
"Hei tunggu" jeritan seorang gadis pucat yang duduk di batu besar menghentikan langkah Nofan.
Nofan ketar-ketir, tubuhnya menegang, Nofan memejamkan mata tak tau harus berbuat apa.
"Bodoh, kenapa aku pake berhenti segala, seharusnya aku jalan biar dia percaya kalau aku gak bisa liat dia" gumam Nofan meratapi kebodohannya.
Kini Nofan tak dapat kabur, kesalahannya fatal.
Nofan tak bisa lagi pura-pura untuk tak menyadari keberadaan seorang gadis korban yang tewas di air terjun.
Kaki Nofan tremor, jantungnya melompa dengan kencang, Nofan bingung harus melakukan apa.
Pergi tidak akan menyelesaikan masalah, diam di tempat juga akan membuatnya mati tercekik.
"Tunggu, jangan pergi"
Nofan diam tak bergeming, niatan untuk berbalik badan tak ada di kamusnya.
Nofan merasa ada seseorang yang melangkah menghampiri. Dalam hati Nofan berdoa meminta pertolongan Allah dari makhluk halus yang berada di belakang.
Tangan Nofan bergetar, dengan ragu-ragu Nofan menatap seorang gadis pucat yang berdiri di depan.
"Ini milik mu, terima kasih" gadis pucat bernama Rea menyodorkan jas OSIS milik Nofan yang kemarin malam sempat Nofan berikan.
Nofan mematung, bibirnya bergetar, rasa takut tak dapat di sembunyikan. Seumur hidup baru kali ini Nofan di ajak komunikasi oleh hantu.
Orang yang kini ada di depan mata Nofan bukan lah manusia, dia merupakan korban kekejaman dari kawan-kawannya sendiri.
Nofan rasanya tak berkutik, walau gadis itu tak melakukan apapun Nofan entah mengapa takut sendiri.
"Ini ambilah kenapa diam aja" ucap Rea lagi.
Ragu-ragu Nofan mengambil jasnya kembali, tangan Nofan tremor, lidahnya terasa keluh tidak bisa mengucapkan kata apapun.
"Terima kasih" senyum manis terukir di wajah Rea sambil mengucap terima kasih pada laki-laki yang takut padanya.
Nofan mengangguk dengan takut, ia lantas pergi, sambil meyakinkan diri bahwa Nofan bisa pergi dengan berjalan kaki bukan berlari.
"Tunggu!"
Nofan terhenti, menatap kembali sosok gadis pucat yang menatapnya tanpa kedipan.
Wajah gadis pucat yang cantik, putih bersih tiba-tiba berubah hancur dan mengelupas.
Mata Nofan membulat sempurna, refleks Nofan berteriak keras.
"Arrrrrgghhh!"
__ADS_1
Seorang ketua OSIS yang di kenal dingin itu berlari terbirit-birit, sosok gadis pucat yang Nofan kira baik malah menunjukkan rupa aslinya yang menyeramkan.
Wajah gadis pucat tak beraturan, kulit-kulit wajah yang tadinya mulus dalam sekejap berubah menjadi hancur. Darah-darah yang berbau busuk pun mengalir dari ubun-ubun hingga ke bibir.
Tatapan seram Rea layangkan pada Nofan yang lari ketakutan setelah melihat wujud aslinya.
Rea pun tersenyum sinis, lalu menghilang tanpa bekas.
Nofan berteriak histeris, rupa wajah gadis pucat terngiang-ngiang di benaknya.
Anak-anak yang di tugaskan meronda malam ini pun terkejut, mereka bangkit dari duduk kala melihat Nofan berlari menghampiri mereka dengan berteriak keras.
"Ada apa fan, kenapa kamu teriak-teriak?" Panik Reza menghampiri Nofan yang ketakutan.
Mata Nofan menatap ke belakang yang kosong, Nofan terduduk lemas di bawah, jantungnya memompa dengan kencang, nafas Nofan tersengal-sengal.
Semua orang yang berada di lokasi pun keheranan, melihat Nofan kelelahan mereka makin penasaran.
"Fan kamu kenapa, apa yang udah terjadi sama kamu?" Calvin mendekati Nofan yang terkulai lemas di bawah.
Nofan tak menjawab, matanya terpejam, tubuhnya terlentang lemas di tanah, peluh-peluh membanjiri tubuh.
Nafas Nofan berhembus dengan cepat, detak jantungnya pun tetap tak normal.
"Fan, fan bangun fan" Dimas membangunkan Nofan, ia menyirami tubuh Nofan dengan air mineral.
Nofan mengusap wajahnya yang basah karena air bercampur peluh, dengan sisa tenaga Nofan bangun menatap semua orang yang mengelilingi tubuh.
"Kamu kenapa fan, bilang sama kami apa yang udah terjadi sama kamu" suruh Calvin kelewatan penasaran.
Nofan yang datang dengan cara yang tidak baik-baik saja menumbuhkan kecurigaan di hati mereka, terbesit pula kekhawatiran tanpa sebab.
"T-tadi aku liat gadis pucat itu di sana" tunjuk Nofan ketakutan saat menceritakan kejadian buruk yang barusan terjadi.
Kening mereka serempak berkerut, mereka tercengang, mereka yang penasaran kembali melempar pertanyaan.
"Gadis pucat?"
"Gadis pucat yang mana?"
Mereka belum paham orang yang Nofan maksud.
"Gadis pucat yang tadi pagi di temukan tewas di air terjun itu loh masa kalian gak ingat, dia barusan datangin aku. Dia nunjukin wajah seremnya sama aku" keluh Nofan bergidik ngeri.
Tubuh pria berusia 18 tahun itu di selimuti rasa takut, gangguan yang barusan ia lewati meninggalkan trauma berat.
"APA!"
__ADS_1
"Yang bener aja, masa kamu ketemu sama hantu"
"Gak mungkin deh fan"
"Kamu pasti salah liat lagi"
Bantah mereka tak percaya penuturan Nofan.
"Beneran weh, beneran aku gak boong, aku habis di datangin sama dia. Kalian tau gak wajahnya hancur, banyak darah, sumpah serem banget" jelas Nofan begitu menghayati.
Wajah hancur gadis pucat membekas di pikiran Nofan, melekat bagai darah, sulit untuk Nofan hilangkan.
Teman-teman Nofan sekaligus adik-adik kelas Nofan yang mendengar pun terdiam. Mereka berpikir tidak mungkin Nofan berbohong, tidak ada faedahnya yang di dapatkan.
"Ada apa ini?"
Semua mata jatuh pada seorang gadis yang baru datang, mengenakan jaket tebal karena hawa hutan begitu sejuk.
"Alica" lirih Nofan menatap sahabatnya.
Alica langsung mendekati pemuda tampan yang pucat pasi karena ketakutan.
"Kamu kenapa fan, kenapa wajah kamu pucat banget?" Panik Alica mengusap peluh di wajah Nofan.
"Ca, sosok gadis yang tadi aku tolong di air terjun ganggu aku, dia nampakin wajah seremnya. Dia datangin aku ca" keluh Nofan.
Alica tercengang, setengah tak percaya tapi tak mungkin Nofan berbohong.
"Gak mungkin fan, gak mungkin dia ganggu kamu, gak mungkin dia ganggu orang-orang" tolak Alica tak percaya.
"Beneran ca, aku gak boong, dia datangin aku dengan wajah hancur" tutur Nofan ketakutan.
Alica terdiam, mengepal kuat tangannya, tadi siang gadis pucat itu berjanji tidak akan mengganggu ia dan kawan-kawannya yang camping di hutan Pinus.
"Kurang ajar Rea, kenapa dia ingkar janji, kiat aja apa yang akan aku lakuin" batin Alica merandag.
Ucapan Rea tak sesuai dengan tindakannya, Alica yang merasa di tipu tak terima, ia sudah percaya pada Rea tapi apa balasan Rea. Rea malah mengkhianati kepercayaan.
"Alica aku takut" ucap Nofan.
"Lembek, gitu aja takut, laki-laki macem apa kamu!" Omel Alica.
Nofan tak peduli, ia butuh seseorang yang bisa menghilangkan rasa takutnya dan orang itu adalah Alica.
"Ca aku gak boong, tolong aku ca, aku takut, dia pasti datangin aku lagi, aku gak mau ketemu dia lagi" titah Nofan serius dan begitu tulus.
Pancaran mata Nofan terlihat jelas betapa takutnya dia, sampai-sampai wajahnya pucat seperti tak teraliri darah.
__ADS_1
"Udah kamu jangan takut, ada aku di sini, nanti aku akan beri perhitungan sama dia" Alica menenangkan Nofan yang pastinya takut.
Nofan belum ahli dengan mereka yang di sebut hantu, walau mereka berkawan sejak dulu tetapi Nofan tetap takut dengan apapun yang menyangkut makhluk tak kasat mata.