
"Makasih banyak, aku gak tau harus bilang apa lagi" ucap Anna sekali lagi.
"Santai aja, oh ya nanti habis pulang sekolah aku akan ke rumah kamu, aku akan coba selesain masalah kamu. Kamu nanti tunggu aku di parkiran ya" suruh Alica.
Kepala Anna mengangguk, Alica adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya terlepas dari dukun kejam yang terus menerus memburu anggota keluarganya.
"Iya, aku akan tunggu kamu di sana, aku akan bawa kamu ke rumah ku biar kamu bisa lihat langsung keadaan ibu aku yang mengkhawatirkan" setuju Anna.
"Oke, aku mau balik ke kelas dulu, nanti kita ketemu lagi" pamit Alica.
Anna hanya membalas dengan senyuman. Alica melangkah meninggalkan Anna yang diam di tempat dengan menatapi punggung Alica yang perlahan-lahan menjauh.
Alica dengan senang melanjutkan perjalanan menuju kelasnya yang tak seberapa jauh lagi.
"Nanti habis pulang sekolah aku akan ke rumah Anna, aku harus tolong keluarganya, aku gak boleh diam dan biarkan dukun jahat itu buat orang-orang gak berdosa mati karena kekejamannya" ujar Alica pelan.
Alica senang lantaran niat baiknya bisa di terima, terkadang Alica di tolak mentah-mentah saat membantu orang lain yang dalam bahaya. Hanya karena gengsi mereka mengusir dan memaki-maki Alica.
Kala sampai di kelas Alica langsung duduk di tempatnya dengan tenang.
...•••...
Bel berbunyi sebanyak tiga kali menandakan pelajaran telah usai.
Sorak gembira para siswa langsung terjadi, hanya suara itu yang membuat semangat mereka membara.
Satu persatu murid baik siswa maupun siswi keluar dari dalam kelas lalu pulang ke kediamannya masing-masing.
Gadis bermata biru bernama Alica dengan senyuman yang terus merekah di bibirnya berjalan menuju parkiran.
Langkah Alica tiba-tiba terhenti, senyuman yang tadinya menghiasi wajah cantiknya mendadak sirna. Alica mundur perlahan-lahan saat tak jauh dari posisinya berdiri terdapat seseorang yang sangat ia takuti.
__ADS_1
"Sial, makhluk hitam itu berada di sana, sepertinya dia memang sengaja nunggu aku. Aku harus cari jalan lain biar terlepas dari dia, dia gak boleh tau kalau aku mau bantu keluarga Anna" pelan Alica panik dan tegang di keramaian.
Alica perlahan-lahan terus mundur menjauhi tempat itu dengan sepelan mungkin biar makhluk hitam menakutkan itu tidak menyadarinya.
Setelah mulai menjauh Alica berlari mencari jalan alternatif lain untuk keluar dari sekolahan. Alica tidak bisa mengambil resiko berhadapan dengan makhluk hitam itu sebab hal itu akan menghambat rencananya.
Alica lewat belakang sekolah, meski lebih jauh tak apa yang penting dia bisa terlepas dari makhluk hitam tersebut.
"Huft-huft, akhirnya aku bisa terlepas juga dari makhluk hitam itu, kenapa sih dia pake hadang jalan aku segala, dia gak mikir apa kalau tubuhnya itu besar dan menghalangi jalan" gerutu Alica ngos-ngosan akibat melarikan diri dari makhluk hitam berbahaya itu.
"Anna, aku harus cari Anna, aku harus ketemukan dia sebelum dia pulang. Aku udah janji mau bantu dia, aku harus tepati janji ku" Alica panik kala ingat dengan Anna.
Alica melangkah menuju parkiran karena ia sudah berjanjian di sana dengan Anna.
Tiba-tiba seseorang menghentikan langkah Alica.
"Apa sih" pekik Alica menyingkirkan tangan orang itu yang mencekal kuat tangannya tanpa melihat siapa orang tersebut.
"Kamu, aku kira siapa. Kenapa kamu malah narik-narik tangan aku sih" sebal Alica.
"Ya maaf, kamu kemana aja, kenapa pulang sekolah malah gak nyamperin aku, aku cari di kelas gak ada, kamu pergi kemana?" Introgasi Nofan.
"Ada deh kamu gak perlu tau" respon Alica.
Alica tak bisa berterus terang kepada sahabatnya, lantaran khawatir sahabatnya melarangnya.
"Ayo kita pulang" ajak Nofan.
"Kamu pulang aja duluan aku ada urusan, nanti aku akan pulang, aku bisa pulang sendiri kok" suruh Alica.
Kali ini Alica tak ingin mengajak Nofan sebab Nofan pasti akan ember dan parahnya lagi dia bisa melarang Alica untuk tidak melakukan apa yang Alica mau.
__ADS_1
"Gak ada gak ada, ayo kita pulang, kamu jangan pulang sendiri, nanti ada apa-apa sama kamu, aku yang akan kena omel" larang Nofan.
"Fan plis kali ini aja biarin aku pulang sendiri, aku gak akan kenapa-napa kok, aku akan kasih tau ayah, biar ayah gak nyariin aku" mohon Alica supaya bisa mendapatkan kebebasan walau secuil dari sahabat yang ia anggap Abang itu.
"Kamu mau kemana sebenernya, urusan apa yang bikin kamu ngemis-ngemis agar aku gak bawa aku pulang?" Tanya Nofan amat penasaran.
Alica bingung, untuk menceritakan segalanya pada sahabatnya rasanya ia enggan.
"Kisah tau gak ya, gimana kalau nanti setelah dia tau dia malah akan larang aku dan teganya lagi dia akan kasih tau ayah. Aku akan kena amuk" batin Alica mencoba memikirkan sematang mungkin keputusan yang akan dia ambil.
"Udah kamu jujur aja, kalau kamu gak jujur aku akan kasih tau ayah kamu kalau kamu udah mulai nakal biar uang jajan kamu di potong" ancam Nofan.
Alica menggelengkan kepalanya mencoba menghentikan niat jahat Nofan.
"Jangan dong, jangan kasih tau apa-apa sama ayah, nanti aku akan di marahin sama ayah" titah Alica panik jika ancaman Alica membawa-bawa ayahnya.
"Kalau kamu gak mau ya udah sekarang kasih tau aku kamu mau kemana, aku mau dengar langsung dari mulut kamu" perintah Nofan dengan tegas dan serius.
"Sebenarnya tadi pas aku mau balik ke kelas aku ketemu sama Anna, dia yang tadi aku bilang di kantin itu, kamu masih ingat kan sana dia?" Memastikan Alica.
Nofan mengingat-ingat pembahasan mereka di kantin."Anna? Anna yang mana?"
Nofan lupa-lupa ingat sebab nama Anna begitu asing di telinganya.
"Owwwh Anna yang di ikuti sama makhluk hitam itu" ingat Nofan.
"Iya, benar banget, nama gadis yang di ikuti makhluk hitam itu Anna, aku tadi ketemu sama dia di koridor, aku sempat ngobrol singkat sama dia" jawab Alica.
"Ada apa dengan gadis bernama Anna itu, apa ini semua ada hubungannya dengan dia" curiga Nofan.
Alica mengangguk cepat."Tentu saja, ini semua ada sangkutannya dengannya. Fan sebenarnya itu aku mau nolongin dia, dia bisa begitu karena ada orang jahat, aku mau bantu dia dan juga keluarganya, mangkanya aku sekarang mau ke rumah dia buat nyelesain masalah yang dia hadapi"
__ADS_1
Alica tak punya pilihan lain selain berterus terang pada sahabatnya.