang kamu gak perlu khawatir lagi, kamu udah aman, mereka gak akan ganggu kamu lagi" Alica menenangkan Aldi yang masih trauma akan kejadian buruk yang menimpanya.
Aldi mengangguk di sertai senyuman, tak henti-hentinya ia mengucap syukur karena bisa terlepas dari cengkraman mereka yang tak kasat mata.
"Aldi kamu tinggal di mana, rumah kamu jauh gak dari sini" timpal Nofan mencari tau semuanya tentang Aldi.
"Aku tinggal di jalan sakura, letaknya jauh dari sini" sahut Aldi.
"Owh jalan sakura, aku tau tempat itu, emang jauh dari sini. Nanti habis keluar dari tempat ini, kita cari kendaraan biar bisa lebih cepat bawa kita pulang, biar gak kemalaman di jalan" usul Nofan.
Mereka semua setuju, mereka juga sama-sama ingin pulang ke rumah yang telah lama mereka tinggalkan.
Tak lama kemudian mereka keluar dari tempat itu dan benar saja mereka langsung bertemu dengan jalan raya besar dan banyak kendaraan yang berlalu lalang.
__ADS_1
Mereka bertiga berdiri di pinggir jalan mencoba mencari ojek atau taksi.
"Gak ada ojek atau taksi gitu yang lewat dan sekiranya mereka bisa langsung bawa kita pulang" Nofan mencari-cari kendaraan yang dapat mereka tumpangi, tak mungkin mereka pulang dengan berjalan kaki karena itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Alica celingukan ke kanan dan kiri, tiba-tiba mata birunya tertuju pada satu hal.
Alica yang merasa tak yakin akan apa yang ia lihat menajamkan pengelihatannya, sesekali ia mengucek mata takut salah liat.
"Itu kayak...."
Perkataan Alica terpotong, senyum manis langsung terukir menghiasi wajahnya.
"Ayaaaah" teriak Alica berlari menyebarangi jalan tanpa tolah-toleh sebelumnya.
"Alica" panggil pak Anton gembira melihat putrinya yang tengah berlari menghampirinya.
"Ayah" Alica memeluk erat tubuh pak Anton yang begitu ia rindukan.
"Alica, Alica kamu kemana aja nak, kenapa kamu gak pulang-pulang" khawatir pak Anton.
"Gak ada yang luka kan, bilang sama ayah mana yang luka" cemas pak Anton memperhatikan betul-betul Alica.
"Enggak kok yah, aku baik-baik aja, ada papa yang jaga aku, papa gak akan biarin aku luka-luka, ayah gak perlu cemas" sahut Alica.
Hati pak Anton lega, separuh nafasnya telah kembali, ia sudah dapat bernafas normal saat putrinya kembali dalam keadaan hidup tanpa kekurangan barang sedikitpun.
"Papa" panggil Nofan mendekati Karan.
"Adoooi" pekik Nofan kesakitan.
Alica yang melihatnya meringis membayangkan rasa sakit yang Nofan rasakan.
"Kamu kemana aja hah, kenapa sampai selama ini kamu baru menampakkan batang hidung mu lagi" omel Karan khawatir parah saat putranya tak pulang-pulang seperti di telan bumi.
"Apaan sih pa, aku kan cuman gak pulang semalaman, kenapa papa berlagak layaknya orang kehilangan anaknya setahun" Nofan menganggap sikap ayahnya terlalu berlebihan dan terkesan lebai.
"Semalam kamu bilang? Kamu itu hilang udah 1 Minggu. Papa cemas mikirin kamu, mama kamu sampai sakit karena kamu gak pulang-pulang" omel Karan.
__ADS_1