Cinta Terlarang

Cinta Terlarang
Menyimpan dendam kesumat pada Anna dan keluarganya


__ADS_3

Alica benar-benar kelewat kesal, Anna telah menipunya, menjebaknya kini Anna dengan teganya merusak nama baiknya dan juga Nofan.


"Sialan Anna itu, akan aku bikin dia menderita, liat aja apa yang akan aku lakuin. Aku akan pastikan semua orang menyesal gara-gara mereka udah percaya sama orang yang namanya Anna itu!" Omel Alica.


Amarah, dendam dan emosi terus meluap-luap.


Sepanjang perjalanan Alica mengomel gara-gara insiden tadi. Alica masuk ke dalam kantin, membeli makanan lalu kembali ke UKS.


Pintu UKS terbuka, Nofan menatap sahabatnya yang kembali dengan kantong plastik putih di tangannya.


Nofan mengurutkan alis."Kok wajah kamu masam, kenapa, apa yang udah terjadi sama kamu, apa ada orang yang jahatin kamu lagi?"


"Bukan, aku kayak gini gara-gara si Anna itu, dia gak ada kapok-kapoknya, udah nipu kita sekarang dia malah memutar balikkan fakta dan bikin nama kamu rusak. Aku gak terima fan, aku akan bikin perhitungan sama dia" janji Alica tak akan diam lagi.


Kesabarannya sudah habis, waktunya baginya untuk balas dendam dan membungkam mulut orang-orang.


"Udah lah ca, biarin aja, aku udah ikhlas kok" sahut Nofan tak semangat jika ingat itu lagi.


"Gak, pokoknya aku gak ikhlas, aku akan bikin dia perhitungan yang berat, dia kira dia siapa main hancurin apa yang udah kamu bangun selama ini dengan mudah. Liat aja apa yang akan aku lakukan" tekad Alica sudah bulat, dendamnya berkobar-kobar di matanya.


Hati Alica begitu sakit hati akibat fitnah keji yang di sebar luaskan oleh Anna.


Awalnya Alica begitu peduli dengan Anna, namun setelah melihat kelakuan Anna yang buruk melebihi bangkai, rasa pedulinya berubah menjadi rasa benci dan dendam.


"Kamu bawa apa, kamu bawa makanan gak, aku laper soalnya tadi belum sempat sarapan?" Nofan mengalihkan pembicaraan.


Nofan mumet mendengar nama Anna lagi, orang sepolos Anna membuatnya mendapatkan masalah besar.


"Aku beli makanan kesukaan kamu, kamu makan aja, aku lagi gak mood" jawab Alica.


Nofan tak banyak bicara, Nofan dapat melihat dengan jelas kemarahan di mata Alica, supaya tidak membuat emosi Alica makin meledak-ledak ia pun terpaksa diam.


Dengan tak berselera Nofan menyantap makanan itu, walau banyak masalah ia harus tetap makan, cukup hatinya saja yang sakit bukan tubuhnya.


"Ayo ca kita pulang, aku udah gak mood lagi berada di sini, aku malas dengar semuanya" ajak Nofan setelah selesai menghabiskan makanannya.


Alica mengangguk, mereka pun keluar dari dalam ruangan UKS.


Langkah mereka terpaksa terhenti saat melihat ada sekumpulan siswi yang seperti menunggu mereka di depan ruangan UKS.


"Kak Nofan, kak Nofan maafin kami, kami gak akan ulangi kesalahan kami lagi, asalkan kak Nofan jangan bawa masalah ini ke jalur hukum, tolong kak jangan lakuin itu" titah Eka kepikiran terus akan ancaman Nofan.


"Iya kak, kakak jangan bawa masalah itu ke jalur hukum, kita bisa selesain secara kekeluargaan, gak perlu bawa ke pihak berwajib" timpal Becca ikut ngeri dengan ancaman Nofan.


"Gak bisa, aku akan tetap bawa masalah ini ke jalur hukum, kalian udah keterlaluan, mungkin setelah masuk ke dalam jeruji besi kalian akan sadar kesalahan kalian!" Tolak Nofan.


Nofan tetap ngotot untuk melaporkan masalah itu ke jalur hukum, kesabarannya sudah habis berserta dengan gelar OSIS nya.


Mereka makin panik dan cemas, mata mereka berkaca-kaca, kali ini mereka benar-benar takut dengan ancaman Nofan.


Jika dulu Nofan memberi peringatan atau hukuman, mereka masih menganggap enteng dan tetap saja mengulangi kesalahan yang sama.


"Kak, kami mohon kasihanilah kami, pikirkan masa depan kami, masa depan kami akan hancur jika sampai kami masuk penjara" rayu Aurel dengan harapan hati Nofan bisa lunak.


Nofan tersenyum mengejek."Kasihan kalian bilang? Sekarang aku tanya, apa kalian kasihan sama orang yang udah kalian celakai, kalian lukai, kalian jahati?"


Serempak kepala mereka menunduk, dari pertanyaan barusan mereka mengartikan jika keputusan Nofan sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat.


"Tapi sekarang kalian datang dan minta belas kasihan, di mana hati nurani kalian saat kalian membuat orang lain menderita. Sekarang ini adalah balasan yang harus kalian terima!" Tegas Nofan tak akan mengurungkan niatnya untuk membawa kasus ini ke jalur yang lebih dalam lagi.


Mereka semua diam tak bergeming, puncak kemarahan Nofan sudah berada di level tertinggi.


"Ayo Alica kita pulang, tinggalkan mereka, biarkan mereka sadar kalau apa yang udah mereka lakukan selama ini merugikan orang lain" ajak Nofan tak merasakan iba sedikitpun.

__ADS_1


Alica lantas mengikuti Nofan dan meninggalkan mereka semua yang diam di tempat.


"Kak Nofan, kak Nofan tolong jangan lakuin itu, kak" teriak mereka berupaya keras untuk menghentikan niat Nofan.


Nofan tak menggubris, ia terus melangkah tanpa melirik ke arah mereka sama sekali. Amarah membuatnya buta dan tak peduli dengan perasaan orang lain. Orang lain saja tak peduli dengan perasaannya, untuk apa ia peduli dengan perasaan orang lain. Ia sudah muak di permainkan.


"Iiihh ini gimana, gimana kalau kak Nofan beneran akan penjarain kita" cemas Eka mengigit bibir bawah.


Pandangan Eka terus menatap punggung Nofan yang menjauh dan tak berhenti sama sekali meski mereka berusaha untuk membujuk Nofan.


"Udah, kamu tenang aja, palingan kak Nofan cuman gertak kita doang, dia emang gitu kan, jadi untuk apa kalian cemas!" Sahut Azizah enteng dan menganggap ancaman Nofan sebuah gertakan semata.


"Iya juga sih, sebelumnya kak Nofan gak pernah semarah ini, walaupun dia dulu pernah ngancen akan DO kita dari sekolahan ini, nyatanya apa, cuman omong kosong doang kan. Sama kayak hari ini, kak Nofan paling cuman ngancem aja, ngapain juga kita harus takut apalagi cemas" timpal Aurel ikut mengentengkan ancaman Nofan.


"Iya ya, kok kita oon sih, pake ngemis-ngemis segala, ujung-ujungnya cuman omong kosong" Eka menertawakan kebodohannya dan juga teman-temannya.


"Mending kita ke kantin aja, gak usah kejar kak Nofan lagi, dia gak akan mungkin lakuin itu" ajak Hesti.


Mereka pun setuju dan langsung menuju kantin, lalu mengesampingkan ancaman Nofan.


Nofan dan Alica pulang tanpa izin apalagi pamit sama guru, kekesalan mereka masih ada dan untuk saat ini cara yang tepat untuk mereka lakukan adalah menghindari orang-orang yang biasanya membuat hati mereka panas.


Dengan pikiran kacau Nofan membawa motor tanpa arah. Alica menjadi khawatir akan sahabatnya yang tak pernah sepatah hati ini sebelumnya.


"Fan kita akan kemana, kenapa kamu bawa kita ke sana, itu bukan jalan rumah kita" ucap Alica takut kemana Nofan akan membawanya pergi.


"Udah kamu diem aja, kamu tinggal liat aja apa yang bakal aku lakuin" sahut Nofan, pandangan fokus ke depan.


Alica pun diam, tak banyak bicara agar Nofan tak makin marah. Ia diam dan memperhatikan kanan dan kiri, Alica yakin tak mungkin Nofan membawanya ke tempat yang buruk atau berbahaya.


Saat motor masuk ke dalam sebuah gapura, Alica langsung mengenalinya, ia tau kemana Nofan akan membawanya pergi.


"Fan kenapa kita ke sini lagi, apa yang mau kamu lakuin?" Penasaran Alica panik, takut Nofan melakukan hal yang tidak-tidak.


Alica diam mengigit bibir bawah, pikirannya penuh dengan hal negatif, hati Nofan masih di selimuti amarah dan dendam, Alica makin khawatir jika Nofan melakukan sesuatu yang dapat membayangkan dirinya dan juga orang lain.


Motor terhenti di dekat pohon beringin besar, tatapan tajam Nofan menatap sebuah rumah sederhana yang begitu ia benci penghuninya.


"Fan apa yang mau kamu lakuin sebenarnya bilang sama aku, kamu jangan diam aja, aku butuh alasan kamu kenapa datang kemari. Jangan bilang kamu mau balas dendam sama Anna dengan mendatangi keluarganya" tebak Alica was-was.


Tatapan seram Nofan begitu tajam serta menakutkan, tatapan maut itu jatuh pada sebuah rumah yang di ketahui milik gadis bernama Anna.


Dari rumah itu Nofan mendapatkan kesialan yang tiada tanding hingga menyebabkan dirinya terjerat dalam masalah besar.


"Aku datang ke sini untuk balas kebusukkan mereka, aku gak terima saat mereka menipu, menjebak dan kini mengkambing hitamkan kita, aku akan balas perbuatan tak senonoh mereka. Mereka sudah merusak nama baik yang ku jaga dengan sebaik mungkin, kini aku akan bikin keluarga mereka hancur, sehancur-hancurnya" penuh penekanan Nofan masih menyimpan dendam kesumat pada keluarga Anna.


Bukannya tenang Alica malah makin panik, ia takut ketahuan serta takut jika masalah yang akan mereka hadapi makin besar.


"Apa yang mau kamu lakuin, kamu akan balas kebusukan keluarga mereka dari apa, gak mungkin kan kita labrak keluarga mereka karena itu juga akan percuma. Mereka pintar akting, mereka pintar memainkan peran dan membuat suasana makin runyam" ujar Alica tak bisa diam.


Aura panas yang di timbulkan oleh rumah Anna terasa di diri Alica walaupun jaraknya lumayan jauh.


"Kamu tunggu di sini, aku akan datang ke sana, aku akan bikin mereka ketar-ketir atas apa yang sudah mereka perbuat" perintah Nofan tak akan melibatkan Alica kali ini.


"T-tapi fan, gimana jika mereka tau kalau aku ada di sini?" Cemas Alica.


"Udah kamu jangan takut, ada aku di sini, mereka gak akan apa-apain kita, kalau mereka mau celakain kita, kita cuman tinggal teriak aja, orang-orang akan langsung datang dan bantu kita" timpal Nofan yakin jika mereka akan baik-baik saja.


Alica pun pasrah, ia membiarkan Nofan pergi sendiri dan melakukan apa yang dia mau.


Alica tak tau apa yang akan Nofan lakukan, di dekat pohon beringin Alica berdoa semoga tidak terjadi apapun yang tidak di inginkan.


Dengan cool Nofan melangkah mendekati rumah Anna, ketukan tak sabaran di layangkan oleh Nofan, Nofan bukan seperti orang yang mengetuk pintu tapi seperti orang yang ingin merobohkan rumah itu.

__ADS_1


"Iya sebentar" ucap seseorang lalu membuka pintu rumah.


Sontak orang itu terkejut melihat siapa yang datang, tubuhnya bergetar melihat pria bernama Nofan yang berdiri di depannya dengan wajah sangar.


"Halo kak, apa kakak masih ingat pada ku?" Senyuman sinis terukir di wajah tampan Nofan.


Orang itu mengangguk, bibirnya bergetar hebat, ia menjadi panik padahal Nofan tak melakukan apapun.


"Kakak kenapa, kok pucat, kakak gak punya darah ya, apa perlu aku sedot darah kakak biar kakak mati sama seperti adik tak berguna kakak itu!" Tanya Nofan mengepal kuat tangannya.


"Apa maksud mu, aku gak ngerti, dan ya kenapa kamu datang ke sini, di sini gak ada Anna, untuk apa lagi kamu ada di sini" terbata-bata kak Tara.


Kak Tara tau betul siapa Nofan dan apa yang sudah keluarganya perbuat pada Nofan, sehingga saat Nofan datang ke sana ia menjadi takut setengah mati.


"Seharusnya kakak tau dong kenapa saya datang kemari. Tidak perlu kan saya jelaskan lagi?"


Kak Tara makin ketar-ketir, posisinya di rumah ini hanya ada dia seorang, tak ada orang lain lagi yang bisa membuatnya merasa tenang walau sesaat.


"Aku gak ada waktu buat ladenin kamu, sekarang kamu pergi aja, jangan datang ke sini lagi" usir kak Tara.


Nofan yang geram langsung mencekik kuat leher kak Tara, kak Tara kesulitan untuk bernafas, ia berusaha untuk melepaskan cengkraman kuat tangan Nofan.


Alica yang melihat tindakan spontan Nofan menutup mulut tak percaya, kakinya melangkah mendekati mereka sebelum nigan mencelakai kak Tara.


"Tunggu, kamu jangan pergi, biarkan dia melakukan apa yang dia mau" cegah sosok wanita sebaya dengan Alica, wajahnya pucat pasi seperti tak teraliri darah.


"Bagaimana aku bisa biarkan itu semua terjadi, bagaimana kalau terjadi apa-apa sama kak Tara!" Ujar Alica.


Alica panik, namun sosok itu mencegah Alica buat menghampiri mereka. Alica memilih diam, jika dia mendekati mereka khawatir terjadi masalah yang lebih besar lagi.


Tujuan awal keluarga Anna adalah dirinya, tak mungkin ia menginjak kaki di hadapan mereka.


"Mereka tidak peduli kau hidup apa kau mati, mereka ingin membunuh mu mereka ingin menghancurkan mu, lantas mengapa kau masih peduli pada mereka saat mereka sudah melakukan banyak hal-hal keji pada mu" balas sosok itu.


Niat Alica langsung di hentikan, ia kembali ke tempat semula. Perbuatan keluarga Anna padanya begitu keji dan kelewat batas, kini biarkan Nofan balas dendam atas rasa sakit di hatinya.


"Lepas, lepaskan aku" titah kak Tara berusaha payah untuk melepaskan tangan Nofan.


"Tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan pernah melepaskan kau wahai siluman ular!" Teriak Nofan meluapkan kekesalannya pada kakak Anna yang juga bersekongkol untuk menjebaknya dan menghancurkan image-nya.


"Apa mau mu, apa yang ingin kamu lakukan?" Dengan susah payah kak Tara bertanya.


"Aku datang ke sini untuk memberi peringatan keras pada mu dan juga satu keluarga mu, aku tegaskan sekali lagi sama kalian, jangan pernah ganggu aku dan Alica. Aku mau bersihkan nama ku yang sudah di rusak habis-habisan oleh adik mu" jeda Nofan.


"Jika kau tak bisa mengembalikan nama baik ku, aku akan melakukan sesuatu yang lebih ekstrim lagi, tapi jangan salahkan aku jika salah satu anggota keluarga mu mati di tangan ku!" Tegas Nofan.


Tanpa aba-aba Nofan melepas cengkraman kuat tangannya, kak Tara batuk-batuk karena kehabisan nafas.


Lehernya merah, ia mengalami kesulitan untuk bernafas secara normal namun ia mendengar bait-bait kata yang keluar dari mulut Nofan.


"Dengar baik-baik, jika kau dan keluarga mu masih aja membuat masalah, aku tak segan-segan untuk menghabisi satu persatu keluarga kalian, kalian pikir aku takut, tidak, aku tidak takut sama sekali, aku bisa menghabisi mu hari ini juga dengan tangan ku sendiri" kecam Nofan.


Kak Tara tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia bergidik ngeri dengan ancaman Nofan, ia dan keluarganya salah mencari musuh.


"Awas aja kalau sampai adik mu membuat ulah lagi, akan aku bikin dukun yang menjadi backingan kalian mati!" Ancam Nofan.


Nofan yang geram langsung meninggalkan kak Tara, kemudian mendekati Alica yang menunggu di tempat yang ia perintahkan.


"Ayo kita pulang, mereka akan merenungkan kata-kata ku, aku yakin mereka pasti pikir panjang untuk melakukan niat jahat lagi" ajak Nofan.


Alica mengangguk, kak Tara yang di ancam tapi Alica yang merasa tercekik, wajahnya ikutan pucat, sungguh sahabatnya benar-benar berubah menjadi iblis.


Nofan tak peduli pada siapapun, emosi membuatnya agak gila hingga membuatnya melakukan tindakan yang benar-benar di luar nalar.

__ADS_1


__ADS_2