
Pak Anton berusaha untuk tetap tenang, ia tak mau terlihat sedih agar Viera tak semakin sedih.
"Saya titip anak saya sama bapak, hanya bapak satu-satunya orang yang tepat untuk menjaga anak ini, saya mohon pak jaga dia, saya gak akan bisa jagain dia" dengan air mata yang mengalir Viera memohon semoga pak Anton mau merawat anaknya yang jelas-jelas bukan darah dagingnya, Viera juga sadar kalau dia bukan siapa-siapa pak Anton.
"Saya pasti akan merawat anak itu dengan sebaik mungkin, saya akan anggap anak itu sebagai anak saya sendiri"
Viera tersenyum senang, ia lega meninggalkan anaknya, ia yakin pak Anton bisa menjaga putrinya dengan baik.
"Terima kasih pak, terima kasih sudah mau merawat anak saya" Viera sangat berterima kasih ada orang baik yang ingin merawat anaknya.
"Sama-sama, saya janji anak mu akan saya besarkan, dia akan tumbuh dengan baik, tidak akan saya biarkan ada orang jahat yang menyakitinya"
Viera tersenyum, ia sekarang tak khawatir lagi untuk meninggalkan sang buah hatinya sebab ada pak Anton yang akan menjaganya.
"Kemarikan anak itu, saya akan mengadzaninya"
Dengan senang hati Viera memberikan anaknya, pak Anton mulai mengumandangkan adzan tepat di telinga bayi mungil itu.
Viera tak kuasa menahan tangisnya, ia sungguh tak ingin berpisah dari putrinya, ia tau bagaimana hidup tanpa seorang ayah dan ibu, ia tidak mau putrinya mengalaminya juga.
Viera menatap ke arah bayinya, dalam lubuk hati yang paling dalam dia masih ingin hidup, ia ingin merawat putrinya hingga besar, namun takdir tak mengizinkan, ia tidak bisa apa-apa lagi.
"Nak maafin bunda, bunda harus pergi di saat kamu masih bayi, bunda sebenarnya ingin membesarkan kamu, tapi takdir mengambil bunda lebih cepat, harapan bunda semoga kamu bisa menjadi orang sukses di masa depan, bunda akan selalu doakan yang terbaik buat kamu" batin Viera menatap bayinya dengan air mata yang mengalir tanpa henti.
Pak Anton yang sudah selesai mengumandangkan adzan memberikan bayi itu kembali kepada Viera.
Viera mencium dan membelai lembut wajah putrinya untuk terakhir kalinya, karena ia tak tau besok akan bisa melihat dunia lagi atau tidak.
"Nak kamu tinggal sama pak Anton ya, kamu jangan nakal, bunda pergi dulu, kamu jadilah anak yang baik" air mata terus mengalir di wajah Viera saat mengatakan itu semua.
Pak Anton terus diam tanpa ekspresi, ia tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Viera sebelum kamu pergi, berikan anak itu nama, setidaknya kamu yang memberikannya nama" suruh pak Anton.
"Aku beri nama dia Alica, baguskan pak"
Pak Anton langsung terdiam, nama itu sama dengan nama bayi yang akan Sekar berikan pada anaknya, tetapi sayangnya anak itu tidak sampai lahir ke dunia ini.
Viera menatap ke arah pak Anton yang diam.
"Apa namanya gak bagus pak?"
"Bagus, namanya sangat bagus"
Viera tersenyum, ia terus menatap dan menciumi wajah putrinya.
Tubuh Viera semakin lama semakin terasa lemas, nafasnya berangsur-angsur menghilang, ia menatap ke arah pangeran William yang menangis hebat di sana, Viera hanya tersenyum menatap suaminya.
"Viera kamu jangan pergi, aku akan sama siapa kalau kamu pergi, aku mohon tetaplah di sini, aku gak mau kamu pergi, bagaimana nasib anak itu kalau gak ada kamu, dia butuh kamu, kita sudah punya rencana buat besarin dia bersama-sama, aku mohon kamu bertahanlah, sekaliiii saja" mohon pangeran William, wajahnya penuh dengan air mata saat melihat istrinya yang tampak pucat dan lemas.
Viera tak menjawab, dia menatap pangeran William dengan senyuman, pelan-pelan mata Viera terpejam kuat.
BAyi mungil itu menangis kejer, dia sepertinya tau kalau ibunya pergi untuk selamanya dari hidupnya.
Setetes air mata mengalir di pipi pak Anton saat Viera sudah tak lagi bernyawa, pak Anton dengan cepat langsung mengambil bayi itu, ia berusaha menenangkannya yang menangis kejer.
Pangeran William terduduk di bawah, ia menangis histeris di kamar ini, dia begitu hancur saat di tinggal pergi untuk selamanya sama Viera, namun tak ada satupun orang yang melihat ataupun mendengarnya.
"Viera jangan pergi, tetaplah di sini, aku mohon jangan pergi" histeris pangeran William.
Segala apa yang pangeran William takutkan selama ini kini menjadi kenyataan, mimpi buruknya terjadi, ia menangis dan terus memohon semoga Viera kembali membuka matanya.
"Viera saya janji saya akan rawat anak mu seperti anak saya sendiri, kamu tidak usah khawatir, saya akan menjamin kehidupannya" batin pak Anton menatap ke arah Viera yang terpejam kuat.
__ADS_1
Para suster masuk ke dalam kamar perawatan Viera untuk mengurus jenazah Viera yang kini sudah tidak bernyawa.
Pak Anton membawa Alica keluar dari dalam ruangan itu, ia berusaha menenangkannya yang terus menangis.
"Anton" teriakan itu membuat pak Anton menatapnya.
Mereka bertiga berlari mendekati pak Anton yang berdiri di depan ruangan perawatan Viera.
"Ini anaknya Viera, di mana ibunya, kenapa cuman anaknya saja" penasaran Karan ketika melihat pak Anton menggendong bayi mungil yang pastinya adalah anak Viera.
Pak Anton menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir.
"Ada apa Anton, apa yang sudah terjadi?" penasaran Karan, feelingnya tidak enak.
Pak Anton diam, ia berat mengatakan yang sebenarnya pada mereka.
Suster-suster mendorong jenazah Viera keluar dari dalam kamar perawatan itu, mereka akan memindahkannya ke kamar jenazah.
Pandangan mereka bertiga menatap kaget ke arah seseorang yang di dorong oleh suster, seluruh tubuhnya di tutupi kain berwarna putih.
"S-siapa dia, kenapa di bawa keluar, ini bukannya kamar perawatan Viera, mengapa ada jenazah yang di bawa keluar dari dalam!" dengan bertubi-tubi Karan bertanya pada pak Anton.
"Viera meninggal, dia pendarahan hebat, nyawanya tidak bisa di selamatkan"
Sontak mereka bertiga langsung diam, mereka mengerti mengapa pak Anton bersedih di hari di mana Viera melahirkan.
Wajah mereka langsung berubah menjadi datar, suster-suster terus mendorong jenazah Viera ke kamar mayat, pangeran William mengikuti mereka, ia menangis dan memohon agar Viera membuka kembali matanya.
Karan menatap ke arah bayi mungil itu yang harus kehilangan ibunya di hari di mana dia di lahirkan.
"Kasihan sekali anak ini, dia harus kehilangan ibunya, bagaimana dengan nasib anak ini setelah Viera gak ada" prihatin Karan.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir, Viera menitipkannya pada ku, aku akan merawat dan membesarkannya, aku akan berusaha untuk menjadi sosok ayah dan juga ibu baginya"
Karan tak lagi khawatir, pak Anton adalah orang yang sabar dan penyayang, dia yakin kalau anak itu akan hidup dengan baik jika pak Anton yang merawatnya.