
Sudah empat bulan Aisyah tinggal di Kalimantan, dan setiap hari Aisyah selalu membantu pekerjaan Bi Minah, walau pun Bi Minah sudah melarangnya.
"Non Aisyah tidak perlu membantu pekerjaan Bibi, nanti Tuan marah sama Bibi kalau melihat Non Aisyah bekerja," ujar Bi Minah.
"Tidak apa-apa Bi, Aisyah gak enak kalau hanya diam saja."
Sesaat kemudian, terdengar suara teriakan Mama Neti yang memanggil Nama Aisyah, karena Mama Neti akan bersikap baik kepada Aisyah hanya di depan Pak Burhan saja.
"Aisyah, Aisyah," teriak Mama Neti yang selalu memperlakukan Aisyah layaknya Pembantu.
"Iya Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aisyah.
"Kamu kalau nyuci itu yang bener, kamu lihat sendiri bajuku masih kotor. Sekarang kamu cuci lagi semua bajuku menggunakan tangan !!" teriak Mama Neti dengan melempar setumpuk baju di depan wajah Aisyah.
Aisyah memungut satu persatu baju Mama Neti tanpa mengeluh sedikit pun, meski pun terkadang Aisyah harus mengerjakan semuanya dengan menggendong Nala yang saat ini sedang aktif-aktifnya.
Ketika Aisyah sedang mencuci baju Bu Neti menggunakan tangannya, tiba-tiba Pak Burhan pulang lagi, karena handphone beliau ketinggalan.
Pak Burhan yang melihat Aisyah mencuci baju menggunakan tangannya pun langsung menghampiri Aisyah.
"Nak, apa yang sedang Aisyah lakukan? kenapa Aisyah mencuci baju, apalagi dengan menggunakan tangan juga sambil menggendong Nala?" tanya Pak Burhan.
Mama Neti yang melihat Pak Burhan berbicara kepada Aisyah sudah terlihat cemas karena takut kalau Aisyah akan mengadu, sampai akhirnya Mama Neti bersembunyi untuk menguping pembicaraan mereka.
"Aisyah gak ada kerjaan Yah, makanya Aisyah nyari baju kotor buat Aisyah cuci. Aisyah juga sudah terbiasa mencuci menggunakan tangan supaya cuciannya lebih bersih," jawab Aisyah.
"Ayah tau kalau Aisyah berbohong, pasti Ibu kan yang sudah menyuruh Aisyah melakukan semua ini?" tanya Pak Burhan.
"Bukan Yah, ini semua kemauan Aisyah sendiri, jadi Ayah tidak boleh berprasangka buruk kepada Ibu, selama ini Ibu selalu bersikap baik kepada Aisyah, dan Ibu tidak pernah menyuruh Aisyah untuk bekerja."
Mama Neti merasa tersentuh mendengar perkataan Aisyah, padahal selama ini Mama Neti selalu berprilaku buruk kepada Aisyah, tapi Aisyah masih berusaha menutupi perlakuan buruk Mama Neti.
Apa selama ini aku sudah salah menilai Aisyah? padahal aku selalu memperlakukan Aisyah dengan buruk, tapi Aisyah masih saja membelaku di depan Papa, ucap Mama Neti dalam hati.
__ADS_1
Mama Neti tiba-tiba merasakan sakit pada perut dan pinggangnya sehingga Mama Neti menjerit kesakitan. Aisyah dan Pak Burhan yang mendengar teriakan Mama Neti langsung saja menghampirinya.
"Mama kenapa?" tanya Pak Burhan.
"Pinggang sama perut Mama tiba-tiba sakit Pa," jawab Mama Neti dengan terus memegang perutnya, sampai akhirnya Mama Neti pingsan.
Aisyah memanggil Bi Minah dan Supir untuk membantu membawa Mama Neti ke Rumah Sakit, dan Aisyah menitipkan Nala yang saat ini sedang tidur kepada Bi Minah, karena Aisyah akan ikut mengantar Mama Neti ke Rumah Sakit.
"Bi, tolong jaga Nala ya, Aisyah sudah menyetok Asi di kulkas kalau Nala kehausan," ujar Aisyah, kemudian ikut berangkat ke Rumah Sakit untuk mengantar Mama Neti.
Aisyah kini memangku kepala Mama Neti di jok tengah, sedangkan Pak Burhan duduk di samping Supir dengan terus merasa gelisah.
"Ayah takut kalau Ibu kamu sampai kenapa-napa Nak," ucap Pak Burhan.
"Kita terus berdo'a saja Yah, semoga Ibu baik-baik saja," ujar Aisyah dengan terus mengelap keringat yang berada di dahi Mama Neti.
Sesampainya di Rumah Sakit, Mama Neti langsung dibawa ke Ruang IGD untuk mendapatkan penanganan medis, dan Aisyah langsung menuju bagian administrasi, karena Pak Burhan saat ini masih merasa gelisah sehingga pikirannya tidak fokus.
Setelah selesai mengurus administrasi, Aisyah kembali menghampiri Pak Burhan.
"Ayah titip Ibu ya Nak, Ayah mau mengurus administrasi Ibu dulu," ujar Pak Burhan.
"Administrasi Ibu sudah selesai Aisyah urus Yah, jadi Ayah jangan terlalu banyak pikiran."
"Makasih banyak ya Nak, Ayah tidak tau apa jadinya kalau tidak ada Aisyah," ujar Pak Burhan dengan memeluk tubuh Aisyah, karena Pak Burhan selalu merasa tenang jika Aisyah berada di sampingnya.
"Seharusnya Aisyah yang berterimakasih sama Ayah, karena Ayah sudah berbaik hati menganggap Aisyah sebagai Anak kandung Ayah sendiri."
Sesaat kemudian, Dokter ke luar dari ruang IGD, Aisyah dan Pak Burhan langsung saja menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Pak Burhan.
"Istri Anda mengalami gagal ginjal Tuan, dan beliau harus segera mendapatkan donor ginjal yang cocok," jawab Dokter.
__ADS_1
"Kalau begitu Dokter ambil ginjal saya saja," ujar Pak Burhan.
"Kita tidak bisa sembarangan melakukan semua itu, karena kita harus melakukan serangkaian pemeriksaan. Biasanya yang akan cocok adalah ginjal dari keluarga Pasien," jelas Dokter.
"Dok, kalau begitu Dokter coba cek ginjal saya apakah cocok atau tidak dengan Ibu," ujar Aisyah.
"Tidak Nak, Ayah tidak akan membiarkan Aisyah melakukan semua itu, Ayah tidak mau kalau Aisyah sampai kenapa-napa, apalagi saat ini Aisyah masih menyusui," ujar Pak Burhan.
"Dok apa ada cara lain untuk mengobati penyakit istri saya sebelum kita berhasil menemukan donor ginjal yang cocok?" tanya Pak Burhan.
"Kita harus rutin melakukan cuci darah selama dua minggu sekali Tuan," jawab Dokter.
"Kalau begitu saya mohon lakukan yang terbaik untuk kesembuhan istri saya," ujar Pak Burhan.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Pasien," ujar Dokter kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Aisyah dan Pak Burhan.
Mama Neti akhirnya dipindahkan ke kamar perawatan, karena saat ini Mama Neti sudah sadar dari pingsannya.
"Aisyah, maafin Ibu ya Nak," ucap Mama Neti dengan memegangi tangan Aisyah.
"Kenapa Ibu harus meminta maaf kepada Aisyah? selama ini Ibu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadap Aisyah, jadi Ibu tidak perlu meminta maaf."
"Kamu sungguh berhati mulia Nak, padahal selama ini Ibu sudah memperlakukan Aisyah seperti Pembantu."
"Apa maksud Mama? kenapa Mama tega melakukan semua itu kepada Aisyah?" tanya Pak Burhan.
"Sudah Yah, tidak apa-apa, Aisyah juga ikhlas melakukan semua pekerjaan rumah sekali pun Ibu tidak menyuruh Aisyah."
"Kamu memang Anak yang baik Nak, kedua orangtua kamu pasti bangga mempunyai Anak baik seperti Aisyah," ujar Pak Burhan.
"Aisyah tidak tau apakah Aisyah masih mempunyai orangtua atau tidak," ujar Aisyah tertunduk sedih.
"Aisyah jangan sedih ya, mulai sekarang Ibu akan selalu menyayangi Aisyah seperti Anak kandung Ibu sendiri," ujar Mama Neti dengan memeluk tubuh Aisyah.
__ADS_1
Kenapa perasaanku terasa tenang dan damai saat memeluk Aisyah, apa benar dugaan Papa kalau Aisyah adalah Anak kandung kami, ucap Mama Neti dalam hati, karena baru kali ini Mama Neti memeluk tubuh Aisyah.
"Makasih ya Bu, sekarang Aisyah memiliki Ayah dan Ibu, dan Aisyah sangat bahagia."